11.1.26

ESAI 9 - UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI INOVASI KELAS SP & SJ

 ESAI 9 - UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI INOVASI KELAS SP & SJ


    "Semangat Berprestasi dan Keberuntungan dalam Diri Entrepreneur"



RIDHO PUTRA ARMANDO / 23310410024

MATA KULIAH PSIKOLOGI INOVASI 

DOSEN PENGAMPU: Dr. Dra. ARUNDATI SHINTA, M.A.

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

JANUARI 2026

Entrepreneur sering dipahami sebagai individu yang mampu melihat peluang di tengah keterbatasan dan berani mengambil risiko untuk mencapai tujuan. Salah satu karakter psikologis paling menonjol dari seorang entrepreneur adalah semangat berprestasi atau need for achievement (n Ach). Konsep ini menggambarkan dorongan internal individu untuk mencapai standar keberhasilan tertentu, menantang diri sendiri, serta bertanggung jawab atas hasil yang diperoleh. Dalam konteks psikologi inovasi, semangat berprestasi menjadi fondasi utama yang mendorong individu untuk terus berkembang, berinovasi, dan bertahan dalam situasi sulit.

McClelland melalui gagasan n Ach menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung memilih tujuan yang menantang namun realistis. Tujuan yang terlalu mudah tidak memberikan kepuasan, sedangkan tujuan yang terlalu sulit justru memicu kecemasan dan rasa tidak mampu. Oleh karena itu, entrepreneur yang sehat secara psikologis adalah mereka yang mampu menakar kemampuannya sendiri dan berani keluar dari zona nyaman secara terukur. Hal ini selaras dengan kisah Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984), yang digambarkan sebagai individu pekerja keras, fokus pada pengembangan diri, dan tidak larut dalam masalah orang lain yang dapat menghambat kemajuannya.

Namun, permasalahan yang sering muncul pada entrepreneur adalah kecenderungan untuk terlalu mengandalkan diri sendiri (self-centered achievement). Fokus berlebihan pada tujuan pribadi dapat membuat individu mengabaikan relasi sosial, masukan dari orang lain, bahkan kondisi emosionalnya sendiri. Dalam kasus Ruben, sikap menjauh dari Lorena dapat dipahami sebagai strategi menghindari distraksi, tetapi jika dilakukan secara ekstrem, hal ini berpotensi menimbulkan kesepian psikologis dan keterbatasan sudut pandang dalam pengambilan keputusan. Di sinilah muncul dilema antara fokus pada prestasi dan pentingnya hubungan sosial.

Robert Wiseman (2003) melalui konsep luck factor menjelaskan bahwa keberuntungan bukan semata kebetulan, melainkan hasil dari pola perilaku tertentu. Individu yang “beruntung” cenderung aktif membangun jaringan sosial, terbuka pada peluang baru, mampu mengambil keputusan intuitif, dan memiliki sikap optimis. Ruben menunjukkan beberapa prinsip ini, terutama dalam hal refleksi diri dan pengambilan keputusan yang matang melalui meditasi. Namun, ia relatif kurang pada aspek memperluas relasi sosial, padahal faktor tersebut juga berperan penting dalam keberhasilan jangka panjang seorang entrepreneur.

Solusi dari permasalahan ini adalah keseimbangan antara orientasi prestasi dan keterbukaan sosial. Entrepreneur perlu tetap memiliki need for achievement yang tinggi, tetapi juga menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai secara individual. Membangun relasi dengan orang-orang sukses, seperti yang disarankan Wiseman, bukan berarti kehilangan fokus, melainkan memperkaya perspektif dan peluang. Selain itu, praktik refleksi diri seperti meditasi yang dilakukan Ruben dapat dipertahankan sebagai sarana meningkatkan kepekaan emosional dan intuisi dalam mengambil keputusan.

Dengan demikian, entrepreneur ideal adalah individu yang mampu menetapkan tujuan menantang sesuai kapasitas diri, mengelola fokus secara sehat, serta membuka diri terhadap interaksi sosial yang konstruktif. Kombinasi antara semangat berprestasi (n Ach) dan pola perilaku keberuntungan (luck factor) akan membentuk pribadi entrepreneur yang tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga matang secara psikologis dan sosial.

Daftar Pustaka.

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the Poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles. New York: Hyperion.




0 komentar:

Posting Komentar