UAS PSIKOLOGI INOVASI
11 JANUARI 2026
KELAS SJ&SPDOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA, M.A
CHRISTINA ANGELINE NATALIA M
24310420060
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
Sebagai seorang pembelajar
psikologi inovasi, saya melihat narasi mengenai karakteristik entrepreneur
dan faktor keberuntungan yang dipaparkan dalam soal memantik diskusi yang
sangat menarik. Namun, setelah membaca dengan teliti dan kritis seperti yang
diinstruksikan, saya menemukan adanya permasalahan fundamental dalam pemahaman
teori yang disajikan. Menurut saya, permasalahan utamanya terletak pada
distorsi teori motivasi yang justru dapat menjebak calon wirausahawan ke arah
yang salah jika tidak diluruskan. Oleh karena itu, esai ini akan membahas
permasalahan kerancuan teori tersebut dan menawarkan solusi pemahaman yang
benar berdasarkan literatur psikologi yang valid.
Permasalahan pertama dan yang
paling krusial menurut saya adalah ketidakakuratan data mengenai teori motivasi
berprestasi. Narasi soal menyebutkan bahwa konsep Need for Achievement
dikemukakan oleh "Gregor McDouglas" dan disingkat sebagai "n
Aff". Ini adalah sebuah kekeliruan fatal yang harus dikritisi. Berdasarkan
literatur psikologi yang saya pelajari, konsep Need for Achievement
(kebutuhan untuk berprestasi) dicetuskan oleh David McClelland, bukan Gregor
McDouglas. Selain itu, singkatan yang benar untuk kebutuhan berprestasi adalah n-Ach,
sedangkan n-Aff merujuk pada Need for Affiliation atau kebutuhan
untuk berafiliasi dan disukai orang lain.
Mengapa koreksi ini penting?
Menurut pandangan saya, jika seorang entrepreneur salah mengartikan n-Ach
menjadi n-Aff, dampaknya akan sangat merusak. n-Ach berfokus pada
pencapaian target yang menantang dan umpan balik yang konkret, yang merupakan
bahan bakar utama inovasi. Sebaliknya, n-Aff berfokus pada hubungan
harmonis dan ketakutan akan penolakan sosial. Jika seorang wirausahawan lebih
dominan n-Aff-nya seperti yang tersirat dari kesalahan istilah di
soal ia akan kesulitan mengambil keputusan tegas karena takut menyinggung
perasaan orang lain, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan bisnisnya. Jadi,
solusinya adalah kita harus memisahkan dengan tegas bahwa semangat berprestasi
adalah n-Ach, bukan n-Aff.
Selanjutnya, saya ingin menanggapi
kasus Ruben dan Lorena yang dikaitkan dengan teori keberuntungan Richard
Wiseman. Dalam narasi tersebut, Ruben digambarkan sebagai sosok yang
"beruntung" karena enggan menolong Lorena yang bermasalah, dan ini disebut
sesuai dengan faktor keberuntungan Wiseman. Menurut saya, interpretasi ini
terlalu sempit dan berpotensi menyesatkan. Benar bahwa Wiseman menyebutkan
salah satu faktor keberuntungan adalah mengubah nasib buruk menjadi baik dan
mendengarkan intuisi, namun Wiseman tidak serta-merta mengajarkan egoisme atau
antipati terhadap orang lain.
Menurut hemat saya, keberuntungan
dalam kacamata psikologi inovasi bukanlah sekadar "menghindari orang
sial" seperti Lorena, melainkan tentang membangun mindset yang
terbuka terhadap peluang (chance opportunities). Jika Ruben hanya fokus pada
dirinya sendiri dan menutup mata terhadap masalah orang lain secara absolut, ia
mungkin kehilangan peluang kolaborasi atau jaringan sosial yang justru bisa
menjadi pintu rezeki di masa depan. Meditasi Ruben di jam 3 pagi mungkin baik
untuk ketenangan batin, namun kejelian sejati seorang inovator (seperti teori
Wiseman yang sebenarnya) terletak pada sikap proaktif dan resilience
(ketangguhan), bukan sekadar lari dari masalah orang lain.
Sebagai penutup dan solusi atas
paparan di atas, saya berpendapat bahwa pondasi psikologi inovasi harus
dibangun di atas teori yang presisi. Seorang entrepreneur sejati harus
memiliki n-Ach (David McClelland) yang tinggi untuk mengejar standar
keunggulan, bukan n-Aff yang mengutamakan konformitas. Terkait
keberuntungan, kita perlu memandang teori Wiseman sebagai ajakan untuk
membangun sikap mental positif dan fleksibilitas kognitif, bukan sebagai
pembenaran untuk bersikap apatis sosial. Dengan meluruskan pemahaman teoretis
ini, barulah kita bisa membangun mentalitas wirausaha yang tidak hanya tangguh
dan beruntung, tetapi juga valid secara ilmiah.
Daftar Pustaka:
Harper, M. (1984). Entrepreneur
for the poor. London: Intermediate Technology Publications.
McClelland, D. C. (1961). The
Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.
Wiseman, R. (2003). The luck
factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar