PSIKOLOGI INOVASI
ESAI 9 – UJIAN TENGAH SEMESTER
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Nama: Gunarti
NIM: 23310410118
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
MEI, 2026
Pendapat tentang penggunaan AI dan pembangunan karakter mahasiswa
Menurut
saya, AI sebenarnya membantu mahasiswa untuk mencari informasi lebih cepat dan
mempermudah belajar. Tetapi kalau semua tugas hanya mengandalkan AI, lama-lama
mahasiswa bisa jadi malas berpikir sendiri. Padahal sebagai mahasiswa, apalagi
calon sarjana psikologi, kita harus punya kemampuan berpikir kritis,
kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Kalau saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya akan
membuat tugas yang lebih banyak menggunakan pendapat pribadi, observasi,
diskusi, dan praktik langsung supaya mahasiswa tetap aktif berpikir. Menurut saya AI boleh digunakan, tetapi hanya sebagai alat bantu,
bukan untuk menggantikan usaha mahasiswa sepenuhnya.
Selain
itu, dosen juga harus menjadi motivator dan pembimbing bagi mahasiswa. Jika ada
mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, maka sanksi yang diberikan sebaiknya
bersifat mendidik, misalnya presentasi ulang, revisi tugas, atau membuat
refleksi pribadi. Dengan begitu mahasiswa tetap belajar bertanggung jawab
terhadap tugasnya sendiri.
Menurut saya, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi karakter mahasiswa juga harus tetap dijaga supaya menjadi pribadi yang kreatif, jujur, mandiri, dan mampu berkembang di masa depan.
Hubungan film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1–7
·
Kuliah
ke-1 Psikologi Inovasi
Bagian
film yang relevan adalah ketika ketiga anak miliarder dipaksa hidup hanya
dengan uang 50 dolar selama satu minggu. Mereka harus keluar dari zona nyaman
dan belajar menghadapi kondisi yang berbeda dari kehidupan biasanya.
Alasannya karena dalam Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa
manusia perlu berubah dan mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman maupun
situasi baru. Tantangan tersebut melatih
kreativitas dan inovasi mereka dalam bertahan hidup. Selain itu, situasi tersebut
juga menunjukkan pentingnya perubahan pola pikir agar individu tidak hanya
bergantung pada kenyamanan hidup yang dimiliki sebelumnya.
·
Kuliah
ke-2 Output Psikologi Inovasi
Bagian
film yang relevan adalah ketika masing-masing anak menunjukkan sikap, cara
berpikir, dan strategi yang berbeda selama menjalani tantangan.
Alasannya karena output Psikologi Inovasi bukan hanya
pengetahuan, tetapi juga sikap, keterampilan, kesiapan menghadapi perubahan,
dan keberanian mencoba hal baru. Dalam
film terlihat bahwa individu yang mampu berpikir kreatif dan tidak takut gagal
akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit dibanding individu yang pasif dan
hanya mengeluh.
·
Kuliah
ke-3 Pengangguran di Indonesia
Bagian
film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai memahami sulitnya mendapatkan
uang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Alasannya
karena materi kuliah membahas faktor internal dan eksternal penyebab
pengangguran. Film tersebut memperlihatkan bahwa seseorang harus memiliki
kemampuan beradaptasi, keterampilan, dan kemauan bekerja agar dapat bertahan
hidup. Jika individu hanya bergantung pada fasilitas keluarga tanpa kemampuan
diri, maka akan lebih sulit menghadapi dunia kerja nyata.
· Kuliah ke-4 Mengatasi Pengangguran dengan “Jual Diri”
Bagian
film yang relevan adalah ketika mereka mulai mencari cara untuk memenuhi
kebutuhan dengan kemampuan yang dimiliki.
Alasannya
karena dalam materi dijelaskan bahwa seseorang harus mampu melihat potensi diri
dan mengubah kemampuan atau hobi menjadi sesuatu yang bernilai. Film tersebut
menunjukkan bahwa kreativitas sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup, terutama
saat berada dalam keterbatasan ekonomi.
· Kuliah ke-5 Teori Keengganan untuk Berubah
Bagian
film yang relevan adalah ketika anak-anak awalnya merasa keberatan dan tidak
nyaman menjalani tantangan hidup sederhana.
Alasannya
karena manusia pada dasarnya sering enggan berubah, terutama ketika sudah
nyaman dengan keadaan sebelumnya. Namun, perubahan dapat terjadi ketika
individu dipaksa menghadapi situasi baru. Film tersebut menunjukkan proses
individu belajar menerima perubahan dan mencoba beradaptasi sedikit demi
sedikit.
· Kuliah ke-6 Kesediaan Berubah vs Kesibukan
Bagian
film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai menyadari bahwa mereka harus
mengubah pola hidup agar dapat bertahan selama tantangan berlangsung.
Alasannya
karena dalam materi dijelaskan bahwa perubahan perlu dilakukan meskipun
individu sedang sibuk atau berada dalam situasi yang tidak nyaman. Film
tersebut juga berkaitan dengan metode kaizen, yaitu perubahan kecil yang
dilakukan secara bertahap untuk mencapai hasil yang lebih baik.
· Kuliah ke-7 Back to the Future
Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai
membandingkan kehidupan nyaman mereka di masa lalu dengan kenyataan hidup
masyarakat biasa yang mereka alami sekarang.
Alasannya
karena materi Back to the Future membahas bagaimana pengalaman masa lalu
memengaruhi cara pandang individu terhadap masa depan. Film tersebut juga
berkaitan dengan analisis SWOT dan Johari Window, karena individu mulai
mengenali kelemahan, kekuatan, dan kemampuan dirinya setelah menghadapi
pengalaman baru. Selain itu, terdapat optimistic bias dan self-serving bias
ketika individu merasa hidup mudah karena sebelumnya selalu bergantung pada
fasilitas keluarga.
0 komentar:
Posting Komentar