Esai 2
Psikologi Inovasi – Wawancara tentang Disonansi Kognitif
Dosen
Pengampu: Dr. Dra.
Arundati Shinta, M.A.
Rokok, Stres, dan Rasionalisasi:
Dinamika Disonansi Kognitif pada Tenaga Medis
Oleh: Nariswari
Salsabiela (23310410107)
Fenomena disonansi kognitif menjadi
menarik ketika terjadi pada individu yang bekerja di bidang kesehatan, karena
mereka memahami secara mendalam risiko medis suatu perilaku, tetapi tetap
melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini saya temukan pada subjek wawancara
berinisial AR, seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta.
Dalam pekerjaannya, AR sering menangani pasien dengan gangguan paru, penyakit
jantung, hingga komplikasi akibat kebiasaan merokok. Ia mengetahui bahwa rokok
dapat meningkatkan risiko kanker paru, gangguan kardiovaskular, dan penurunan
fungsi pernapasan. Namun, di sisi lain, AR tetap menjadi perokok aktif. Kondisi
ini mencerminkan Cognitive Dissonance Theory dari Festinger (1957),
yaitu adanya ketegangan psikologis akibat ketidaksesuaian antara keyakinan dan
perilaku individu.
AR mengaku mulai terbiasa merokok
sejak bekerja dengan sistem shift yang melelahkan. Ia mengatakan, “Kalau habis
jaga malam atau IGD lagi penuh, rasanya kepala pusing, sesak, dan tegang.
Biasanya saya keluar sebentar buat merokok supaya lebih rileks”. Ia juga
menyebut, “Kadang cuma lima menit merokok di warung depan RS itu rasanya
seperti nge-refresh otak”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rokok
telah dipersepsikan sebagai coping mechanism untuk meredakan stres
kerja. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan dengan emotion-focused
coping, yaitu usaha individu mengurangi tekanan emosional tanpa
menyelesaikan sumber masalahnya secara langsung (Lazarus & Folkman, 1984).
Di sisi lain, muncul mekanisme
rasionalisasi dan denial sebagai bentuk pertahanan ego. AR mengatakan, “Saya
tahu rokok tidak sehat, tapi pekerjaan saya juga berat”. Ia juga menyampaikan, “Banyak
kok itu dokter dan nakes lain yang merokok, tetep sehat-sehat aja”. Pernyataan
tersebut menunjukkan upaya menurunkan ketegangan psikologis dengan membenarkan
perilaku yang bertentangan dengan pengetahuan medisnya. Selain itu, terdapat cognitive
minimization ketika AR menyebut, “Saya tidak merokok banyak, paling cuma
beberapa batang sehari, jadi ya mungkin belum terlalu bahaya”. Menurut Freud
(1936), mekanisme pertahanan seperti rasionalisasi dan denial membantu individu
mempertahankan kenyamanan psikologis ketika menghadapi konflik internal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
pengetahuan tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku. Bandura (1997)
menjelaskan bahwa perubahan perilaku membutuhkan self-efficacy, yaitu
keyakinan bahwa individu mampu mengontrol dan mengubah kebiasaannya. Dalam
konteks psikologi inovasi, disonansi kognitif justru dapat membuat individu
kreatif menciptakan pembenaran diri agar tetap bertahan pada pola lama.
Akibatnya, inovasi diri menjadi terhambat karena individu lebih memilih
mengubah cara berpikir dibandingkan mengubah perilakunya. Oleh karena itu,
perubahan perilaku membutuhkan kesadaran reflektif, regulasi emosi yang sehat,
serta keberanian menghadapi ketidaknyamanan psikologis tanpa bergantung pada
pembenaran diri.
Daftar Pustaka
Bandura,
A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. Freeman.
Festinger,
L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
Freud,
A. (1936). The Ego and the Mechanisms of Defence. Hogarth Press.
Lazarus,
R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping.
Springer.
Myers,
D. G. (2012). Social Psychology (11th ed.). McGraw-Hill.
.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar