11.1.26

Esai 9 - Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

 Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Tugas: Esai 9 -   Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

Yelsi Adel Quraini (24310420037)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Januari 2026

Karakteristik utama yang menonjol dari seorang entrepreneur adalah dorongan untuk berprestasi atau need for achievement. Dorongan ini mendorong individu untuk menetapkan tujuan yang menantang namun tetap realistis sesuai dengan kemampuannya. Jika tujuan yang terlalu mudah cenderung tidak memicu semangat, maka tujuan yang terlalu sulit justru dapat menimbulkan keputusasaan sebelum usaha dimulai. Oleh karena itu, keseimbangan antara tantangan dan kemampuan menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan diri dan motivasi dalam berwirausaha.

Need for achievement atau dorongan berprestasi berperan dalam membentuk minat, keberhasilan, dan perilaku entrepreneur. Penelitian yang dilakukan oleh Saputro dkk. (2023) menunjukkan bahwa need for achievement memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Pengaruh tersebut diperkuat oleh pendidikan kewirausahaan dan internal locus of control, yaitu keyakinan bahwa keberhasilan ditentukan oleh usaha pribadi. Individu yang memiliki keyakinan bahwa keberhasilan ditentukan oleh usaha pribadi cenderung memiliki tujuan yang jelas, bertanggung jawab pada hasil yang diperoleh, serta berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan.  

Dalam pembahasan motivasi, dorongan berprestasi umumnya dikaitkan dengan need for achievement (n Ach) yang dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman, sedangkan n Aff merujuk pada need for affiliation yang berkaitan dengan kebutuhan hubungan sosial. Pemahaman istilah ini membantu memperjelas karakteristik entrepreneur. Melalui kasus Ruben dalam kisah The Crocodile River (Harper, 1984) menggambarkan keterkaitan antara dorongan berprestasi dan keberuntungan dalam hidup. Perilaku Ruben tersebut sejalan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang menekankan bahwa keberuntungan dipengaruhi oleh kebiasaan berpikir positif, fokus pada pengembangan diri, kemampuan melihat peluang, serta kejelian dalam mengambil keputusan. Sikap Ruben yang fokus pada dirinya sendiri dan berhati-hati dalam bertindak dapat dikaitkan dengan keyakinan bahwa usaha pribadi berperan penting dalam menentukan hasil, sejalan dengan temuan Saputro dkk (2023) mengenai pentingnya internal locus of control dalam menumbuhkan minat berwirausaha.

Sikap Ruben yang fokus pada dirinya sendiri dan berhati-hati dalam bertindak tidak hanya mencerminkan keyakinan bahwa usaha pribadi berperan penting dalam menentukan hasil, tetapi juga selaras dengan temuan Ananda dan Noviani (2024) yang menunjukkan bahwa need for achievement dan locus of control dapat meningkatkan entrepreneurial self-efficacy, yang selanjutnya mempengaruhi niat berwirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan individu untuk mengatur diri, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil merupakan bagian penting dari perilaku kewirausahaan. Pada faktor pertama, keberuntungan dikaitkan dengan kebiasaan individu untuk bergaul dengan orang-orang yang sukses. Dalam kasus Ruben, lingkungan sosial dipandang memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir dan arah tindakan yang diambilnya. Berinteraksi dengan individu yang memiliki tujuan hidup yang jelas dapat memberi pengaruh yang baik, baik melalui pertukaran pengalaman yang dibagikan maupun semangat untuk terus berkembang. Oleh karena itu, pilihan pergaulan menjadi salah satu aspek yang turut memengaruhi cara Ruben memandang peluang dan tantangan yang dihadapinya. Pernyataan bahwa individu bermasalah seperti Lorena tidak perlu diperhatikan dapat dimaknai sebagai bentuk usaha Ruben untuk membatasi keterlibatan pada persoalan Lorena yang berpotensi mengalihkan perhatian dari pengembangan dirinya. Dalam proses berwirausaha, kemampuan mengatur batasan diri diperlukan agar fokus dan perhatian tidak terpecah. Namun dalam konteks kewirausahaan yang lebih luas, keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan membangun relasi sosial, empati, dan kerja sama secara sehat dengan orang lain, karena keberhasilan tidak hanya fokus pada diri sendiri. Oleh karena itu, meskipun Ruben memilih untuk lebih banyak bergaul dengan individu yang dianggap memberikan pengaruh positif, harus tetap perlu untuk diimbangi dengan sikap sosial yang bijak. Dengan cara tersebut, fokus pada tujuan pribadi dapat tetap terjaga tanpa mengesampingkan nilai-nilai sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Faktor kedua menekankan pentingnya pengembangan keterampilan diri, yang terlihat dari fokus Ruben pada tujuan pribadinya. Faktor ketiga berkaitan dengan kemampuan menyikapi situasi sulit secara lebih positif melalui sikap berhati-hati. Faktor keempat berkaitan dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Kebiasaan Ruben mempertimbangkan setiap langkah menunjukkan bahwa keberuntungan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses pengembangan diri dan pilihan hidup yang disadari.

Daftar Pustaka

Ananda, L., & Noviani, L. (2024). Pengaruh locus of control dan need for achievement terhadap niat berwirausaha melalui entrepreneurial self-efficacy. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 12(3), 340–348.

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

Saputro, W. E., Adi, B. W., & Totalia, S. A. (2023). Pengaruh pendidikan kewirausahaan, need for achievement, dan internal locus of control terhadap minat berwirausaha siswa SMK Negeri 1 Sukoharjo. OIKOS: Jurnal Kajian Pendidikan Ekonomi dan Ilmu Ekonomi, 7(1): 11-29.

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:

Posting Komentar