Nama Mahasiswa :
Arisyahdan J Hi A Rahim
NIM : 22310420199
Mata Kuliah :
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu :
Dr. Arundati Shinta M.A.
Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
Waktu Terbit Esai
: 29 Mei 2026
Pendahuluan
Perkembangan Artificial Intelligence, AI telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Kehadiran AI memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa, seperti membantu mencari referensi, menyusun informasi, menerjemahkan bahasa, hingga mendukung proses pembelajaran secara cepat dan efisien. Teknologi ini pada dasarnya dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, penggunaan AI yang tidak terkontrol juga menimbulkan tantangan serius terhadap perkembangan karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta integritas akademik mahasiswa. Fenomena yang mulai terlihat saat ini adalah meningkatnya ketergantungan mahasiswa terhadap AI dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Tidak sedikit mahasiswa yang menggunakan AI untuk membuat makalah, menjawab soal ujian, hingga menyusun tugas tanpa memahami isi maupun proses berpikir di dalamnya. Akibatnya, mahasiswa menjadi terbiasa menerima jawaban secara instan tanpa melalui proses analisis, refleksi, dan evaluasi secara mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kemampuan kognitif mahasiswa karena mereka tidak lagi terbiasa berpikir secara mandiri dan kritis, selain menurunkan kualitas intelektual, ketergantungan terhadap AI juga berpotensi menurunkan karakter mahasiswa, terutama dalam aspek kejujuran akademik, tanggung jawab, disiplin, dan etika belajar. Mahasiswa dapat terjebak pada budaya instan yang hanya berorientasi pada hasil akhir dan nilai akademik, bukan pada proses pembelajaran itu sendiri. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa akan kehilangan kemampuan untuk memecahkan masalah, berinovasi, serta mengambil keputusan secara bijaksana di tengah perkembangan teknologi yang semakin kompleks.Permasalahan tersebut sejalan dengan pentingnya penguatan pendidikan karakter sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Dalam Pasal 8 Ayat 2 dijelaskan bahwa seorang pemimpin pendidikan harus mampu berperan sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang bersifat mendidik. Nilai nilai tersebut tidak hanya relevan diterapkan di sekolah, tetapi juga sangat penting diterapkan dalam lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mata kuliah Psikologi Inovasi yang menekankan pengembangan pola pikir kreatif, kritis, dan berkarakter.
Permasalahan Era AI Didalam Dunia Perkuliahan Moderen
Salah satu permasalahan utama di era AI adalah munculnya ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi tersebut. Banyak mahasiswa cenderung menggunakan AI sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas tanpa berusaha memahami materi secara mendalam. Kebiasaan ini membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir, menganalisis persoalan, dan membangun argumentasi secara mandiri, mermasalahan berikutnya adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa yang terlalu sering menerima jawaban instan dari AI cenderung kurang terbiasa mempertanyakan kebenaran informasi maupun mengevaluasi suatu pendapat secara objektif. Padahal kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan kehidupan dan dunia kerja Selain itu, penggunaan AI tanpa pengawasan juga dapat memicu menurunnya integritas akademik. Bentuknya dapat berupa plagiarisme, manipulasi tugas, hingga ketidakjujuran saat ujian. Dalam situasi ini, mahasiswa lebih fokus mengejar nilai daripada memahami proses belajar. Akibatnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya sebagai sarana pembentukan karakter dan pengembangan potensi manusia. AI juga berpotensi menghambat kreativitas dan inovasi mahasiswa. Meskipun AI mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, hasil yang diberikan umumnya bersifat umum dan standar. Jika mahasiswa hanya bergantung pada AI, maka kemampuan mereka dalam menciptakan ide baru, menemukan solusi unik, dan mengembangkan inovasi akan semakin melemah di sisi lain, dosen juga menghadapi kesulitan dalam melakukan penilaian secara objektif. Dosen menjadi sulit membedakan mana hasil pemikiran asli mahasiswa dan mana yang sepenuhnya dibuat oleh AI. Hal ini menyebabkan proses evaluasi pembelajaran menjadi kurang maksimal dan dapat mengurangi kualitas pendidikan di perguruan tinggi.
Solusi Serta Tindakan Sebagai Dosen Psikologi Inovasi
Sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan melarang penggunaan AI secara mutlak, karena teknologi merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. Namun, saya akan mengarahkan mahasiswa agar mampu menggunakan AI secara bijak, etis, dan bertanggung jawab, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah menanamkan pendidikan karakter sejak awal perkuliahan. Mahasiswa harus memahami bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya memperoleh nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter yang kuat, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kemampuan berpikir kritis. Saya akan menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan. Selanjutnya, saya akan mengubah sistem tugas menjadi lebih berbasis analisis, refleksi, dan pengalaman nyata. Tugas yang diberikan tidak hanya berupa teori, tetapi juga studi kasus, observasi lapangan, diskusi kelompok, serta refleksi pengalaman pribadi. Dengan metode tersebut, mahasiswa akan terdorong untuk berpikir secara mendalam, menyampaikan pendapat asli, dan menghubungkan teori dengan realitas kehidupan.
Saya juga akan mengajarkan literasi AI dan etika penggunaannya. Mahasiswa perlu memahami bahwa AI tidak selalu memberikan informasi yang benar dan tetap harus dikaji secara kritis. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu memverifikasi informasi, mencantumkan penggunaan AI secara jujur, serta bertanggung jawab terhadap hasil tugas yang di bagikan, selain sebagai pengajar, dosen juga harus menjadi motivator dan teladan bagi mahasiswa. Saya akan menciptakan suasana pembelajaran yang terbuka, aktif, dan menghargai proses belajar mahasiswa. Sikap dosen yang jujur, disiplin, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi akan menjadi contoh nyata bagi mahasiswa dalam membangun karakter positif, untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, saya akan menerapkan metode pembelajaran aktif seperti diskusi ilmiah, debat akademik, problem basedd learning, dan project based learning. Metode ini akan melatih mahasiswa untuk berpikir logis, berarrgumentasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah secara kreatif apabila terdapat mahasiswa yang terbukti menyalahgunakan AI atau melakukan plagiarisme, maka saya akan memberikan sanksi yang bersifat mendidik, bukan sekadar hukuman misalnya dengan mengulang tugas menggunakan analisis pribadi, membuat refleksi tentang pentingnya integritas akademik, atau mempresentasikan kembali hasil tugas di depan kelas. Tujuan utama sanksi tersebut adalah membangun kesadaran dan tanggung jawab moral mahasiswa selain itu, saya juga akan menerapkan sistem penilaian berbasis proses. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga mencakup keaktifan diskusi, proses revisi, kemampuan menjelaskan ide, serta perkembangan pemikiran mahasiswa selama perkuliahan berlangsung dengan demikian, mahasiswa akan lebih menghargai proses belajar dibanding hanya mengejar hasil instan.
Kesimpulan
Diera Artificial Intelligence AI, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membangun manusia yang memiliki karakter kuat, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas moral. AI dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Namun, jika digunakan tanpa kontrol dan tanggung jawab, AI justru dapat melemahkan kemampuan intelektual dan karakter mahasiswa, sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya harus mampu berperan sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang mendidik sesuai dengan nilai nilai dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018. Melalui pendekatan pendidikan karakter, pembelajaran aktif, literasi AI, serta evaluasi berbasis proses, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga jujur, bertanggung jawab, kreatif, dan mampu berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan teknologi di masa yang akan datang.
ANALISIS
FILM “BILLIONAIRE TOLD HIS 3 SONS TO LIVE ON $50 FOR A WEEK” DALAM PERSPEKTIF
PSIKOLOGI INOVASI DAN MOTIVASI
Pendahuluan
Perubahan zaman menuntut manusia untuk mampu beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan kehidupan, persaingan kerja yang semakin ketat tingginya angka pengangguran, dan perubahan sosial akibat perkembangan teknologi membuat seseorang tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal dan dibutuhkan kreativitas, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kesiapan untuk berubah agar mampu bertahan hidup. Film Billionaire TOLD HIS 3 SONS TO LIVE ON $50 FOR A WEEK. ONLY ONE SURVIVED. HERE'S WHAT HE DID WITH IT. Menggambarkan kondisi tersebut melalui tantangan yang diberikan seorang ayah kaya kepada ketiga anaknya. Mereka diminta hidup hanya dengan uang 50 dolar selama satu minggu tanpa bantuan fasilitas keluarga. Tantangan ini bertujuan untuk melihat siapa yang benar-benar mampu bertahan hidup, berpikir kreatif, dan memahami nilai perjuangan. Dari film ini dapat dipahami bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya berasal dari kekayaan keluarga, tetapi dari kemampuan berpikir inovatif, motivasi yang kuat, serta kesiapan menghadapi perubahan hidup.
Pengertian
Psikologi Inovasi
Psikologi inovasi adalah cabang psikologi yang mempelajari bagaimana seseorang menciptakan ide baru, memecahkan masalah secara kreatif, serta beradaptasi terhadap perubahan. Inovasi lahir ketika seseorang menghadapi tekanan atau keterbatasan, lalu menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menemukan solusi baru dalam film tersebut, ketiga anak miliarder memiliki reaksi yang berbeda ketika hanya diberi uang 50 dolar. Dua anak lainnya cenderung bergantung pada kenyamanan hidup sebelumnya sehingga mengalami kesulitan besar. Sementara itu, satu anak mampu menggunakan keterbatasan tersebut sebagai peluang untuk berpikir kreatif dan menghasilkan cara bertahan hidup yang efektif hal ini menunjukkan bahwa inovasi sering muncul dari kondisi sulit. Orang yang terbiasa nyaman cenderung sulit beradaptasi, sedangkan orang yang mau berpikir terbuka akan menemukan peluang bahkan dalam keterbatasan.
Output
Psikologi Motivasi
Psikologi motivasi membahas
dorongan internal maupun eksternal yang membuat seseorang bertindak untuk
mencapai tujuan tertentu. Motivasi menghasilkan beberapa output penting, yaitu:
Semangat kerja, Ketekunan, Kreativitas, Daya tahan menghadapi masalah, Kepercayaan
diri, dan didalam film ini terlihat jelas bahwa anak yang berhasil bertahan
memiliki motivasi yang lebih kuat dibanding saudaranya. Ia tidak hanya fokus pada
kesulitan, tetapi mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Motivasi
membuatnya tetap berpikir positif dan tidak menyerah meskipun kondisi ekonomi
sangat terbatas sebaliknya, saudara yang lain lebih mudah menyerah karena
terlalu terbiasa hidup nyaman. Mereka kehilangan motivasi ketika menghadapi
kesulitan nyata. Hal ini membuktikan bahwa motivasi memiliki pengaruh besar
terhadap keberhasilan seseorang dalam kehidupan.
Pengangguran
di Indonesia
Masalah
pengangguran diindonesia menjadi isu sosial yang terus berkembang, banyak
lulusan sekolah maupun perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan karena
kurangnya lapangan kerja dan tingginya persaingan. Selain itu,
sebagian masyarakat masih memiliki pola pikir menunggu pekerjaan daripada
menciptakan peluang sendiri. Film ini memiliki hubungan kuat dengan kondisi
pengangguran di Indonesia. Banyak orang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi
takut memulai karena terbiasa berada di zona nyaman. Ketika menghadapi
kesulitan ekonomi, sebagian memilih menyerah daripada mencari solusi kreatif, padahal
dunia kerja saat ini membutuhkan individu yang fleksibel, kreatif, dan mampu
beradaptasi. Orang yang mampu memanfaatkan keterampilan dan peluang kecil
justru memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil dibanding mereka yang
hanya bergantung pada status atau pendidikan formal.
Mengatasi
Pengangguran dengan Menjual Diri
Istilah (menjual diri) dalam
konteks positif berarti kemampuan mempromosikan keterampilan, potensi, dan
nilai diri kepada orang lain. Dalam
dunia modern, kemampuan ini dikenal sebagai self branding pada diri. Anak yang
berhasil dalam film menunjukkan kemampuan menjual dirinya melalui kerja keras,
komunikasi, kreativitas, dan keberanian mengambil peluang. Ia
tidak malu melakukan pekerjaan sederhana demi bertahan hidup. Sikap ini sangat
penting dalam menghadapi persaingan kerja saat ini. Diindonesia, banyak orang
memiliki kemampuan tetapi tidak mampu menunjukkan potensinya kepada orang lain akibatnya, peluang kerja menjadi sulit diperoleh. Oleh karena itu, seseorang
perlu mengembangkan. Kemampuan komunikasi, keterampilan digital, kreativitas, etos
kerja, dan rasa percaya diri, dengan kemampuan ini, seseorang dapat menciptakan
peluang kerja sendiri tanpa selalu bergantung pada perusahaan besar.
Teori Keengganan untuk Berubah
Teori keengganan untuk berubah menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya cenderung mempertahankan kenyamanan dan takut menghadapi hal baru. Perubahan sering dianggap menakutkan karena mengandung risiko dan ketidakpastian, dalam film ini, dua anak miliarder menunjukkan sikap enggan berubah. Mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan sederhana karena sebelumnya terbiasa hidup mewah. Ketika kenyamanan hilang, mereka mengalami tekanan mental dan kehilangan arah, sebaliknya, anak yang berhasil memiliki pola pikir terbuka terhadap perubahan. Ia menerima kenyataan, beradaptasi dengan cepat, dan mencari solusi praktis. Sikap ini menunjukkan bahwa kemampuan menerima perubahan merupakan salah satu kunci keberhasilan hidup.
Kesediaan
Berubah vs Kesibukan Bekerja atau Belajar
Banyak orang merasa sibuk bekerja atau belajar, tetapi sebenarnya tidak mengalami perkembangan diri. Kesibukan tidak selalu berarti kemajuan. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk berubah dan memperbaiki diri film ini menunjukkan bahwa seseorang yang bersedia belajar dari kesulitan akan berkembang lebih cepat dibanding orang yang hanya mengandalkan rutinitas. Anak yang berhasil tidak hanya bekerja keras, tetapi juga mengubah cara berpikirnya sesuai situasi yang dihadapi dalam kehidupan nyata, banyak mahasiswa dan pekerja terlalu fokus pada rutinitas tanpa meningkatkan kemampuan diri. Akibatnya, mereka tertinggal ketika menghadapi perubahan zaman. Oleh karena itu, perubahan pola pikir harus dilakukan terlebih dahulu sebelum seseorang dapat berkembang secara maksimal.
Kesimpulan
Film
Billionaire
Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week, memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan tidak
ditentukan oleh kekayaan, melainkan kemampuan menghadapi tantangan hidup. Film
ini berkaitan erat dengan psikologi inovasi, motivasi, pengangguran, kemampuan
menjual diri, serta kesiapan menghadapi perubahan, seseorang yang memiliki
motivasi kuat, kreativitas, dan keberanian keluar dari zona nyaman akan lebih
mudah bertahan dalam kehidupan modern. Sebaliknya, orang yang takut berubah
akan kesulitan menghadapi persaingan dunia kerja dan perubahan sosial, melalui
film ini dapat dipahami bahwa pendidikan terbaik bukan hanya berasal dari
teori, tetapi dari pengalaman hidup yang melatih mental, kreativitas, dan
kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, generasi muda Indonesia perlu membangun
pola pikir inovatif, mandiri, dan siap berubah agar mampu menghadapi tantangan
masa depan.
Daftar Pustaka
Aoun, J.
E. (2017). Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial
Intelligence. MIT Press.
Kemendikbud
RI. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan
Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.
Lickona,
T. (2013). Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi
Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.
Paul, R.,
& Elder, L. (2019). Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your
Learning and Your Life. Foundation for Critical Thinking.
Suyanto.
(2010). Urgensi Pendidikan Karakter. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional.
Wibowo, A. (2017). Pendidikan Karakter di Perguruan
Tinggi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week https://www.youtube.com/watch?v=v76lKvx0O7E

0 komentar:
Posting Komentar