11.1.26

ESSAY 9 : UJIAN AKHIR


Esai 9 - UAS

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A


Ferihana (23310410041)


Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Rekonstruksi Pemahaman Motivasi Berprestasi dan Psikologi Keberuntungan: Sebuah Tinjauan Kritis


Wacana mengenai karakteristik kewirausahaan dan determinan keberuntungan yang disajikan dalam teks stimulan di atas merupakan pemantik diskusi yang menarik. Namun, sebagai sebuah proposisi ilmiah yang menyentuh ranah psikologi perilaku, teks tersebut mengandung sejumlah distorsi terminologi yang fundamental serta ambiguitas etika yang perlu diluruskan. Melalui tinjauan kritis ini, saya akan membedah validitas teoretis yang digunakan serta menganalisis implikasi psikologis dari studi kasus yang ditampilkan dengan merujuk pada literatur klasik maupun riset kontemporer.


Pertama, koreksi mendasar harus dilakukan pada landasan epistemologis teori motivasi yang dikutip. Teks menyebutkan bahwa semangat berprestasi dikenal sebagai n Aff dan dikemukakan oleh Gregor McDouglas. Ini adalah kekeliruan fatal. Dalam literatur psikologi, Need for Achievement dikodekan sebagai n-Ach, sebuah konsep dari teori Needs Theory milik David McClelland, bukan Gregor McDouglas. Sebaliknya, n-Aff (Need for Affiliation) merujuk pada kebutuhan membangun relasi sosial.


Kekeliruan ini bukan sekadar masalah semantik. Riset-riset terbaru dalam psikologi kewirausahaan, seperti yang dipaparkan oleh Cui dan Bell (2022), menegaskan bahwa meskipun n-Ach adalah prediktor kuat intensi berwirausaha, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan sosial (terkait n-Aff). Seorang entrepreneur yang hanya memiliki n-Ach tinggi tanpa keseimbangan n-Aff berisiko mengalami kegagalan dalam manajemen tim. Kesalahan atribusi teori dalam teks tersebut berpotensi menyesatkan pemahaman mengenai dinamika kepribadian wirausaha yang kompleks.


Kedua, menyoal interpretasi teori keberuntungan (The Luck Factor) dari Richard Wiseman melalui tokoh Ruben. Narasi teks menggambarkan Ruben sebagai sosok "beruntung" karena mengisolasi diri dari masalah orang lain (Lorena). Interpretasi ini bertolak belakang dengan temuan Wiseman sendiri yang menekankan keterbukaan terhadap peluang (chance opportunities). Lebih jauh, studi kontemporer mengenai serendipity (keberuntungan yang tidak disengaja) dalam manajemen bisnis oleh Busch dan Barkema (2022) menunjukkan bahwa keberuntungan sering kali muncul dari interaksi sosial yang tak terduga, bukan dari isolasi diri. Sikap Ruben yang menutup diri justru mematikan potensi serendipity tersebut


Ketiga, dari perspektif psikologi positif dan kesehatan mental, pendekatan ego-sentris Ruben sangat bermasalah. Mengabaikan orang yang membutuhkan bantuan demi "fokus pribadi" adalah antitesis dari kesejahteraan psikologis. Riset terbaru dari Hui et al. (2020) dalam jurnal Psychological Bulletin membuktikan bahwa perilaku prososial dan altruisme (menolong orang lain) memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kesehatan fisik dan mental pelakunya.


Dalam konteks integrasi nilai, "meditasi pukul 3 pagi" yang dilakukan Ruben seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai self-enhancement, tetapi juga self-transcendence (melampaui diri sendiri). Jika ritual tersebut melahirkan sikap apatis terhadap penderitaan orang lain (seperti kasus Lorena), maka individu tersebut gagal mencapai kematangan emosi. Keberuntungan sejati, atau keberkahan, lahir ketika ambisi pribadi bersinergi dengan empati sosial.


Sebagai simpulan, narasi tersebut memerlukan revisi total. Kita harus mengembalikan definisi n-Ach pada teori McClelland yang sahih dan membuang atribusi fiktif Gregor McDouglas. Selain itu, konsep keberuntungan harus dimaknai ulang sesuai riset terkini: bahwa menjadi entrepreneur sukses bukan berarti menjadi pertapa yang egois. Justru, data ilmiah membuktikan bahwa mereka yang paling "beruntung" adalah mereka yang paling berdaya dalam membangun jejaring dan peduli pada sesama.


McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.


Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.


Busch, C., & Barkema, H. (2022). Planned Luck: How Incubators Can Facilitate Serendipity and Why It Matters. Entrepreneurship Theory and Practice, 46(4), 884–919. https://doi.org/10.1177/10422587211012678


Cui, J., & Bell, R. (2022). Behavioural Entrepreneurial Mindset: How Self-Efficacy, Need for Achievement, and Need for Affiliation Influence Entrepreneurial Intention. Frontiers in Psychology, 13, 1022131. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1022131


Hui, B. P. H., Ng, J. C. K., Berzaghi, E., Cunningham-Amos, L. A., & Kogan, A. (2020). Rewards of Kindness? A Meta-Analysis of the Link Between Prosocial Behavior and Well-Being. Psychological Bulletin, 146(12), 1084–1116. https://doi.org/10.1037/bul0000298


Kerr, S. P., Kerr, W. R., & Xu, T. (2018). Personality Traits of Entrepreneurs: A Review of Recent Literature. Foundations and Trends in Entrepreneurship, 14(3), 279–356.


Paul, J., & Benito, G. R. G. (2024). Entrepreneurship and Serendipity: A Review and Future Directions. Journal of Business Research, 170, 114321.

0 komentar:

Posting Komentar