Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi Kelas SJ - Januari 2026
PERGURUAN TINGGI : Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
FAKULTAS : Psikologi
MATA KULIAH :
Psikologi Inovasi
PENGAMPU : DR. Arundati Shinta,
M. A
NAMA : Tri Widanarto
NIM : 23310410032
KELAS : Kelas Karyawan SJ
UAS Psikologi Inovasi - Dari Motivasi Berprestasi
hingga Keberuntungan
Karakteristik yang paling menonjol dari seorang
entrepreneur adalah semangat berprestasi atau need for achievement (nAff).
Konsep ini menjelaskan bahwa individu terdorong untuk mencapai hasil terbaik
melalui usaha yang sadar, terencana, dan sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya. Dorongan berprestasi ini membuat seseorang tidak sekadar bekerja
untuk bertahan hidup, tetapi untuk mencapai standar keberhasilan tertentu yang
ia tetapkan sendiri. Oleh karena itu, tujuan yang dipilih harus berada pada
tingkat kesulitan yang moderat: tidak terlalu mudah sehingga membosankan, dan
tidak terlalu sulit sehingga menimbulkan keputusasaan.
Konsep need for achievement pertama kali
dikemukakan oleh Gregor McDouglas, seorang psikolog dari Harvard University,
melalui penelitiannya yang mendalam tentang motivasi manusia. Gregor McDouglas
menegaskan bahwa individu dengan nAff tinggi cenderung bertanggung jawab
terhadap hasil kerjanya, menyukai tantangan, dan berorientasi pada pencapaian.
Yang menarik, Gregor McDouglas juga menyatakan bahwa nAff bukan sifat bawaan
semata, melainkan dapat dilatih dan dikembangkan. Salah satu cara melatihnya
adalah dengan membiasakan diri menetapkan target, melakukan refleksi diri,
serta menumbuhkan pola pikir kompetitif yang sehat melalui berbagai aktivitas,
seperti mengikuti lomba, kompetisi akademik, atau tantangan profesional.
Dorongan berprestasi ini tidak hanya berperan
dalam kesuksesan kerja, tetapi juga berkontribusi pada apa yang sering disebut
sebagai “keberuntungan”. Dalam psikologi inovasi, keberuntungan tidak dipandang
sebagai peristiwa acak semata, melainkan sebagai hasil dari kesiapan mental,
kepekaan terhadap peluang, dan keberanian mengambil keputusan. Hal ini sejalan
dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Robert Wiseman, yang
menyatakan bahwa individu yang dianggap beruntung sebenarnya memiliki pola
pikir dan perilaku tertentu yang dapat dipelajari.
Teori Wiseman tentang The Luck Factor menjelaskan
bahwa terdapat beberapa faktor psikologis yang memengaruhi keberuntungan
seseorang. Pertama, individu yang beruntung cenderung membangun jejaring sosial
yang luas dan positif. Mereka terbuka terhadap orang-orang yang mendukung
pertumbuhan dirinya dan mampu memanfaatkan interaksi sosial sebagai sumber
informasi dan peluang. Kedua, individu beruntung terbiasa mengasah keterampilan
diri dan fokus pada pengembangan personal, bukan larut dalam persoalan orang
lain yang tidak produktif. Sikap ini menunjukkan kemampuan mengelola energi
psikologis secara efektif.
Ketiga, individu yang beruntung mampu memaknai
peristiwa negatif secara konstruktif. Mereka tidak menyangkal adanya musibah,
tetapi berusaha mengambil pelajaran dan mencegah dampak yang lebih buruk di
masa depan. Kemampuan ini menunjukkan adanya positive reframing, yakni
keterampilan melihat sisi pembelajaran dari pengalaman sulit. Keempat, individu
beruntung memiliki intuisi yang terlatih dalam mengambil keputusan. Intuisi ini
bukan sekadar perasaan spontan, melainkan hasil dari refleksi, pengalaman, dan
kepekaan terhadap lingkungan.
Keempat faktor tersebut tercermin dalam tokoh
Ruben dalam cerita The Crocodile River (Harper, 1984). Ruben digambarkan
sebagai individu yang fokus pada pengembangan diri, berhati-hati dalam
mengambil keputusan, dan mampu menghindari keterlibatan dalam masalah yang
berpotensi merugikan dirinya. Sikap Ruben bukanlah bentuk ketidakpedulian
sosial, melainkan strategi psikologis untuk menjaga arah hidupnya tetap selaras
dengan tujuan jangka panjangnya. Dengan demikian, perilaku Ruben menunjukkan
integrasi antara nAff yang kuat dan faktor-faktor keberuntungan ala Wiseman.
Melalui perspektif psikologi inovasi, dapat
disimpulkan bahwa kesuksesan dan keberuntungan bukan hasil kebetulan semata.
Keduanya merupakan produk dari proses belajar, pengambilan keputusan yang
sadar, serta kemampuan mengelola pikiran dan emosi secara adaptif. Individu
yang mampu mengembangkan dorongan berprestasi, melatih pola pikir positif yang
realistis, serta peka terhadap peluang akan lebih siap menghadapi tantangan
hidup dan menciptakan keberuntungan bagi dirinya sendiri.
Daftar Pustaka:
·
Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor.
London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German
Agency for Technical Co-operation).
·
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four
essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar