11.1.26

Psikologi Lingkungan - Esai 11 - Ujian Akhir Semester - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Januari 2026 - Minun Rahmayanti - (24310410006)

 UJIAN AKHIR SEMESTER

Minun Rahmayanti

24310410006

Kelas SPSJ

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M. A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

ESAI 11 - UJIAN AKHIR SEMESTER


Situasi yang terjadi dalam masa pengungsian pasca bencana merupakan keadaan yang sangat ekstrem karena adanya keterbatasan fasilitas yang seringkali menjadi berujung kepada penumpukan sampah. Hal ini bukanlah hanya karena masalah kebersihan, melainkan juga karena dari interaksi psikologi antara oarang-orang pengungsi dengan lingkungan nya. Yang mengacu pada bagan peersepsi lingkungan oleh Paul A. Bell. Perilaku orang-orang atau masyarakat dalam menghadapi situasi seperti tumpukan sampah dapat dijelaskan mulai dari apa yang mereka lihat dengan input lingkungan, penilaian kognitif seperti apa yang mereka pikirkan, koping, sampai hasil akhir atau dampak yang terjadi karena tindakannya.

   Di dalam pengungsian sampah menjadi salah satu sumber stress yang sangat mengganggu. Aroma tidak sedap serta pemandangan sampah yang menggangu pandangan pengungsi dirasakan terus menerus. Jika berada dalam keadaan orang orang akan cenderung menjauh, namun ketika berada di situasi pengungsian maka mereka kesuliatan untuk menghindarinya. Apalagi jika masalah sampah ini muncul bersamaan dengan masalah yang lainnya, misalnya jika tenda pengungsian terlalu sesak atau suasana yang berisik karena keadaan di pengungsian yang ramai membludak menyebabkan hilangnya ruang batasan privasi bagi setiap orang.

    Menurut Paul A. Bell individu akan menilai apakah sampah me njadi ancaman untuk mereka yang harus dihindari aytauian sampah dapat mereka tangani. Karena di pengungsian fasilitas serba terbatas serta bantuan yang sering kali datang terlambat para pengungsi cenderung pesimis dan menjadi menganggap bahwa tumpukan sampah menjadi hal yang harus mereka maklumi karena terpaksa diterima saat berada di pengungsian.

    Di dalam pengungsian orang-orang mulai beradaptasi dan menjadi terbiasa dengan lingkungan yang kotor oleh penumpukan sampah. Dari yang awalnya mereka merasa kurang nyaman dengan lingkungan kotor penuh sampah lama kelamaan karena sudah terbiasa mereka menjadi mentoleransi hal tersebut dan akhirnya tidak lagi menganggap hal tersebut menjadi masalah yang serius. Hal ini sebagai upaya mereka untuk berusaha terhindar dari stress, akhirnya para pengungsi mulai terbiasa beraktivitas apapun seperti tidur, beristirahat, atau bahkan makan di lingkungan yang sampahnya menumpuk tanpa merasa jijik ataupun terganggu karena sudah menganggapnya biasa serta melumrahkannya.

    Selain itu karena merasa tidak dapat mengendalikan situasi yang mereka alami, para pengungsi sering kali mengalami fenomena yang namanya learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajarai. Pengungsi menganggap percuma mereka membersihkan sampah yang ada jika pada akhirn ya tidak ada sarana atau fasilitas yang untuk mengangkut sampah-sampah itu. Pada akhirnya mereka memilih untuk bersikap cuek. Dan akhirnya menyebabkan perilaku membuang sampah sembarangan semakin sering dilakukan karena anggapan bahwa lingkungan mereka sudah terlanjur sangat kotor jadi tidak masalah jika membuang sampah sembarangan sekalipun.

    Permasalahan mengenai sampah ini sangat mempengaruhi kondisi mental para pengungsi. Karena tidak dapat menangani permasalahan ini para pengungsi menjadi lebih stres dan merasa tidak bahagia atau tidak tenang. Menurut teori Paul A. Bell sikap acuh serta cuek pengungsi dengan sampah bukanlah serta merta karena mereka malas dantidak peduli dengan kebersihan, namun lebih dikarenakan oleh pikiran mereka yang sedang sangat tertekan karena stresor yang besar. Disebabkan oleh perasaan tidak berdaya serta sudah membiassakan dengan lingkungan kotor yang mereka tempati, oleh karena itu membantu para pengungsi tidak hanya dengan memberi tempat sampah namun juga mengajak mereka untuk saling bekerja sama peduli dan menjaga lingkungan yang ditempati bersama agar merek dapat kembali merasa punya kendali atas kehidupan mereka meskipun tengah berada di pengungsian.


Daftar Pustaka

Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental Psychology. 5th ed. Harcourt College Publishers.

0 komentar:

Posting Komentar