Di era teknologi yang semakin berkembang dan melaju pesat, muncul dilema besar. Teknologi yang diharapkan dapat membantu memberikan kemudahan, seringkali disalah gunakan hingga membuat individu justru bergantung pada kecanggihannya. Sehingga muncul kreatifitas untuk menggunakan teknologi khususnya AI sebagai media instan dalam mengerjakan segala sesuatu. Padahal, tanpa disadari hal tersebut membuat kita sebagai manusia khususnya mahasiswa menjadi individu yang kurang memiliki pemikiran yang kritis. Teknologi sebaiknya dapat membantu proses berpikir, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual manusia. Ketergantungan berlebihan membuat mahasiswa terbiasa mencari jawaban instan tanpa benar-benar memahami proses berpikirnya, sehingga kurang melatih kemampuan analisis, dan daya kritis dalam berpikir. Selain itu, ketergantungan pada AI dapat menurunkan tingkat kejujuran akademik mahasiswa, pasalnya fokus mereka hanya tertuju pada hasil akhir bukan pada proses belajar.
Menurut saya apabila dihadapkan pada kondisi sebagai dosen dengan kondisi era teknologi yang berkembang pesat. Karena teknologi tidak dapat dicegah perkembangannya, sehingga saya akan beradaptasi, berpikir lebih kreatif dalam mengajar dan memberikan tugas. Misalnya, dengan memberikan tugas yang diarahkan pada pengalaman pribadi, observasi lapangan, diskusi kelompok, studi kasus sehingga mahasiswa tetap menggunakan pemikiran serta refleksi diri sendiri. Mengajarkan cara menggunakan AI dengan bijak. Supaya ada batasan yang jelas dan terarah, bagaimana menggunakan AI dan sebatas apa. Dengan demikian mahasiswa dapat memahami bahwa AI digunakan sebagai alat bantu bukan menggantikan proses memahami dan berpikir kritis. Jika diperlukan dapat memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misal dengan membuat tulisan reflektif tentang kesalahan yang dilakukan.
Pendidikan karakter di era perkembangan teknologi khususnya AI bukan melarang penggunaan teknologi tetapi membimbing individu khususnya mahasiswa agar tetap memiliki kesadaran, empati, kreativitas, dan moralitas. Sebagai dosen, saya mengambil peran bukan hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan, tetapi ingin menuntun pada nilai dan pembentukan karakter dengan menekankan bahwa teknologi dapat membantu setiap kita untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, namun yang dapat menentukan kebijaksanaan sebagai manusia adalah karakter.
Hubungan Film "Billionaire Sons" dengan Materi Perkulihan Psikologi Inovasi
Materi Pertemuan ke-1 Zona nyaman, perubahan, adaptasi
Bagian film yang relevan adalah ketika ketiga anak miliarder dipaksa hidup hanya dengan uang sangat terbatas dan keluar dari zona nyaman mereka.
Alasannya: Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan individu harus berani berubah serta keluar dari zona nyaman. Dalam film ini menunjukkan bahwa situasi sulit memaksa seseorang menjadi lebih kreatif, berpikir kritis, dan menemukan cara bertahan hidup.
Materi Pertemuan ke-2 Cara Menghadapi Tekanan & Karakter Individu
Bagian film yang relevan adalah ketika masing-masing anak memiliki cara berbeda dalam menggunakan uang dan menghadapi tekanan hidup.
Alasannya: Hal ini berhubungan dengan cara individu memandang masalah dan mengambil keputusan. Ada yang mudah menyerah, ada yang mencoba mencari peluang baru. Situasi sulit memperlihatkan karakter asli dan kemampuan adaptasi seseorang.
Maateri Pertemuan ke-3 Relasi Sosial & Belajar dari Lingkungan
Bagian film yang relevan adalah saat salah satu anak mulai belajar membangun relasi dengan orang lain dan tidak hanya bergantung pada kekayaan keluarganya.
Alasannya: Perubahan diri tidak hanya soal kemampuan pribadi, tetapi juga kemampuan membangun relasi sosial dan belajar dari lingkungan. Ketika seseorang mau terbuka dan rendah hati, proses perubahan menjadi lebih mudah.
Materi Pertemuan ke-4 Entrepreneurship & melihat peluang
Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh yang bertahan hidup mulai melihat peluang kecil untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Alasannya: Peluang sering muncul dalam situasi sulit. Individu yang inovatif tidak hanya mengeluh, tetapi mencoba menciptakan solusi dan memanfaatkan kesempatan kecil menjadi sesuatu yang bernilai.
Materi Pertemuan ke-5 Job-career-calling
Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh utama mulai memahami bahwa bekerja bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang tanggung jawab dan makna hidup.
Alasannya: Dalam film terlihat perubahan cara pandang dari hidup nyaman menjadi lebih menghargai proses kerja dan perjuangan orang lain.
Materi Pertemuan ke-6 Resiliensi & Ketekunan
Bagian film yang relevan adalah ketika salah satu anak tetap mencoba bertahan meskipun gagal dan mengalami kesulitan berulang kali.
Alasannya: Perubahan dan keberhasilan membutuhkan ketekunan, resiliensi, dan kesediaan berubah. Tokoh dalam film belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses jatuh bangun.
Materi Pertemuan ke-7 Self-serving bias & refleksi diri
Bagian film yang relevan adalah ketika karakter mulai menyadari kelemahan dirinya sendiri dan berhenti menyalahkan keadaan.
Alasannya: Hal ini berkaitan dengan optimistic bias, self-serving bias, dan kesadaran diri. Dalam psikologi inovasi, individu yang berkembang adalah individu yang mampu refleksi diri dan berani memperbaiki dirinya, bukan hanya menyalahkan lingkungan.
0 komentar:
Posting Komentar