ANALISIS
MEKANISME PERTAHANAN DIRI DALAM PERILAKU PEMBUANGAN
SAMPAH
RUMAH TANGGA
Itsnaini
Latifatur Rohmah (24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Wawancara
dilakukan bersama Ibu NA pada hari Minggu, 17 Mei pukul 16.20–16.40 WIB di
teras depan rumah beliau dalam suasana santai. Berdasarkan hasil wawancara,
terlihat bahwa Ibu NA sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar mengenai
pengelolaan sampah rumah tangga. Hal ini terlihat ketika beliau memisahkan
sampah organik untuk pakan ayam dan memisahkan botol plastik untuk dijual atau
dikilokan. Namun, di sisi lain masih terdapat perilaku yang kurang ramah
lingkungan seperti membakar sampah dan membuang kotoran kucing ke sungai. Dalam
psikologi inovasi, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara
pengetahuan dan perilaku nyata yang dipengaruhi oleh kebiasaan lingkungan
sekitar serta mekanisme pertahanan diri individu.
Salah satu mekanisme pertahanan diri yang muncul adalah
rasionalisasi. Rasionalisasi terjadi ketika seseorang mencari alasan yang
dianggap logis untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya kurang tepat. Hal ini
terlihat saat Ibu Nia mengatakan, “Iyaalah mba, lagian kalau mau minta diambil
petugas sampah keliling itukan mahal yoo sekarang.” Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa tindakan membakar sampah dianggap sebagai solusi paling mudah
dan murah dibanding menggunakan jasa pengangkut sampah. Selain faktor biaya,
pengalaman buruk terhadap petugas sampah yang jarang datang juga digunakan
sebagai alasan untuk mempertahankan kebiasaan membakar sampah. Dalam psikologi
inovasi, perilaku ini menunjukkan bahwa individu cenderung memilih cara yang
dianggap praktis dan nyaman meskipun memiliki dampak negatif bagi lingkungan.
Mekanisme pertahanan diri lainnya adalah konformitas
sosial, yaitu perilaku mengikuti kebiasaan kelompok agar dianggap sama dengan
lingkungan sekitar. Hal ini tampak ketika Ibu Nia mengatakan, “Tetangga yang
lain juga sama, mereka suka bakar sampah juga dirumahnya,” dan “orang-orang kan
pada buang sampah di Sungai to… ikutan aja.” Pernyataan tersebut menunjukkan
bahwa perilaku membuang sampah ke sungai dan membakar sampah dianggap sebagai
hal yang normal karena dilakukan oleh banyak orang di lingkungan tersebut.
Individu akhirnya merasa perilaku tersebut bukan suatu masalah besar karena
sudah menjadi budaya yang dilakukan bersama-sama. Dalam psikologi inovasi,
konformitas seperti ini dapat menghambat perubahan perilaku karena individu
lebih memilih menyesuaikan diri dengan kebiasaan lingkungan daripada mencoba
perilaku baru yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Selain itu, terdapat mekanisme denial atau penyangkalan
ringan terhadap dampak lingkungan. Meskipun Ibu Nia mengetahui bahwa asap
pembakaran sampah berbahaya bagi kesehatan, beliau tetap mengatakan “ngga
papa.. sudah jadi hal lumrah kok disini.” Hal ini menunjukkan adanya
kecenderungan menganggap risiko sebagai sesuatu yang biasa sehingga dampaknya
tidak terlalu dipikirkan. Individu menjadi sulit terdorong untuk berubah karena
merasa perilaku tersebut belum memberikan dampak langsung pada dirinya. Oleh karena
itu, dalam psikologi inovasi diperlukan pendekatan edukasi yang tidak hanya
memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran emosional dan
lingkungan sosial yang mendukung perubahan perilaku masyarakat terhadap
pengelolaan sampah yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA:
Asteria, D., & Heruman, H. (2016). Bank sampah sebagai alternatif strategi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Tasikmalaya. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 23(1), 136–141.
Saifi, A., Susanto, H., & Mardiani, F. (2024). Analisis perilaku wisatawan dalam membuang sampah di kawasan Benteng Somba Opu Makassar. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora, 8(1), 373–383.
Suryani, A. S. (2014). Peran bank sampah dalam efektivitas pengelolaan sampah (studi kasus bank sampah Malang). Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 5(1), 71–84.
0 komentar:
Posting Komentar