Rekonstruksi Mentalitas Entrepreneur
Antara Dorongan Prestasi dan Strategi Keberuntungan.
Dalam diskursus psikologi inovasi, keberhasilan seorang
wirausahawan sering kali dikaitkan dengan dorongan internal yang kuat dan
faktor keberuntungan yang menyertainya. Namun, untuk memahami fenomena ini
secara utuh, diperlukan ketelitian dalam membedah teori yang mendasarinya agar
tidak terjadi kesalahan interpretasi. Esai ini akan memberikan komentar kritis
terhadap narasi n-Ach dan teori keberuntungan Richard Wiseman dalam konteks
kasus Ruben dan Lorena, serta meluruskan beberapa kekeliruan teoretis yang
ditemukan dalam teks sumber.
Permasalahan pertama yang perlu dicermati adalah penggunaan
istilah need for achievement. Dalam narasi teks, istilah ini disebut sebagai n-Aff.
Secara psikologis, ini merupakan "error" karena n-Aff merujuk pada Need
for Affiliation (kebutuhan untuk berafiliasi atau bersosialisasi), sedangkan
semangat berprestasi yang dimaksud adalah n-Ach. Perbedaan ini sangat mendasar;
inovator digerakkan oleh n-Ach untuk melampaui standar keunggulan, bukan
sekadar ingin disukai oleh lingkungan (n-Aff).
Selain itu, teks menyebutkan bahwa konsep ini dikemukakan
oleh Gregor McDouglas. Berdasarkan sejarah psikologi, tokoh sentral yang
melakukan penelitian tentang Need for Achievement hingga ke India adalah David
McClelland. Kesalahan penyebutan tokoh ini harus dikritisi karena validitas
sebuah inovasi bergantung pada akurasi data dan referensi. Namun, poin mengenai
tingkatan kesulitan tujuan sangat relevan: individu akan paling termotivasi
jika tujuan setara dengan kemampuannya (menantang), bukan terlalu mudah
(membosankan) atau terlalu sulit (mematahkan semangat).
Selanjutnya, perilaku tokoh Ruben dalam kasus The Crocodile
River memberikan ilustrasi menarik mengenai teori keberuntungan Richard Wiseman.
Keberuntungan bukanlah nasib buta, melainkan hasil dari perilaku yang
terkondisi. Ruben menunjukkan faktor pertama dengan memilih lingkungan yang
kondusif dan tidak terjerat dalam masalah orang lain (Lorena) yang dianggap
berisiko. Dalam psikologi inovasi, ini disebut manajemen risiko emosional untuk
menjaga fokus pada solusi.
Faktor kedua, yakni rajin mengasah keterampilan sendiri,
sangat krusial bagi seorang inovator. Ruben fokus pada kompetensinya untuk
menyelesaikan masalah pribadinya tanpa distraksi. Sementara itu, faktor ketiga
dan keempat berkaitan dengan resiliensi dan intuisi. Kebiasaan Ruben
bermeditasi pada jam 3 dini hari adalah bentuk latihan kepekaan (mindfulness)
yang membantu menajamkan pengambilan keputusan. Dengan pikiran yang tenang,
seorang entrepreneur mampu melihat jalan hidup dan peluang di tengah
ketidakpastian.
Sebagai solusi dalam mempraktikkan psikologi inovasi, n-Ach
sebenarnya dapat dilatih melalui kebiasaan menulis hal-hal positif dan
kompetitif. Inovasi lahir dari individu yang tidak hanya bermimpi, tetapi
memiliki kejelian dalam mengambil keputusan tepat di saat sulit, mirip dengan
meditasi yang dilakukan Ruben. Komentar saya, meskipun Ruben terkesan
individualis dengan enggan menolong Lorena, secara teoretis ia sedang
mempraktikkan "pencegahan hal negatif" agar keberuntungannya tidak
terhambat oleh masalah orang lain yang tidak relevan dengan tujuannya.
Kesimpulannya, menjadi inovatif membutuhkan dorongan
prestasi (n-Ach) yang terukur dan penerapan strategi keberuntungan yang
disiplin. Keberuntungan adalah hasil dari pertemuan antara persiapan
(keterampilan) dan peluang (kejelian keputusan).
Referensi Jurnal Bahasa Indonesia:
Prasetyo, I. (2020). "Pengaruh Need for Achievement
terhadap Intensi Berwirausaha di Era Inovasi." Jurnal Psikologi Teori dan
Terapan, 11(1), 45-58.
Sari, D. P. (2021). "Analisis Teori Keberuntungan Richard Wiseman dalam Pengembangan Karier Lulusan Psikologi." Jurnal Inovasi Psikologi Indonesia, 3(2), 112-125.

0 komentar:
Posting Komentar