Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Tugas: Esai 9 - Ujian Akhir Semester
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr.
Dra. Arundati Shinta, M.A.
Yelsi Adel Quraini
(24310420037)
Fakultas Psikologi
Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
Januari 2026
Karakteristik utama yang menonjol dari seorang
entrepreneur adalah dorongan untuk berprestasi atau need for achievement.
Dorongan ini mendorong individu untuk menetapkan tujuan yang menantang namun
tetap realistis sesuai dengan kemampuannya. Jika tujuan yang terlalu mudah
cenderung tidak memicu semangat, maka tujuan yang terlalu sulit justru dapat
menimbulkan keputusasaan sebelum usaha dimulai. Oleh karena itu, keseimbangan
antara tantangan dan kemampuan menjadi aspek penting dalam membangun
kepercayaan diri dan motivasi dalam berwirausaha.
Need for achievement atau dorongan berprestasi berperan
dalam membentuk minat, keberhasilan, dan perilaku entrepreneur. Penelitian yang
dilakukan oleh Saputro dkk. (2023) menunjukkan bahwa need for achievement memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Pengaruh tersebut diperkuat
oleh pendidikan kewirausahaan dan internal locus of control, yaitu keyakinan
bahwa keberhasilan ditentukan oleh usaha pribadi. Individu yang memiliki
keyakinan bahwa keberhasilan ditentukan oleh usaha pribadi cenderung memiliki
tujuan yang jelas, bertanggung jawab pada hasil yang diperoleh, serta berani
mengambil risiko yang telah diperhitungkan.
Dalam pembahasan motivasi, dorongan berprestasi umumnya
dikaitkan dengan need for achievement (n Ach) yang dapat dikembangkan melalui
latihan dan pengalaman, sedangkan n Aff merujuk pada need for affiliation yang berkaitan
dengan kebutuhan hubungan sosial. Pemahaman istilah ini membantu memperjelas karakteristik
entrepreneur. Melalui kasus Ruben dalam kisah The Crocodile River (Harper, 1984)
menggambarkan keterkaitan antara dorongan berprestasi dan keberuntungan dalam
hidup. Perilaku Ruben tersebut sejalan dengan teori
keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang menekankan bahwa
keberuntungan dipengaruhi oleh kebiasaan berpikir positif, fokus pada
pengembangan diri, kemampuan melihat peluang, serta kejelian dalam mengambil
keputusan. Sikap Ruben yang fokus pada dirinya sendiri dan berhati-hati dalam
bertindak dapat dikaitkan dengan keyakinan bahwa usaha pribadi berperan penting
dalam menentukan hasil, sejalan dengan temuan Saputro dkk (2023) mengenai
pentingnya internal locus of control dalam menumbuhkan minat berwirausaha.
Sikap Ruben yang fokus pada dirinya sendiri dan
berhati-hati dalam bertindak tidak hanya mencerminkan keyakinan bahwa usaha
pribadi berperan penting dalam menentukan hasil, tetapi juga selaras dengan
temuan Ananda dan Noviani (2024) yang menunjukkan bahwa need for achievement
dan locus of control dapat meningkatkan entrepreneurial self-efficacy, yang selanjutnya
mempengaruhi niat berwirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan individu
untuk mengatur diri, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil merupakan
bagian penting dari perilaku kewirausahaan. Pada faktor pertama, keberuntungan
dikaitkan dengan kebiasaan individu untuk bergaul dengan orang-orang yang
sukses. Dalam kasus Ruben, lingkungan sosial dipandang memiliki peran penting
dalam membentuk cara berpikir dan arah tindakan yang diambilnya. Berinteraksi
dengan individu yang memiliki tujuan hidup yang jelas dapat memberi pengaruh
yang baik, baik melalui pertukaran pengalaman yang dibagikan maupun semangat
untuk terus berkembang. Oleh karena itu, pilihan pergaulan menjadi salah satu
aspek yang turut memengaruhi cara Ruben memandang peluang dan tantangan yang
dihadapinya. Pernyataan bahwa individu bermasalah seperti Lorena tidak perlu
diperhatikan dapat dimaknai sebagai bentuk usaha Ruben untuk membatasi
keterlibatan pada persoalan Lorena yang berpotensi mengalihkan perhatian dari
pengembangan dirinya. Dalam proses berwirausaha, kemampuan mengatur batasan
diri diperlukan agar fokus dan perhatian tidak terpecah. Namun dalam konteks
kewirausahaan yang lebih luas, keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan
membangun relasi sosial, empati, dan kerja sama secara sehat dengan orang lain,
karena keberhasilan tidak hanya fokus pada diri sendiri. Oleh karena itu,
meskipun Ruben memilih untuk lebih banyak bergaul dengan individu yang dianggap
memberikan pengaruh positif, harus tetap perlu untuk diimbangi dengan sikap
sosial yang bijak. Dengan cara tersebut, fokus pada tujuan pribadi dapat tetap
terjaga tanpa mengesampingkan nilai-nilai sosial yang penting dalam kehidupan
bermasyarakat.
Faktor kedua menekankan pentingnya pengembangan
keterampilan diri, yang terlihat dari fokus Ruben pada tujuan pribadinya.
Faktor ketiga berkaitan dengan kemampuan menyikapi situasi sulit secara lebih
positif melalui sikap berhati-hati. Faktor keempat berkaitan dengan ketepatan
dalam mengambil keputusan. Kebiasaan Ruben mempertimbangkan setiap langkah
menunjukkan bahwa keberuntungan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan
merupakan hasil dari proses pengembangan diri dan pilihan hidup yang disadari.
Daftar Pustaka
Ananda,
L., & Noviani, L. (2024). Pengaruh locus of control dan need for
achievement terhadap niat berwirausaha melalui entrepreneurial self-efficacy. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 12(3),
340–348.
Harper,
M. (1984). Entrepreneur for the poor.
London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German
Agency for Technical Co-operation).
Saputro,
W. E., Adi, B. W., & Totalia, S. A. (2023). Pengaruh pendidikan
kewirausahaan, need for achievement,
dan internal locus of control
terhadap minat berwirausaha siswa SMK Negeri 1 Sukoharjo. OIKOS: Jurnal Kajian Pendidikan Ekonomi dan Ilmu Ekonomi, 7(1): 11-29.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential
principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar