25.4.26

Essai 4 - My Best Coping Behavior

 

My Best Coping Behavior

Dari Toxic Relationship Menjadi Pertumbuhan Diri

Essai-4




Rahma Nur Al Amina
23310410066



Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A

2026

Pada bulan Agustus 2023, saya mengalami peristiwa yang menyakitkan, yaitu berada dalam hubungan yang tidak sehat. Pasangan saya cenderung pasif, tidak memiliki pendirian, dan tidak mampu berperan sebagai partner yang setara. Oleh karena itu, saya menjadi lebih dominan dalam hampir semua aspek hubungan. Namun setelah saya menjadi dominan, bukan berarti masalah tersebut teratasi, malahan saya sering diabaikan, aspek relationship tidak terpenuhi, tidak ada komunikasi yang baik, dan tidak dihargai. Situasi ini malah divalidasi oleh dukungan keluarganya terhadap perilaku tersebut. Hal ini memicu stres berat. Meskipun karier saya terbilang stabil, namun saya tetap merasa kelelahan secara emosional dan mengalami kebingungan dalam memilih coping behavior yang tepat.

Pada fase awal, saya menggunakan avoidance coping, yaitu mengalihkan diri dengan bekerja lebih keras, memilih untuk ke luar pulau, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, cara ini ternyata tidak menyelesaikan akar masalah. Kemudian saya beralih ke emotion-focused coping, yaitu; mencoba memahami, menerima, dan menenangkan emosi yang muncul akibat pengalaman tersebut. Menurut Lazarus dan Folkman dalam konteks adaptasi stres yang juga banyak digunakan dalam kajian psikologi Indonesia, coping emosional membantu individu menurunkan tekanan psikologis meskipun tidak langsung mengubah akar permasalahan (Rachmawati, 2020).

Selanjutnya, saya menerapkan problem-focused coping, yaitu mengevaluasi situasi secara logis dan saya memutuskan mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan tersebut sebagai bentuk penyelesaian sumber stres. Setelah itu, saya mengembangkan meaning-focused coping, dengan mencari makna dari pengalaman yang saya alami, sehingga saya dapat melihatnya sebagai proses belajar dan perkembangan diri (Sari & Putra, 2021).

Coping yang paling berpengaruh dalam proses pemulihan saya adalah mindfulness coping, yaitu kemampuan untuk hadir secara penuh, menerima emosi tanpa menghakimi, dan mengelola reaksi diri. Mindfulness terbukti efektif dalam meningkatkan regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis (Hidayati, 2019). Melalui proses ini, saya menjadi lebih tenang, matang dalam berpikir, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih bijak.

 

Kesimpulan

Hikmah dari pengalaman ini adalah saya menjadi pribadi yang lebih mandiri secara emosional dan tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Saya belajar bahwa setiap pengalaman menyakitkan dapat menjadi ruang pertumbuhan jika diolah dengan kesadaran.

 

Daftar Pustaka

Hidayati, N. (2019). Mindfulness sebagai strategi regulasi emosi dalam menghadapi stres. Jurnal Psikologi Indonesia, 8(2), 120–130.

Rachmawati, D. (2020). Strategi coping dalam menghadapi stres psikologis pada dewasa muda. Jurnal Psikologi Integratif, 7(1), 45–53.

Sari, A., & Putra, I. (2021). Meaning-focused coping dan resiliensi pada individu dewasa awal. Jurnal Psikologi Udayana, 8(2), 110–118.

0 komentar:

Posting Komentar