Tugas : Esai 9 - Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Individu dalam meraih tujuan tertentu adalah adanya motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi memang memiliki peran penting dalam pengembangan individu dan dalam pencapaian tujuan. Kalau seseorang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, maka ia cenderung memiliki orientasi terhadap pencapaian dan melakukan upaya maksimal untuk meraih keberhasilan. Motivasi berprestasi juga berhubungan erat dengan kualitas hidup, kepuasan diri, dan peningkatan kinerja dalam berbagai bidang. Motivasi adalah dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Bentuk dorongan pada manusia bermacam-macam seperti dorongan belajar, dorongan kerja dan dorongan untuk berprestasi. Motivasi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi.
Paparan tersebut sangat menarik dan relevan, namun terdapat beberapa kekeliruan yang menurut saya perlu diluruskan. Pertama, karakteristik entrepreneur yang dibahas sebenarnya merujuk pada need for achievement (nAch), bukan nAff. Dalam psikologi motivasi, nAch adalah kebutuhan untuk berprestasi, nAff adalah kebutuhan akan afiliasi (hubungan sosial). McClelland (1987) menegaskan bahwa n Ach berkaitan erat dengan perilaku kewirausahaan, seperti kemandirian, tanggung jawab pribadi, dan pencarian umpan balik terhadap kinerja. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan fondasi psikologis penting dalam kesuksesan entrepreneur. Individu dengan n Ach tinggi cenderung menetapkan target yang seimbang dengan kemampuannya, karena tujuan yang terlalu mudah akan menurunkan motivasi, sedangkan tujuan yang terlalu sulit berpotensi menimbulkan keputusasaan (McClelland, 1961). Hal ini sejalan dengan karakteristik entrepreneur yang berani mengambil risiko dan memiliki orientasi kuat pada hasil.
Pengaitan antara dorongan berprestasi dan keberuntungan
melalui teori Robert Wiseman perlu dianalisis secara kritis. Teori
keberuntungan Robert Wiseman menekankan bahwa keberuntungan bukan sesuatu yang
sepenuhnya acak, melainkan hasil dari pola perilaku adaptif. Wiseman (2003)
mengemukakan empat faktor utama penentu keberuntungan, yaitu membangun relasi
dengan individu produktif, terus mengasah keterampilan pribadi, mampu melihat
peluang dalam kesulitan, serta memiliki kepekaan dalam pengambilan keputusan.
Keempat faktor tersebut tampak jelas dalam perilaku Ruben, termasuk
kebiasaannya untuk meningkatkan kejelian dan refleksi diri. Praktik ini
menunjukkan adanya kesadaran ruben yang tinggi, dan sangat penting dalam
pengambilan keputusan seorang entrepreneur.
Kaitan antara n Ach dan keberuntungan tercermin dalam kasus
Ruben pada The Crocodile River (Harper, 1984). Perilaku Ruben sesuai
dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang
menyatakan bahwa keberuntungan dipengaruhi oleh pola perilaku tertentu, bukan
faktor kebetulan semata. Ruben menunjukkan kemampuan untuk fokus pada
pengembangan diri, menghindari distraksi sosial yang negatif, serta mengelola
risiko dengan penuh kesadaran. Namun, interpretasi Ruben terutama sikapnya yang
menghindari Lorena dan tidak mau menolong orang yang bermasalah perlu dilihat
dari sudut pandang etika. Dalam psikologi sosial, menjauhi lingkungan toxic bisa
dianggap baik, tetapi dengan mengabaikan empati dan kepedulian sosial dapat menjadi
masalah moral, apalagi jika dibenarkan atas nama keberuntungan. Dalam konteks
kewirausahaan modern, kemampuan membangun jejaring sosial dan empati juga
memiliki nilai strategis. Oleh karena itu, meskipun fokus pada pengembangan
diri penting, keseimbangan antara orientasi prestasi dan kepedulian sosial
tetap perlu diperhatikan.
Secara keseluruhan, need for achievement merupakan fondasi
psikologis utama dalam enterpreneur. Ketika motivasi berprestasi dikombinasikan
dengan pola pikir adaptif dan pengambilan keputusan reflektif, individu tidak
hanya lebih berpeluang mencapai kesuksesan, tetapi juga membentuk apa yang
sering dipersepsikan sebagai “keberuntungan” dalam hidupnya.
Daftar Pustaka
(Stkip & Daya, 2020)Haru, E. (2023). UPAYA
MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI. 12(1), 60–74.
Stkip, D., & Daya, B.
(2020). Rabukit Damanik. 9(1), 51–55.
McClelland, D. C. (1987). Human motivation. Cambridge, UK: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139878289
(Haru, 2023)Haru, E. (2023). UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI. 12(1), 60–74.
Stkip, D., & Daya, B.
(2020). Rabukit Damanik. 9(1), 51–55.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: Changing your
luck—and your life. Miramax Books.

0 komentar:
Posting Komentar