31.12.25

Psi Lingkungan - Esai 6 – Eksperimen Tentang Sampah - Dr. A. Shinta, M. A - SPSJ - Desember 2025 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

EKSPERIMEN SAMPAH DI RUMAH DOSEN

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001) – Psi. Lingkungan – Essai 6

Fakultas Psikoligi, Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Kegiatan eksperimen membuat eco enzim di rumah dosen menjadi pengalaman belajar yang sederha, tetapi bermakna dan kontekstual dengan isu lingkungan saat ini. Eksperimen ini dilakukan sebagai upaya nyata pengelolaan limbah organik rumah tangga sekaligus pembelajaran langsung tentang proses fermentasi alami yang ramah lingkungan. Proses pembuatan eco enzim dimulai dengan menyiapkan bahan utama berupa gula jawa, kulit buah, dan air matang dengan perbandingan 1 : 3 : 10. Kulit buah yang digunakan berasal dari sisa dapur, seperti kulit jeruk dan buah-buahan lainnya, sehingga limbah yang biasanya dibuang justru dimanfaatkan kembali.


Seluruh bahan dicampur dalam wadah tertutup, lalu difermentasi selama kurang lebih tiga (3) bulan. Dirumah dosen saya diajarkan step by step dari menibang gula jawa, menakar air, dan mengiris-iris kulit buah. Kebetulas ketika kunjungan kerumah dosen ada salah satu teman kami yang membawa buah melon, jadi setelah memakan buah melon bersama-sama, kami memotong kulitnya untuk dijadikan bahan eco enzim.


Setelah tiga bulan, eco enzim dipanen dan disaring untuk memisahkan ampas dari cairannya. Cairan hasil panen inilah yang menjadi eco enzim utama, yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, penghilang bau, hingga penyubur tanaman. Namun eksperimen tidak berhenti sampai di situ. Untuk meningkatkan nilai guna dan kenyamanan penggunaan, eco enzim yang sudah jadi kemudian difermentasi kembali dengan menambahkan buah lerak (blerak) dan serai. Lerak dipilih karena mengandung saponin alami yang berfungsi sebagai pembersih, sedangkan serai memberikan aroma segar dan wangi alami.


Fermentasi lanjutan ini membutuhkan waktu sekitar 1 bulan yang bertujuan agar eco enzim tidak hanya fungsional, tetapi juga lebih nyaman digunakan karena aromanya yang harum. Setelah proses fermentasi kedua selesai, aroma eco enzim berubah menjadi lebih segar dan tidak menyengat, sehingga cocok digunakan sebagai cairan pembersih rumah tangga yang aman dan ramah lingkungan. Dari kegiatan ini, kami belajar bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal atau kompleks, tetapi bisa dimulai dari dapur rumah sendiri dengan kesadaran dan pengetahuan yang tepat.

Eksperimen eco enzim ini bukan hanya tentang menghasilkan cairan pembersih, tetapi juga membangun kesadaran ekologis, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta kebiasaan hidup berkelanjutan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

0 komentar:

Posting Komentar