ESAI 6
BELAJAR
PENGOLAHAN SAMPAH DI TPST RANDU ALAS
PSIKOLOGI
LINGKUNGAN
ASHARI
ZAINNUR RAHMAN / 24310420015
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
TPST
(Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) merupakan tempat dilaksanakannya kegiatan
pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir
sampah.Keberadaan sebuah TPST sangat penting dalam lingkungan masyarakat.TPST
menjadi wadah bagi masyarakat yang belum mampu mengelola sampah yang mereka
hasilkan.Dengan hadirnya TPST diharapkan dapat mengurangi beban masalah sampah
yang tidak tertangani di lingkungan masyarakat yang dapat menjadi sumber
pencemaran lingkungan dan penyakit.
Ada
salahsatu TPST yang berada di wilayah Kabupaten Sleman tepatnya di Dusun
Candikarang, Sardonoharjo, Ngaglik yang bernama TPST Randu Alas.Ada cerita
dibalik lahirnya TPST Randu Alas ini, dulu sebelum tempat yang sekarang menjadi
TPST Randu Alas ini sering menjadi tempat untuk membuang sampah secara ilegal
baik dari masyarakat dusun sekitar bahkan ada yang membuang sampah di wilayah
ini yang berasal dari luar dusun.Hal ini menimbulkan keprihatinan seperti yang
dirasakan oleh Bapak Tujono salah satu sesepuh dan pengelola di TPST Randu Alas
ini yang akhirnya lahirlah TPST ini.TPST Randu Alas melayani pengelolaan sampah
di beberapa dusun yang berada di sekitar TPST Randu Alas ini.Sampah yang masuk
ke TPST Randu Alas berasal dari sampah rumah tangga maupun sampah dari pelaku
usaha dan industri di wilayah sekitar.
Setelah
sampah masuk ke TPST Randu Alas ini yang pertama dilakukan yaitu pemilahan
sampah terbagi dari sampah organik dan anorganik.Pemilahan sampah merupakan
langkah awal yang penting dilakukan karena sampah organik dapat menimbulkan
pencemaran yang lebih cepat karena mengalami pembusukan.Apabila tidak cepat
dipilah dan diolah dapat menimbulkan bau serta dapat menjadi sarang dari
bakteri buruk dan penyakit.Untuk sampah organik sendiri di TPST Randu Alas ini
akan diproses untuk digunakan pakan maggot, pembuatan kompos, pupuk poc /
lindhi.Sehingga sampah organik ini menjadi mempunyai manfaat dan tidak
mencemari lingkungan.Contohnya adalah maggot yang diternak di TPST Randu Alas
ini dapat menjadi pakan pengganti untuk ikan lele dan ayam yang dipelihara di
lingkungan TPST itu sendiri.Bahkan menurut Pak Tujono, maggot ini juga dapat
dijual di toko pakan ikan seharga 10 ribu rupiah per kemasannya.
Sedangkan
untuk sampah anorganik akan dipilah lagi dan dikelompokkan berdasarkan
materialnya seperti kertas, kaca, plastik, logam, dan sebagainya.Sampah yang sudah
dikelompokkan yang memiliki nilai nantinya akan diambil oleh pengepul dan akan
diolah kembali oleh pabrik-pabrik industri maupun pelaku usaha kerajinan.Sampah
yang belum dapat diolah kembali seperti pembalut, popok bekas pakai selanjutnya
akan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Kendala
yang dialami TPST Randu Alas adalah terbatasnya alat pencacah sampah, tungku
pembakaran sampah, dan SDM yang bertugas memilah sampah secara manual.Proses
pemilahan sampah sendiri memakan waktu dan tenaga yang besar oleh karena itu
Bapak Tujono menghimbau agar masyarakat sudah mulai untuk memilah sampahnya
sendiri sebelum masuk TPST.Sampah yang sudah terpisah akan memudahkan pengelola
sampah seperti Bapak Tujono dan kawan-kawan dalam mengolah lebih lanjut sampah
tersebut.Seperti sampah organik dengan plastik warna hijau dan anorganik dengan
plastik warna merah.Harapan kedepan adalah agar TPST Randu Alas memiliki alat
pendukung untuk pengolahan sampah agar lebih optimal serta semakin bermanfaat
untuk masyarakat dan lingkungan.

0 komentar:
Posting Komentar