11.1.26

Esai 9 - Ujian Akhir Semester

 Esai 9 - Ujian AKhir Semester

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M. A.




Ayu Safira (25310420002)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Januari 2026

    Keberhasilan seorang entrepreneur sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan, padahal keberuntungan sering dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kebetulan dan berada di luar kendali individu. Pemahaman ini menjadi masalah karena dapat membuat seseorang bersikap pasif dan menyerahkan pencapaian hidup pada nasib. Namun, Robert Wiseman (Wiseman, 2003) menyatakan bahwa keberuntungan dapat dijelaskan melalui pola perilaku dan cara berpikir tertentu. Pandangan ini sejalan dengan konsep dorongan berprestasi yang dikemukakan oleh Gregor McClelland, yang menyatakan bahwa motivasi berprestasi dapat dilatih dan dikembangkan. Hal ini terlihat dalam kasus Ruben pada The Crocodile River yang perilakunya sama dengan teori keberuntungan Robert Wiseman.

    Faktor pertama menurut Wiseman adalah pentingnya bergaul dengan individu yang sukses. Masalah yang sering muncul dari faktor ini adalah anggapan bahwa seseorang harus menjauhi orang yang sedang mengalami kesulitan, seperti yang tergambar pada tokoh Lorena. Jika dipahami secara keliru, hal ini dapat menimbulkan sikap tidak peduli terhadap sesama. Namun, menurut saya, faktor ini lebih tepat dimaknai sebagai kemampuan mengelola lingkungan sosial secara selektif. Dalam psikologi, lingkungan sangat memengaruhi cara berpikir dan bertindak individu. Bergaul dengan individu yang berorientasi pada pencapaian dapat mendorong terbentuknya pola pikir inovatif. Dalam kasus Ruben, keputusannya untuk tidak terlibat dengan Lorena bukanlah tindakan tidak bermoral, melainkan strategi menjaga fokus agar tidak terjebak pada masalah yang menghambat proses pencapaian dan inovasi.

    Faktor kedua adalah kebiasaan mengembangkan keterampilan diri. Menurut saya, masalah yang sering terjadi adalah individu terlalu sibuk mencampuri urusan orang lain sehingga melupakan pengembangan diri sendiri. Wiseman menekankan bahwa individu yang beruntung adalah mereka yang konsisten melatih kemampuannya. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa inovasi lahir dari proses belajar yang berkelanjutan dan Ruben digambarkan fokus pada persoalannya sendiri, sehingga energinya digunakan untuk membangun kompetensi, tidak ikut campur pada permasalahan orang lain (Lorena).

    Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari musibah. Menurut saya, faktor ini penting karena banyak individu gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terjebak pada emosi negatif saat menghadapi kesulitan. Wiseman tidak mendorong sikap menyepelekan masalah, melainkan kemampuan memaknai peristiwa secara lebih rasional. Dalam kasus Ruben, sikap menghindari Lorena dapat dipahami sebagai bentuk pencegahan risiko. Menurut saya pengalaman orang lain dapat menjadi pelajaran bagi individu apabila dipahami secara mendalam, bukan diikuti secara emosional, sehingga individu mampu mengambil makna tanpa harus terlibat langsung dalam masalah yang sama.

    Faktor keempat adalah kejelian dalam mengambil keputusan. Menurut saya, permasalahan utama dalam pengambilan keputusan adalah seseorang yang sering bertindak impulsif tanpa berpikir secara matang. Keberuntungan muncul karena individu peka dalam memilih langkah, bukan asal ambil keputusan. Wiseman menekankan pentingnya kepekaan batin yang dilatih melalui refleksi, seperti meditasi yang dilakukan Ruben. Refleksi dan meditasi disini fungsinya untuk menenangkan pikiran dan melihat masalah dengan jernih. Ruben bermeditasi supaya keputusannya diambil secara sadar, sesuai dengan tujuan hidupnya, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

    Secara keseluruhan, permasalahan utama dalam mencapai keberhasilan adalah individu sering memaknai keberuntungan sebagai faktor kebetulan, sehingga bersikap pasif, mudah terjebak emosi, dan mengambil keputusan secara implusif. Solusi yang dapat diambil dari teori Robert Wiseman adalah individu harus mampu mengatur lingkungan sosial, mengembangkan keterampilan, memaknai pengalaman secara positif, dan mengambil keputusan secara mendalam untuk menciptakan keberuntungan. pandangan ini relevan bagi mahasiswa psikologi inovasi karena menekankan bahwa keberhasilan bukan soal keberuntungan semata, melainkan hasil dari proses pengelolaan diri yang konsisten. Dengan demikian, keberuntungan dalam kehidupan entrepreneur lebih tepat dipahami sebagai hasil dari proses psikologis yang aktif dan inovatif, bukan tentang nasib.

 

Daftar Pustaka :

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.


0 komentar:

Posting Komentar