11.1.26

ESSAY 9 - UAS PSIKOLOGI INOVASI

Rekonstruksi Mentalitas Entrepreneur
Antara Dorongan Prestasi dan Strategi Keberuntungan.


oleh : Arina Millataka
23310410026

Dalam diskursus psikologi inovasi, keberhasilan seorang wirausahawan sering kali dikaitkan dengan dorongan internal yang kuat dan faktor keberuntungan yang menyertainya. Namun, untuk memahami fenomena ini secara utuh, diperlukan ketelitian dalam membedah teori yang mendasarinya agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. Esai ini akan memberikan komentar kritis terhadap narasi n-Ach dan teori keberuntungan Richard Wiseman dalam konteks kasus Ruben dan Lorena, serta meluruskan beberapa kekeliruan teoretis yang ditemukan dalam teks sumber.

Permasalahan pertama yang perlu dicermati adalah penggunaan istilah need for achievement. Dalam narasi teks, istilah ini disebut sebagai n-Aff. Secara psikologis, ini merupakan "error" karena n-Aff merujuk pada Need for Affiliation (kebutuhan untuk berafiliasi atau bersosialisasi), sedangkan semangat berprestasi yang dimaksud adalah n-Ach. Perbedaan ini sangat mendasar; inovator digerakkan oleh n-Ach untuk melampaui standar keunggulan, bukan sekadar ingin disukai oleh lingkungan (n-Aff).

Selain itu, teks menyebutkan bahwa konsep ini dikemukakan oleh Gregor McDouglas. Berdasarkan sejarah psikologi, tokoh sentral yang melakukan penelitian tentang Need for Achievement hingga ke India adalah David McClelland. Kesalahan penyebutan tokoh ini harus dikritisi karena validitas sebuah inovasi bergantung pada akurasi data dan referensi. Namun, poin mengenai tingkatan kesulitan tujuan sangat relevan: individu akan paling termotivasi jika tujuan setara dengan kemampuannya (menantang), bukan terlalu mudah (membosankan) atau terlalu sulit (mematahkan semangat).

Selanjutnya, perilaku tokoh Ruben dalam kasus The Crocodile River memberikan ilustrasi menarik mengenai teori keberuntungan Richard Wiseman. Keberuntungan bukanlah nasib buta, melainkan hasil dari perilaku yang terkondisi. Ruben menunjukkan faktor pertama dengan memilih lingkungan yang kondusif dan tidak terjerat dalam masalah orang lain (Lorena) yang dianggap berisiko. Dalam psikologi inovasi, ini disebut manajemen risiko emosional untuk menjaga fokus pada solusi.

Faktor kedua, yakni rajin mengasah keterampilan sendiri, sangat krusial bagi seorang inovator. Ruben fokus pada kompetensinya untuk menyelesaikan masalah pribadinya tanpa distraksi. Sementara itu, faktor ketiga dan keempat berkaitan dengan resiliensi dan intuisi. Kebiasaan Ruben bermeditasi pada jam 3 dini hari adalah bentuk latihan kepekaan (mindfulness) yang membantu menajamkan pengambilan keputusan. Dengan pikiran yang tenang, seorang entrepreneur mampu melihat jalan hidup dan peluang di tengah ketidakpastian.

Sebagai solusi dalam mempraktikkan psikologi inovasi, n-Ach sebenarnya dapat dilatih melalui kebiasaan menulis hal-hal positif dan kompetitif. Inovasi lahir dari individu yang tidak hanya bermimpi, tetapi memiliki kejelian dalam mengambil keputusan tepat di saat sulit, mirip dengan meditasi yang dilakukan Ruben. Komentar saya, meskipun Ruben terkesan individualis dengan enggan menolong Lorena, secara teoretis ia sedang mempraktikkan "pencegahan hal negatif" agar keberuntungannya tidak terhambat oleh masalah orang lain yang tidak relevan dengan tujuannya.

Kesimpulannya, menjadi inovatif membutuhkan dorongan prestasi (n-Ach) yang terukur dan penerapan strategi keberuntungan yang disiplin. Keberuntungan adalah hasil dari pertemuan antara persiapan (keterampilan) dan peluang (kejelian keputusan).


Referensi Jurnal Bahasa Indonesia:

Prasetyo, I. (2020). "Pengaruh Need for Achievement terhadap Intensi Berwirausaha di Era Inovasi."     Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 11(1), 45-58.

Sari, D. P. (2021). "Analisis Teori Keberuntungan Richard Wiseman dalam Pengembangan Karier Lulusan Psikologi." Jurnal Inovasi Psikologi Indonesia, 3(2), 112-125.

0 komentar:

Posting Komentar