28.5.26

Esai 9 - Ujian Tengah Semester Psikologi Inovasi

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 9 – UJIAN TENGAH SEMESTER

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

MEI, 2026

Pendapat tentang penggunaan AI dan pembangunan karakter mahasiswa

Menurut saya, AI sebenarnya membantu mahasiswa untuk mencari informasi lebih cepat dan mempermudah belajar. Tetapi kalau semua tugas hanya mengandalkan AI, lama-lama mahasiswa bisa jadi malas berpikir sendiri. Padahal sebagai mahasiswa, apalagi calon sarjana psikologi, kita harus punya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Kalau saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya akan membuat tugas yang lebih banyak menggunakan pendapat pribadi, observasi, diskusi, dan praktik langsung supaya mahasiswa tetap aktif berpikir. Menurut saya AI boleh digunakan, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan untuk menggantikan usaha mahasiswa sepenuhnya.

Selain itu, dosen juga harus menjadi motivator dan pembimbing bagi mahasiswa. Jika ada mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, maka sanksi yang diberikan sebaiknya bersifat mendidik, misalnya presentasi ulang, revisi tugas, atau membuat refleksi pribadi. Dengan begitu mahasiswa tetap belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya sendiri.

Menurut saya, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi karakter mahasiswa juga harus tetap dijaga supaya menjadi pribadi yang kreatif, jujur, mandiri, dan mampu berkembang di masa depan.

Hubungan film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1–7

·       Kuliah ke-1 Psikologi Inovasi

Bagian film yang relevan adalah ketika ketiga anak miliarder dipaksa hidup hanya dengan uang 50 dolar selama satu minggu. Mereka harus keluar dari zona nyaman dan belajar menghadapi kondisi yang berbeda dari kehidupan biasanya.

Alasannya karena dalam Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa manusia perlu berubah dan mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman maupun situasi baru. Tantangan tersebut melatih kreativitas dan inovasi mereka dalam bertahan hidup. Selain itu, situasi tersebut juga menunjukkan pentingnya perubahan pola pikir agar individu tidak hanya bergantung pada kenyamanan hidup yang dimiliki sebelumnya.

·       Kuliah ke-2 Output Psikologi Inovasi

Bagian film yang relevan adalah ketika masing-masing anak menunjukkan sikap, cara berpikir, dan strategi yang berbeda selama menjalani tantangan.

Alasannya karena output Psikologi Inovasi bukan hanya pengetahuan, tetapi juga sikap, keterampilan, kesiapan menghadapi perubahan, dan keberanian mencoba hal baru. Dalam film terlihat bahwa individu yang mampu berpikir kreatif dan tidak takut gagal akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit dibanding individu yang pasif dan hanya mengeluh.

·       Kuliah ke-3 Pengangguran di Indonesia

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai memahami sulitnya mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Alasannya karena materi kuliah membahas faktor internal dan eksternal penyebab pengangguran. Film tersebut memperlihatkan bahwa seseorang harus memiliki kemampuan beradaptasi, keterampilan, dan kemauan bekerja agar dapat bertahan hidup. Jika individu hanya bergantung pada fasilitas keluarga tanpa kemampuan diri, maka akan lebih sulit menghadapi dunia kerja nyata.

·       Kuliah ke-4 Mengatasi Pengangguran dengan “Jual Diri”

Bagian film yang relevan adalah ketika mereka mulai mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dengan kemampuan yang dimiliki.

Alasannya karena dalam materi dijelaskan bahwa seseorang harus mampu melihat potensi diri dan mengubah kemampuan atau hobi menjadi sesuatu yang bernilai. Film tersebut menunjukkan bahwa kreativitas sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup, terutama saat berada dalam keterbatasan ekonomi.

·       Kuliah ke-5 Teori Keengganan untuk Berubah

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak awalnya merasa keberatan dan tidak nyaman menjalani tantangan hidup sederhana.

Alasannya karena manusia pada dasarnya sering enggan berubah, terutama ketika sudah nyaman dengan keadaan sebelumnya. Namun, perubahan dapat terjadi ketika individu dipaksa menghadapi situasi baru. Film tersebut menunjukkan proses individu belajar menerima perubahan dan mencoba beradaptasi sedikit demi sedikit.

·       Kuliah ke-6 Kesediaan Berubah vs Kesibukan

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai menyadari bahwa mereka harus mengubah pola hidup agar dapat bertahan selama tantangan berlangsung.

Alasannya karena dalam materi dijelaskan bahwa perubahan perlu dilakukan meskipun individu sedang sibuk atau berada dalam situasi yang tidak nyaman. Film tersebut juga berkaitan dengan metode kaizen, yaitu perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap untuk mencapai hasil yang lebih baik.

·       Kuliah ke-7 Back to the Future

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai membandingkan kehidupan nyaman mereka di masa lalu dengan kenyataan hidup masyarakat biasa yang mereka alami sekarang.

Alasannya karena materi Back to the Future membahas bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara pandang individu terhadap masa depan. Film tersebut juga berkaitan dengan analisis SWOT dan Johari Window, karena individu mulai mengenali kelemahan, kekuatan, dan kemampuan dirinya setelah menghadapi pengalaman baru. Selain itu, terdapat optimistic bias dan self-serving bias ketika individu merasa hidup mudah karena sebelumnya selalu bergantung pada fasilitas keluarga.

0 komentar:

Posting Komentar