11.1.26

Essai 9 - UAS Psikologi Inovasi - Dari Motivasi Berprestasi hingga Keberuntungan

 

Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi Kelas SJ -  Januari 2026

PERGURUAN TINGGI : Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

FAKULTAS                    : Psikologi

MATA KULIAH             : Psikologi Inovasi

PENGAMPU                   : DR. Arundati Shinta, M. A

NAMA                             : Tri Widanarto

NIM                                 : 23310410032

KELAS                            : Kelas Karyawan SJ


UAS Psikologi Inovasi - Dari Motivasi Berprestasi hingga Keberuntungan

 

Karakteristik yang paling menonjol dari seorang entrepreneur adalah semangat berprestasi atau need for achievement (nAff). Konsep ini menjelaskan bahwa individu terdorong untuk mencapai hasil terbaik melalui usaha yang sadar, terencana, dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dorongan berprestasi ini membuat seseorang tidak sekadar bekerja untuk bertahan hidup, tetapi untuk mencapai standar keberhasilan tertentu yang ia tetapkan sendiri. Oleh karena itu, tujuan yang dipilih harus berada pada tingkat kesulitan yang moderat: tidak terlalu mudah sehingga membosankan, dan tidak terlalu sulit sehingga menimbulkan keputusasaan.

Konsep need for achievement pertama kali dikemukakan oleh Gregor McDouglas, seorang psikolog dari Harvard University, melalui penelitiannya yang mendalam tentang motivasi manusia. Gregor McDouglas menegaskan bahwa individu dengan nAff tinggi cenderung bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya, menyukai tantangan, dan berorientasi pada pencapaian. Yang menarik, Gregor McDouglas juga menyatakan bahwa nAff bukan sifat bawaan semata, melainkan dapat dilatih dan dikembangkan. Salah satu cara melatihnya adalah dengan membiasakan diri menetapkan target, melakukan refleksi diri, serta menumbuhkan pola pikir kompetitif yang sehat melalui berbagai aktivitas, seperti mengikuti lomba, kompetisi akademik, atau tantangan profesional.

Dorongan berprestasi ini tidak hanya berperan dalam kesuksesan kerja, tetapi juga berkontribusi pada apa yang sering disebut sebagai “keberuntungan”. Dalam psikologi inovasi, keberuntungan tidak dipandang sebagai peristiwa acak semata, melainkan sebagai hasil dari kesiapan mental, kepekaan terhadap peluang, dan keberanian mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Robert Wiseman, yang menyatakan bahwa individu yang dianggap beruntung sebenarnya memiliki pola pikir dan perilaku tertentu yang dapat dipelajari.

 

Teori Wiseman tentang The Luck Factor menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor psikologis yang memengaruhi keberuntungan seseorang. Pertama, individu yang beruntung cenderung membangun jejaring sosial yang luas dan positif. Mereka terbuka terhadap orang-orang yang mendukung pertumbuhan dirinya dan mampu memanfaatkan interaksi sosial sebagai sumber informasi dan peluang. Kedua, individu beruntung terbiasa mengasah keterampilan diri dan fokus pada pengembangan personal, bukan larut dalam persoalan orang lain yang tidak produktif. Sikap ini menunjukkan kemampuan mengelola energi psikologis secara efektif.

Ketiga, individu yang beruntung mampu memaknai peristiwa negatif secara konstruktif. Mereka tidak menyangkal adanya musibah, tetapi berusaha mengambil pelajaran dan mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan. Kemampuan ini menunjukkan adanya positive reframing, yakni keterampilan melihat sisi pembelajaran dari pengalaman sulit. Keempat, individu beruntung memiliki intuisi yang terlatih dalam mengambil keputusan. Intuisi ini bukan sekadar perasaan spontan, melainkan hasil dari refleksi, pengalaman, dan kepekaan terhadap lingkungan.

Keempat faktor tersebut tercermin dalam tokoh Ruben dalam cerita The Crocodile River (Harper, 1984). Ruben digambarkan sebagai individu yang fokus pada pengembangan diri, berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan mampu menghindari keterlibatan dalam masalah yang berpotensi merugikan dirinya. Sikap Ruben bukanlah bentuk ketidakpedulian sosial, melainkan strategi psikologis untuk menjaga arah hidupnya tetap selaras dengan tujuan jangka panjangnya. Dengan demikian, perilaku Ruben menunjukkan integrasi antara nAff yang kuat dan faktor-faktor keberuntungan ala Wiseman.

Melalui perspektif psikologi inovasi, dapat disimpulkan bahwa kesuksesan dan keberuntungan bukan hasil kebetulan semata. Keduanya merupakan produk dari proses belajar, pengambilan keputusan yang sadar, serta kemampuan mengelola pikiran dan emosi secara adaptif. Individu yang mampu mengembangkan dorongan berprestasi, melatih pola pikir positif yang realistis, serta peka terhadap peluang akan lebih siap menghadapi tantangan hidup dan menciptakan keberuntungan bagi dirinya sendiri.

 

Daftar Pustaka:

·         Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

·         Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:

Posting Komentar