11.1.26

ESSAI 9 - UJIAN AKHIR SEMESTER Psi inovasi

 

 
Need for Achievement sebagai Karakteristik Utama Entrepreneur dan Kaitannya dengan Konsep Keberuntungan

Naufal Abyansah_23310410019

UJIAN AKHIR SEMESTER

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Arundati Shinta, M.A

 

Judul:
Need for Achievement sebagai Karakteristik Utama Entrepreneur dan Kaitannya dengan Konsep Keberuntungan

Konsep need for achievement merupakan salah satu karakteristik psikologis yang sering dikaitkan dengan perilaku kewirausahaan. Individu dengan dorongan berprestasi yang tinggi cenderung menetapkan tujuan yang menantang namun realistis, serta memiliki komitmen kuat untuk mencapainya. Dorongan ini membuat seorang entrepreneur tidak mudah puas dengan pencapaian yang terlalu mudah, tetapi juga tidak menetapkan tujuan yang berada jauh di luar kemampuannya. Keseimbangan antara tantangan dan kemampuan inilah yang menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus motivasi berkelanjutan.

Dalam kajian psikologi motivasi, dorongan berprestasi umumnya dikenal sebagai need for achievement (nAch). Konsep ini menjelaskan bahwa individu dengan nAch tinggi terdorong untuk mencapai standar keunggulan tertentu, bertanggung jawab atas hasil kerjanya, dan senang menerima umpan balik atas pencapaiannya. Karakteristik tersebut relevan dengan dunia kewirausahaan yang menuntut ketekunan, pengambilan keputusan mandiri, serta keberanian menghadapi risiko yang terukur. Dengan demikian, nAch dapat dipandang sebagai salah satu fondasi psikologis penting bagi seorang entrepreneur.

Dorongan berprestasi tidak bersifat bawaan semata, melainkan dapat dikembangkan melalui latihan dan pembiasaan. Aktivitas seperti menetapkan target pribadi, menulis tujuan secara positif, serta terlibat dalam kompetisi yang sehat dapat membantu individu melatih orientasi berprestasi. Proses ini sejalan dengan pandangan bahwa motivasi berprestasi dapat diperkuat melalui pengalaman belajar dan penguatan lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan nAch memiliki implikasi praktis, baik dalam pendidikan maupun dalam pembinaan kewirausahaan.

Selain berkaitan dengan kinerja dan pencapaian, dorongan berprestasi juga dapat dikaitkan dengan konsep keberuntungan. Dalam hal ini, teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Richard Wiseman memberikan perspektif menarik. Wiseman menjelaskan bahwa keberuntungan bukan semata-mata hasil kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh pola perilaku dan cara individu memaknai pengalaman hidupnya. Empat faktor utama yang ia kemukakan memperluas jejaring sosial, mengembangkan keterampilan, berpikir positif terhadap peristiwa negatif, serta kejelian dalam mengambil keputusan dapat dilihat selaras dengan karakteristik individu berorientasi prestasi.

Kasus Ruben dalam kisah The Crocodile River menggambarkan penerapan prinsip-prinsip tersebut. Ruben digambarkan fokus pada pengembangan diri, berhati-hati dalam menjalin relasi, serta mampu mengelola risiko dengan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Sikap ini menunjukkan adanya kesadaran akan tujuan hidup dan kemampuan mengarahkan perilaku secara konsisten. Praktik refleksi diri, seperti meditasi yang dilakukan Ruben, juga dapat dipahami sebagai upaya meningkatkan kepekaan dalam mengambil keputusan penting.

Secara keseluruhan, dorongan berprestasi dapat dipandang sebagai faktor psikologis yang mendukung keberhasilan entrepreneur, baik dalam mencapai tujuan maupun dalam menciptakan peluang yang sering disebut sebagai “keberuntungan”. Ketika individu memiliki tujuan yang jelas, mau berlatih, serta mampu memaknai pengalaman secara positif, maka peluang keberhasilan akan semakin besar. Dengan demikian, pengembangan need for achievement tidak hanya relevan bagi kinerja kewirausahaan, tetapi juga bagi kualitas pengambilan keputusan dan arah hidup secara umum.


Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). The Crocodile River. London: Harper & Row.

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor. London: Century.


0 komentar:

Posting Komentar