PSIKOLOGI INOVASI
“Studi tentang Disonansi kognitif pada
Mahasiswa yang Jarang Berolahaga”
Oleh:
Nama: Fatien Muthmainnah Azzahra
NIM: 22310410185
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Kesehatan fisik adalah bagian penting dalam
kehidupan seoran mahasiswa, terutama di tengah padatnya aktivitas akademik, salah satu kebiasaan sehat yang sering
disarankan adalah olahraga rutin. Namun, banyak dari mahasiswa yang menyadari
pentingnya olahraga, tetapi justru tidak melakukannya secara konsisten.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep disonansi kognitif, yaitu konflik
psikologis yang muncul ketika keyakinan seseorang tidak sejalan dengan
perilakunya.
Disonansi Kognitif adalah kondisi mental
yang menimbulkan ketidaknyamanan karena adanya pertentangan antara pikiran,
nilai, atau sikap dengan tindakan atau perilaku nyata. Teori ini diperkenalkan
oleh Leon Festinger, seorang psikolog sosial yang menyatakan bahwa manusia
cenderung ingin menjaga konsistensi internal antara pikiran dan tindakan.
Dalam wawancara dengan R (25th) mahasiswa yang sedang
menempuh jenjang pascasarjana Manajemen
Pendidikan Islam mengatakan untuk saat ini ia lebih disibukkan dengan berbagai
jurnal dan revisi tesisnya sehingga tidak memiliki waktu untuk berolahraga. R
mengatakan “saya paham betul olahraga sangat penting untuk kesehatan fisik,
tapi untuk sekarang deadline jurnal saya banyak dan masih harus mengerjakan
revisi tesis. Jadi buat olahraga nanti dulu. Paling ya setiap minggu pagi saya
sempatkan jogging”.
Dalam pernyataan R diatas, bentuk disonansi yang dialami melibatkan 3
komponen:
1. Keyakinan kognitif: olahraga itu penting dan menyehatkan
2. Perilaku: tidak berolahraga secara rutin
3. Konflik batin: tidak konsisten dan muncul pembenaran atas perilaku malas
olahraga.
Dari 3 komponen tersebut muncullah reaksi terhadap disonansi. Biasanya
mencoba mengurangi ketegangan batin melalui beberapa cara:
1. - Mengubah keyakinan: “ olahraga itu ga harus rutin, jogging saja cukup”
- Meremehkan urgensi: “ ah, masih muda. Nanti-nanti juga bisa olahraga”
3. - Mencari pembenaran eksternal: “ lagi sibuk tesis, wajar dong ga sempat
olahraga”
Untuk mengatasi perilaku diatas, mahasiswa perlu meningkatkan
kesadaran diri, apakah saya sungguh peduli pada kesehatan saya, apakah alasan
saya untuk tidak berolahraga benar-benar valid atau hanya alasan pembenaran?.
Mengubah perilaku secara bertahap seperti jalan kaki 10-15 menit sehari,
memilih naik tangga daripada lift dan stretching ringan sebelum tidur.
Berolahraga bersama teman juga dapat mendorong konsistensi dan rasa senang saat
berolahraga.
Mengatasi disonansi kognitif bukan tentang memilih antara
logika dan kenyamanan, tapi bagaimana menyelaraskan nilai pribadi dan perilaku
nyata. Mahasiswa dapat memulai dengan langkah kecil namun konsisten, membentuk
kebiasaan sehat tidak hanya memperkuat fisik, tapi juga mental dan emosional.

0 komentar:
Posting Komentar