Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Tugas : Esai 9 - Ujian Akhir Semester
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Bulan dan Tahun Terbit : Januari 2026
Liyana Nofiasari
23310410049
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Karakteristik
yang sering dianggap paling menonjol dari seorang entrepreneur yakni dorongan
kuat untuk berprestasi. Dorongan ini dikenal sebagai need for achievement,
yang dalam kajian psikologi inovasi lebih tepat disebut sebagai nAch.
Dorongan tersebut mendorong individu untuk menetapkan tujuan yang menantang,
realistis, dan sepadan dengan kapasitas dirinya. Tujuan yang terlalu mudah
tidak memicu energi berprestasi, sedangkan tujuan yang terlalu sulit justru
menurunkan keyakinan diri dan memunculkan sikap menyerah sebelum usaha dimulai.
Seorang entrepreneur memerlukan keseimbangan antara tantangan dan
kemampuan agar semangat berprestasi dapat bekerja secara optimal.
Permasalahan
muncul ketika konsep motivasi berprestasi sering dipahami secara kurang tepat
dan disederhanakan secara berlebihan. Pemahaman yang keliru tersebut berpotensi
membuat individu terjebak pada sikap kompetitif yang kaku, egois, dan
mengabaikan dimensi sosial. Kesalahan juga tampak pada penyebutan tokoh dan
istilah yang tidak akurat, seperti penggunaan istilah nAff untuk
menjelaskan dorongan berprestasi. Ketidaktepatan ini bukan kesalahan teknis
saja, namun dapat memengaruhi cara individu mengartikan keberhasilan dan proses
mencapainya. Seorang entrepreneur berisiko memandang prestasi bukan
sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan namun sebagai hasil personal.
Kisah
Ruben dalam kasus The Crocodile River menggambarkan penerapan dorongan
berprestasi yang dikaitkan dengan konsep keberuntungan. Ruben menampilkan
perilaku yang fokus pada pengembangan diri dan pengambilan keputusan yang
hati-hati. Ruben memilih untuk tidak terlibat dalam masalah Lorena karena Ruben
menilai keterlibatan tersebut berpotensi menghambat tujuannya. Perilaku ini
sejalan dengan gambaran entrepreneur yang berkiblat pada tujuan dan
pengelolaan risiko, sebagaimana dijelaskan dalam kajian kewirausahaan untuk
kelompok miskin oleh Harper (1984).
Permasalahan
lain muncul pada penafsiran konsep keberuntungan menurut Wiseman (2003), dimana
keberuntungan sering dipersepsikan sebagai faktor eksternal yang bersifat
kebetulan. Wiseman (2003) menekankan bahwa keberuntungan berkaitan erat dengan
pola pikir, kebiasaan, dan kualitas pengambilan keputusan individu. Ruben
memperlihatkan kemampuan melihat sisi positif dari situasi berisiko dan menjaga
jarak dari individu yang membawa masalah. Pola ini menggambarkan empat faktor
keberuntungan, yakni lingkungan sosial yang mendukung, latihan keterampilan
pribadi, kemampuan memaknai peristiwa secara positif, dan ketajaman intuisi
dalam mengambil keputusan (Wiseman, 2003).
Solusi
atas permasalahan pemahaman motivasi berprestasi terletak pada upaya pelatihan
yang terarah dan reflektif. Individu perlu melatih dorongan berprestasi melalui
penetapan tujuan yang terukur, evaluasi diri yang jujur, dan pembiasaan
berpikir positif tanpa mengabaikan realitas. Latihan menulis pengalaman,
mengikuti kompetisi, dan melakukan evaluasi rutin dapat membantu individu
mengenali batas kemampuan sekaligus memperluas potensi diri. Lingkungan sosial
yang mendukung juga berperan penting dalam memperkuat arah berprestasi secara
sehat.
Pengembangan
jiwa kewirausahaan tidak dapat dilepaskan dari pengertian yang tepat mengenai
dorongan berprestasi dan cara individu mengartikan keberuntungan dalam
hidupnya. Permasalahannya terletak pada cara motivasi tersebut diarahkan dan
dikelola. Dorongan berprestasi yang dipahami secara keliru berpotensi
menjerumuskan individu pada sikap kompetitif yang sempit dan pengambilan
keputusan yang tidak matang. Pada kasus Ruben tersebut menunjukkan bahwa
keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh perilaku yang konsisten, ketajaman
membaca risiko, dan keberanian untuk membatasi keterlibatan pada hal-hal yang
tidak terkait dengan tujuan. Keberuntungan pada hal ini merupakan konsekuensi dari
pola pikir dan kebiasaan yang terbangun secara sadar. Penggabungan antara
tujuan yang menantang, pengelolaan diri, dan lingkungan sosial yang selektif
memperlihatkan bahwa prestasi dan keberuntungan saling berkaitan. Pandangan ini
memperjelas bahwa entrepreneur yang berhasil ialah mereka yang mampu
menerjemahkan dorongan untuk berprestasi ke dalam keputusan yang logis dan
dapat dipertahankan dalam jangka panjang, sebagaimana disampaikan oleh Harper
(1984) dan Wiseman (2003).
Daftar
Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor.
London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German
Agency for Technical Co-operation).
Wiseman,
R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York:
Hyperion.
0 komentar:
Posting Komentar