19.5.25

ESSAY 2. WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

 

PSIKOLOGI INOVASI

“Studi tentang Disonansi kognitif pada Mahasiswa yang Jarang Berolahaga”

Oleh:

Nama: Fatien Muthmainnah Azzahra

NIM: 22310410185

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

 

Kesehatan fisik adalah bagian penting dalam kehidupan seoran mahasiswa, terutama di tengah padatnya aktivitas akademik, salah satu kebiasaan sehat yang sering disarankan adalah olahraga rutin. Namun, banyak dari mahasiswa yang menyadari pentingnya olahraga, tetapi justru tidak melakukannya secara konsisten. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep disonansi kognitif, yaitu konflik psikologis yang muncul ketika keyakinan seseorang tidak sejalan dengan perilakunya.

Disonansi Kognitif adalah kondisi mental yang menimbulkan ketidaknyamanan karena adanya pertentangan antara pikiran, nilai, atau sikap dengan tindakan atau perilaku nyata. Teori ini diperkenalkan oleh Leon Festinger, seorang psikolog sosial yang menyatakan bahwa manusia cenderung ingin menjaga konsistensi internal antara pikiran dan tindakan.

Dalam wawancara dengan R (25th) mahasiswa yang sedang menempuh  jenjang pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam mengatakan untuk saat ini ia lebih disibukkan dengan berbagai jurnal dan revisi tesisnya sehingga tidak memiliki waktu untuk berolahraga. R mengatakan “saya paham betul olahraga sangat penting untuk kesehatan fisik, tapi untuk sekarang deadline jurnal saya banyak dan masih harus mengerjakan revisi tesis. Jadi buat olahraga nanti dulu. Paling ya setiap minggu pagi saya sempatkan jogging”.

Dalam pernyataan R diatas, bentuk disonansi yang dialami melibatkan 3 komponen:

1.      Keyakinan kognitif: olahraga itu penting dan menyehatkan

2.      Perilaku: tidak berolahraga secara rutin

3.      Konflik batin: tidak konsisten dan muncul pembenaran atas perilaku malas olahraga.

Dari 3 komponen tersebut muncullah reaksi terhadap disonansi. Biasanya mencoba mengurangi ketegangan batin melalui beberapa cara:

1.      - Mengubah keyakinan: “ olahraga itu ga harus rutin, jogging saja cukup”

       -  Meremehkan urgensi: “ ah, masih muda. Nanti-nanti juga bisa olahraga”

3.     - Mencari pembenaran eksternal: “ lagi sibuk tesis, wajar dong ga sempat olahraga”

Untuk mengatasi perilaku diatas, mahasiswa perlu meningkatkan kesadaran diri, apakah saya sungguh peduli pada kesehatan saya, apakah alasan saya untuk tidak berolahraga benar-benar valid atau hanya alasan pembenaran?. Mengubah perilaku secara bertahap seperti jalan kaki 10-15 menit sehari, memilih naik tangga daripada lift dan stretching ringan sebelum tidur. Berolahraga bersama teman juga dapat mendorong konsistensi dan rasa senang saat berolahraga.

Mengatasi disonansi kognitif bukan tentang memilih antara logika dan kenyamanan, tapi bagaimana menyelaraskan nilai pribadi dan perilaku nyata. Mahasiswa dapat memulai dengan langkah kecil namun konsisten, membentuk kebiasaan sehat tidak hanya memperkuat fisik, tapi juga mental dan emosional.

0 komentar:

Posting Komentar