9.5.26

Esai 2 - Wawancara tentang Disonansi Kognitif - Nariswari Salsabiela (23310410107)

 

Esai 2 Psikologi Inovasi – Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

 

Rokok, Stres, dan Rasionalisasi: Dinamika Disonansi Kognitif pada Tenaga Medis

Oleh: Nariswari Salsabiela (23310410107)


 

Fenomena disonansi kognitif menjadi menarik ketika terjadi pada individu yang bekerja di bidang kesehatan, karena mereka memahami secara mendalam risiko medis suatu perilaku, tetapi tetap melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini saya temukan pada subjek wawancara berinisial AR, seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Dalam pekerjaannya, AR sering menangani pasien dengan gangguan paru, penyakit jantung, hingga komplikasi akibat kebiasaan merokok. Ia mengetahui bahwa rokok dapat meningkatkan risiko kanker paru, gangguan kardiovaskular, dan penurunan fungsi pernapasan. Namun, di sisi lain, AR tetap menjadi perokok aktif. Kondisi ini mencerminkan Cognitive Dissonance Theory dari Festinger (1957), yaitu adanya ketegangan psikologis akibat ketidaksesuaian antara keyakinan dan perilaku individu.

AR mengaku mulai terbiasa merokok sejak bekerja dengan sistem shift yang melelahkan. Ia mengatakan, “Kalau habis jaga malam atau IGD lagi penuh, rasanya kepala pusing, sesak, dan tegang. Biasanya saya keluar sebentar buat merokok supaya lebih rileks”. Ia juga menyebut, “Kadang cuma lima menit merokok di warung depan RS itu rasanya seperti nge-refresh otak”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rokok telah dipersepsikan sebagai coping mechanism untuk meredakan stres kerja. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan dengan emotion-focused coping, yaitu usaha individu mengurangi tekanan emosional tanpa menyelesaikan sumber masalahnya secara langsung (Lazarus & Folkman, 1984).

Di sisi lain, muncul mekanisme rasionalisasi dan denial sebagai bentuk pertahanan ego. AR mengatakan, “Saya tahu rokok tidak sehat, tapi pekerjaan saya juga berat”. Ia juga menyampaikan, “Banyak kok itu dokter dan nakes lain yang merokok, tetep sehat-sehat aja”. Pernyataan tersebut menunjukkan upaya menurunkan ketegangan psikologis dengan membenarkan perilaku yang bertentangan dengan pengetahuan medisnya. Selain itu, terdapat cognitive minimization ketika AR menyebut, “Saya tidak merokok banyak, paling cuma beberapa batang sehari, jadi ya mungkin belum terlalu bahaya”. Menurut Freud (1936), mekanisme pertahanan seperti rasionalisasi dan denial membantu individu mempertahankan kenyamanan psikologis ketika menghadapi konflik internal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku. Bandura (1997) menjelaskan bahwa perubahan perilaku membutuhkan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa individu mampu mengontrol dan mengubah kebiasaannya. Dalam konteks psikologi inovasi, disonansi kognitif justru dapat membuat individu kreatif menciptakan pembenaran diri agar tetap bertahan pada pola lama. Akibatnya, inovasi diri menjadi terhambat karena individu lebih memilih mengubah cara berpikir dibandingkan mengubah perilakunya. Oleh karena itu, perubahan perilaku membutuhkan kesadaran reflektif, regulasi emosi yang sehat, serta keberanian menghadapi ketidaknyamanan psikologis tanpa bergantung pada pembenaran diri.

 


Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. Freeman.

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

Freud, A. (1936). The Ego and the Mechanisms of Defence. Hogarth Press.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.

Myers, D. G. (2012). Social Psychology (11th ed.). McGraw-Hill.

0 komentar:

Posting Komentar