14.1.26

ESSAI 2-WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF-INDAH DWI S 23310410042

 

ESSAI 2

PSIKOLOGI INOVASI
WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

 

Fakultas Psikologi Univeritas Proklamasi 45

INDAH DWI S 23310410042



Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA





Pendahuluan

Disonansi kognitif merupakan konsep penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan ketegangan psikologis ketika seseorang memiliki dua atau lebih kognisi yang saling bertentangan, misalnya antara pengetahuan dan perilaku. Leon Festinger (1957) menjelaskan bahwa manusia secara alami terdorong untuk mengurangi ketegangan tersebut, bukan dengan mengubah realitas secara objektif, melainkan sering kali dengan mengubah cara berpikirnya.

Fenomena disonansi kognitif banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya pada perokok aktif. Banyak perokok memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan, bahkan beberapa di antaranya berasal dari kalangan terdidik, atlet, atau individu yang sadar kesehatan. Namun, pengetahuan tersebut tidak selalu diwujudkan dalam perilaku nyata. Ketidaksesuaian inilah yang mencerminkan disonansi kognitif.

Esai ini bertujuan untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana disonansi kognitif bekerja pada perokok aktif melalui wawancara langsung, sekaligus menganalisis mekanisme pertahanan diri yang digunakan subjek dan kaitannya dengan psikologi inovasi, khususnya dalam konteks perubahan perilaku dan pengembangan diri.

Metode dan Subjek Wawancara

Wawancara dilakukan pada bulan September 2025 di sebuah gym di Yogyakarta, sesuai dengan konteks lokasi yang memungkinkan ditemukannya individu yang sadar kesehatan namun tetap merokok. Subjek wawancara adalah seorang perokok aktif berinisial R (Atlet Amatir, 27 tahun). Pemilihan subjek dilakukan secara purposif, dengan kriteria memiliki pengetahuan tentang bahaya rokok tetapi tetap mempertahankan perilaku merokok.

Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dan berlangsung sekitar 30 menit. Percakapan dicatat dan digunakan sebagai dasar analisis psikologis.

Hasil Wawancara: Bentuk Disonansi Kognitif

Pada awal wawancara, peneliti menggali pemahaman subjek tentang rokok dan kesehatan.

Pewawancara:
“Apakah Anda mengetahui dampak rokok terhadap kesehatan, khususnya bagi orang yang rutin berolahraga?”

R:
“Iya, saya tahu rokok itu berbahaya. Bisa merusak paru-paru, jantung, dan jelas ngaruh ke stamina. Kalau baca-baca atau dengar dari pelatih, itu sudah sering.”

Jawaban tersebut menunjukkan bahwa secara kognitif, subjek memiliki pengetahuan yang jelas tentang bahaya rokok. Namun, ketika ditanya mengenai perilakunya sehari-hari, muncul ketidaksesuaian.

Pewawancara:
“Dengan pengetahuan itu, mengapa Anda masih merokok?”

R:
“Jujur saja, saya tetap merokok. Biasanya setelah latihan atau lagi santai sama teman. Rasanya lebih tenang, lebih rileks.”

Pernyataan ini memperlihatkan konflik antara pengetahuan (rokok berbahaya) dan perilaku (tetap merokok). Inilah inti dari disonansi kognitif. Subjek menyadari adanya ketidaksesuaian, tetapi belum melakukan perubahan perilaku.

Analisis Disonansi Kognitif

Menurut teori disonansi kognitif, kondisi seperti yang dialami R akan menimbulkan ketegangan psikologis. Untuk mengurangi ketegangan tersebut, individu memiliki beberapa pilihan, antara lain: berhenti merokok, mengurangi pentingnya bahaya rokok, atau mencari pembenaran baru.

Dalam kasus ini, subjek tidak memilih untuk mengubah perilaku merokok, melainkan mengubah cara memaknai perilaku tersebut.

R:
“Saya pikir selama tidak berlebihan dan masih bisa olahraga rutin, efeknya nggak separah itu. Banyak kok atlet lain yang merokok tapi tetap kuat.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa subjek berusaha menurunkan tingkat ancaman dari rokok agar sesuai dengan perilakunya. Dengan demikian, disonansi berkurang tanpa harus melakukan perubahan nyata.

Mekanisme Pertahanan Diri Subjek

Dari hasil wawancara, mekanisme pertahanan diri yang dominan digunakan subjek adalah rasionalisasi. Rasionalisasi merupakan upaya individu memberikan alasan yang tampak logis dan dapat diterima secara sosial untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai atau pengetahuan yang dimiliki.

Contoh rasionalisasi terlihat jelas dalam kutipan berikut:

R:
“Kalau dipikir-pikir, rokok itu cuma salah satu faktor. Stres, kurang tidur, pola makan juga berpengaruh. Jadi menurut saya rokok bukan penyebab utama.”

Melalui pernyataan ini, subjek mengalihkan fokus dari perilaku merokok ke faktor lain. Tujuan dari mekanisme ini adalah untuk menjaga citra diri sebagai individu yang sehat dan rasional, sekaligus menghindari rasa bersalah atau ketidaknyamanan psikologis.

Namun, mekanisme pertahanan diri ini bersifat sementara. Dalam jangka panjang, rasionalisasi justru dapat menghambat proses refleksi dan perubahan perilaku yang lebih adaptif.

Disonansi Kognitif dan Hambatan Inovasi Diri

Dalam perspektif psikologi inovasi, kemampuan individu untuk berubah dan berkembang sangat bergantung pada keterbukaan terhadap informasi baru serta kesediaan meninggalkan kebiasaan lama yang tidak efektif. Disonansi kognitif yang dikelola secara tidak adaptif, seperti melalui rasionalisasi berlebihan, dapat menjadi penghambat utama inovasi diri.

Subjek R sebenarnya memiliki modal penting untuk berubah, yaitu pengetahuan dan kesadaran. Namun, karena disonansi diselesaikan dengan pembenaran kognitif, bukan perubahan perilaku, potensi inovasi diri menjadi terhambat.

R:
“Saya sering kepikiran sih buat berhenti, tapi belum sekarang. Mungkin nanti kalau sudah benar-benar harus.”

Kalimat ini menunjukkan adanya penundaan perubahan. Dalam konteks inovasi, sikap “nanti” mencerminkan resistensi terhadap perubahan. Individu tetap berada di zona nyaman meskipun menyadari adanya kebutuhan untuk berkembang

Implikasi Psikologis

Fenomena disonansi kognitif pada perokok aktif menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku. Intervensi psikologis perlu menyentuh aspek motivasi, nilai personal, dan kesiapan individu untuk berubah. Tanpa itu, individu akan terus menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk mempertahankan perilaku lama.

Bagi mahasiswa dan generasi muda, kondisi ini menjadi pelajaran penting. Ketika disonansi kognitif tidak disadari dan dikelola dengan baik, individu berisiko terjebak dalam stagnasi psikologis, sulit maju, dan kurang inovatif dalam menghadapi perubahan hidup.

Kesimpulan

Berdasarkan wawancara dengan perokok aktif berinisial R, dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif muncul akibat ketidaksesuaian antara pengetahuan tentang bahaya rokok dan perilaku merokok yang tetap dilakukan. Untuk mengurangi ketegangan psikologis, subjek menggunakan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi.

Meskipun mekanisme tersebut efektif dalam jangka pendek, dalam jangka panjang disonansi kognitif yang tidak diselesaikan melalui perubahan perilaku dapat menghambat inovasi diri dan perkembangan pribadi. Oleh karena itu, pemahaman tentang disonansi kognitif menjadi penting agar individu mampu melakukan refleksi, berani berubah, dan berkembang secara lebih adaptif.

0 komentar:

Posting Komentar