ESAI 9 - UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI INOVASI KELAS SP & SJ
"Semangat Berprestasi dan Keberuntungan dalam Diri
Entrepreneur"
Entrepreneur sering dipahami sebagai individu yang
mampu melihat peluang di tengah keterbatasan dan berani mengambil risiko untuk
mencapai tujuan. Salah satu karakter psikologis paling menonjol dari seorang
entrepreneur adalah semangat berprestasi atau need for achievement (n Ach).
Konsep ini menggambarkan dorongan internal individu untuk mencapai standar
keberhasilan tertentu, menantang diri sendiri, serta bertanggung jawab atas
hasil yang diperoleh. Dalam konteks psikologi inovasi, semangat berprestasi menjadi
fondasi utama yang mendorong individu untuk terus berkembang, berinovasi, dan
bertahan dalam situasi sulit.
McClelland melalui gagasan n Ach menjelaskan bahwa
individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung memilih tujuan yang
menantang namun realistis. Tujuan yang terlalu mudah tidak memberikan kepuasan,
sedangkan tujuan yang terlalu sulit justru memicu kecemasan dan rasa tidak
mampu. Oleh karena itu, entrepreneur yang sehat secara psikologis adalah mereka
yang mampu menakar kemampuannya sendiri dan berani keluar dari zona nyaman
secara terukur. Hal ini selaras dengan kisah Ruben dalam The Crocodile River
(Harper, 1984), yang digambarkan sebagai individu pekerja keras, fokus pada
pengembangan diri, dan tidak larut dalam masalah orang lain yang dapat
menghambat kemajuannya.
Namun, permasalahan yang sering muncul pada
entrepreneur adalah kecenderungan untuk terlalu mengandalkan diri sendiri
(self-centered achievement). Fokus berlebihan pada tujuan pribadi dapat membuat
individu mengabaikan relasi sosial, masukan dari orang lain, bahkan kondisi
emosionalnya sendiri. Dalam kasus Ruben, sikap menjauh dari Lorena dapat
dipahami sebagai strategi menghindari distraksi, tetapi jika dilakukan secara
ekstrem, hal ini berpotensi menimbulkan kesepian psikologis dan keterbatasan
sudut pandang dalam pengambilan keputusan. Di sinilah muncul dilema antara
fokus pada prestasi dan pentingnya hubungan sosial.
Robert Wiseman (2003) melalui konsep luck factor
menjelaskan bahwa keberuntungan bukan semata kebetulan, melainkan hasil dari
pola perilaku tertentu. Individu yang “beruntung” cenderung aktif membangun
jaringan sosial, terbuka pada peluang baru, mampu mengambil keputusan intuitif,
dan memiliki sikap optimis. Ruben menunjukkan beberapa prinsip ini, terutama
dalam hal refleksi diri dan pengambilan keputusan yang matang melalui meditasi.
Namun, ia relatif kurang pada aspek memperluas relasi sosial, padahal faktor
tersebut juga berperan penting dalam keberhasilan jangka panjang seorang
entrepreneur.
Solusi dari permasalahan ini adalah keseimbangan
antara orientasi prestasi dan keterbukaan sosial. Entrepreneur perlu tetap
memiliki need for achievement yang tinggi, tetapi juga menyadari bahwa
keberhasilan tidak selalu dicapai secara individual. Membangun relasi dengan
orang-orang sukses, seperti yang disarankan Wiseman, bukan berarti kehilangan
fokus, melainkan memperkaya perspektif dan peluang. Selain itu, praktik
refleksi diri seperti meditasi yang dilakukan Ruben dapat dipertahankan sebagai
sarana meningkatkan kepekaan emosional dan intuisi dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, entrepreneur ideal adalah individu
yang mampu menetapkan tujuan menantang sesuai kapasitas diri, mengelola fokus
secara sehat, serta membuka diri terhadap interaksi sosial yang konstruktif.
Kombinasi antara semangat berprestasi (n Ach) dan pola perilaku keberuntungan
(luck factor) akan membentuk pribadi entrepreneur yang tidak hanya sukses
secara materi, tetapi juga matang secara psikologis dan sosial.
Daftar Pustaka.
Harper, M. (1984). Entrepreneur for the Poor. London:
Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for
Technical Co-operation).
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four
Essential Principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar