11.1.26

ESAI 9 - Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

 Tugas : Esai 9 - Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu :  Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.


Nursania Dukomalamo (23310410096)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


            Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Individu dalam meraih tujuan tertentu adalah  adanya motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi memang memiliki peran penting dalam pengembangan individu dan dalam pencapaian tujuan. Kalau seseorang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, maka ia cenderung memiliki orientasi terhadap pencapaian dan melakukan upaya   maksimal untuk meraih keberhasilan. Motivasi berprestasi juga berhubungan erat dengan kualitas hidup, kepuasan diri, dan peningkatan kinerja dalam berbagai bidang. Motivasi adalah dorongan   yang timbul dalam diri seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang   yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Bentuk dorongan pada manusia bermacam-macam seperti dorongan  belajar, dorongan kerja dan dorongan untuk berprestasi. Motivasi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi.

            Paparan tersebut sangat menarik dan relevan, namun terdapat beberapa kekeliruan yang menurut saya perlu diluruskan. Pertama, karakteristik entrepreneur yang dibahas sebenarnya merujuk pada need for achievement (nAch), bukan nAff. Dalam psikologi motivasi, nAch adalah kebutuhan untuk berprestasi, nAff adalah kebutuhan akan afiliasi (hubungan sosial). McClelland (1987) menegaskan bahwa n Ach berkaitan erat dengan perilaku kewirausahaan, seperti kemandirian, tanggung jawab pribadi, dan pencarian umpan balik terhadap kinerja. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan fondasi psikologis penting dalam kesuksesan entrepreneur. Individu dengan n Ach tinggi cenderung menetapkan target yang seimbang dengan kemampuannya, karena tujuan yang terlalu mudah akan menurunkan motivasi, sedangkan tujuan yang terlalu sulit berpotensi menimbulkan keputusasaan (McClelland, 1961). Hal ini sejalan dengan karakteristik entrepreneur yang berani mengambil risiko dan memiliki orientasi kuat pada hasil.

        Pengaitan antara dorongan berprestasi dan keberuntungan melalui teori Robert Wiseman perlu dianalisis secara kritis. Teori keberuntungan Robert Wiseman menekankan bahwa keberuntungan bukan sesuatu yang sepenuhnya acak, melainkan hasil dari pola perilaku adaptif. Wiseman (2003) mengemukakan empat faktor utama penentu keberuntungan, yaitu membangun relasi dengan individu produktif, terus mengasah keterampilan pribadi, mampu melihat peluang dalam kesulitan, serta memiliki kepekaan dalam pengambilan keputusan. Keempat faktor tersebut tampak jelas dalam perilaku Ruben, termasuk kebiasaannya untuk meningkatkan kejelian dan refleksi diri. Praktik ini menunjukkan adanya kesadaran ruben yang tinggi, dan sangat penting dalam pengambilan keputusan seorang entrepreneur.

            Kaitan antara n Ach dan keberuntungan tercermin dalam kasus Ruben pada The Crocodile River (Harper, 1984). Perilaku Ruben sesuai dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang menyatakan bahwa keberuntungan dipengaruhi oleh pola perilaku tertentu, bukan faktor kebetulan semata. Ruben menunjukkan kemampuan untuk fokus pada pengembangan diri, menghindari distraksi sosial yang negatif, serta mengelola risiko dengan penuh kesadaran. Namun, interpretasi Ruben terutama sikapnya yang menghindari Lorena dan tidak mau menolong orang yang bermasalah perlu dilihat dari sudut pandang etika. Dalam psikologi sosial, menjauhi lingkungan toxic bisa dianggap baik, tetapi dengan mengabaikan empati dan kepedulian sosial dapat menjadi masalah moral, apalagi jika dibenarkan atas nama keberuntungan. Dalam konteks kewirausahaan modern, kemampuan membangun jejaring sosial dan empati juga memiliki nilai strategis. Oleh karena itu, meskipun fokus pada pengembangan diri penting, keseimbangan antara orientasi prestasi dan kepedulian sosial tetap perlu diperhatikan.

        Secara keseluruhan, need for achievement merupakan fondasi psikologis utama dalam enterpreneur. Ketika motivasi berprestasi dikombinasikan dengan pola pikir adaptif dan pengambilan keputusan reflektif, individu tidak hanya lebih berpeluang mencapai kesuksesan, tetapi juga membentuk apa yang sering dipersepsikan sebagai “keberuntungan” dalam hidupnya.


Daftar Pustaka

(Stkip & Daya, 2020)Haru, E. (2023). UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI. 12(1), 60–74.

Stkip, D., & Daya, B. (2020). Rabukit Damanik. 9(1), 51–55.

McClelland, D. C. (1987). Human motivation. Cambridge, UK: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139878289

(Haru, 2023)Haru, E. (2023). UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI. 12(1), 60–74.

Stkip, D., & Daya, B. (2020). Rabukit Damanik. 9(1), 51–55.

Wiseman, R. (2003). The luck factor: Changing your luck—and your life. Miramax Books.

0 komentar:

Posting Komentar