Esai 9 - Ujian AKhir Semester
Keberhasilan seorang
entrepreneur sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan, padahal keberuntungan
sering dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kebetulan dan berada di luar
kendali individu. Pemahaman ini menjadi masalah karena dapat membuat seseorang
bersikap pasif dan menyerahkan pencapaian hidup pada nasib. Namun, Robert
Wiseman (Wiseman, 2003) menyatakan bahwa keberuntungan dapat dijelaskan melalui
pola perilaku dan cara berpikir tertentu. Pandangan ini sejalan dengan konsep
dorongan berprestasi yang dikemukakan oleh Gregor McClelland, yang menyatakan
bahwa motivasi berprestasi dapat dilatih dan dikembangkan. Hal ini terlihat
dalam kasus Ruben pada The
Crocodile River yang perilakunya sama dengan teori keberuntungan
Robert Wiseman.
Faktor pertama
menurut Wiseman adalah pentingnya bergaul dengan individu yang sukses. Masalah
yang sering muncul dari faktor ini adalah anggapan bahwa seseorang harus
menjauhi orang yang sedang mengalami kesulitan, seperti yang tergambar pada
tokoh Lorena. Jika dipahami secara keliru, hal ini dapat menimbulkan sikap
tidak peduli terhadap sesama. Namun, menurut saya, faktor ini lebih tepat
dimaknai sebagai kemampuan mengelola lingkungan sosial secara selektif. Dalam
psikologi, lingkungan sangat memengaruhi cara berpikir dan bertindak individu. Bergaul
dengan individu yang berorientasi pada pencapaian dapat mendorong terbentuknya
pola pikir inovatif. Dalam kasus Ruben, keputusannya untuk tidak terlibat
dengan Lorena bukanlah tindakan tidak bermoral, melainkan strategi menjaga
fokus agar tidak terjebak pada masalah yang menghambat proses pencapaian dan
inovasi.
Faktor kedua
adalah kebiasaan mengembangkan keterampilan diri. Menurut saya, masalah yang sering
terjadi adalah individu terlalu sibuk mencampuri urusan orang lain sehingga melupakan
pengembangan diri sendiri. Wiseman menekankan bahwa individu yang beruntung
adalah mereka yang konsisten melatih kemampuannya. Hal ini sejalan dengan
pandangan bahwa inovasi lahir dari proses belajar yang berkelanjutan dan Ruben
digambarkan fokus pada persoalannya sendiri, sehingga energinya digunakan untuk
membangun kompetensi, tidak ikut campur pada permasalahan orang lain (Lorena).
Faktor ketiga
adalah kemampuan melihat sisi positif dari musibah. Menurut saya, faktor ini penting karena
banyak individu gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terjebak
pada emosi negatif saat menghadapi kesulitan. Wiseman tidak mendorong sikap
menyepelekan masalah, melainkan kemampuan memaknai peristiwa secara lebih
rasional. Dalam kasus Ruben, sikap menghindari Lorena dapat dipahami sebagai
bentuk pencegahan risiko. Menurut saya pengalaman orang lain dapat menjadi
pelajaran bagi individu apabila dipahami secara mendalam, bukan diikuti secara
emosional, sehingga individu mampu mengambil makna tanpa harus terlibat
langsung dalam masalah yang sama.
Faktor keempat
adalah kejelian dalam mengambil keputusan. Menurut
saya, permasalahan utama dalam pengambilan keputusan adalah seseorang
yang sering bertindak impulsif tanpa berpikir secara matang. Keberuntungan muncul
karena individu peka dalam memilih langkah, bukan asal ambil keputusan. Wiseman
menekankan pentingnya kepekaan batin yang dilatih melalui refleksi, seperti
meditasi yang dilakukan Ruben. Refleksi dan meditasi disini fungsinya untuk menenangkan
pikiran dan melihat masalah dengan jernih. Ruben bermeditasi supaya keputusannya
diambil secara sadar, sesuai dengan tujuan hidupnya, dan tidak gegabah dalam
mengambil keputusan.
Secara keseluruhan, permasalahan
utama dalam mencapai keberhasilan adalah individu sering memaknai keberuntungan
sebagai faktor kebetulan, sehingga bersikap pasif, mudah terjebak emosi, dan mengambil
keputusan secara implusif. Solusi yang dapat diambil dari teori Robert Wiseman adalah individu harus
mampu mengatur lingkungan sosial, mengembangkan keterampilan, memaknai
pengalaman secara positif, dan mengambil keputusan secara mendalam untuk
menciptakan keberuntungan. pandangan ini relevan bagi mahasiswa psikologi
inovasi karena menekankan bahwa keberhasilan bukan soal keberuntungan semata,
melainkan hasil dari proses pengelolaan diri yang konsisten. Dengan demikian,
keberuntungan dalam kehidupan entrepreneur lebih tepat dipahami sebagai hasil
dari proses psikologis yang aktif dan inovatif, bukan tentang nasib.
Daftar Pustaka :
Harper, M.
(1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications
in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).
Wiseman, R.
(2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar