11.1.26

ESAI-9 UJIAN AKHIR SEMESTER

 ESAI-9 UJIAN AKHIR SEMESTER

KEBERUNTUNGAN YANG DICIPTAKAN



Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu  : Dr. Arundati Shinta, M.A


Oleh : Azizah Nur’aeni 23310410030




Salah satu nasihat entrepreneur yang saya kagumi berbunyi,
“Bagi seorang entrepreneur bukanlah seberapa cepat ia mencapai tujuan, melainkan apakah tujuan itu benar-benar menantang kemampuannya. Tanpa tantangan, tidak ada pertumbuhan. Tanpa pertumbuhan, inovasi hanya menjadi pengulangan.”
Kalimat sederhana yang cukup powerfull maknanya dan sejalan dengan psikologi inovasi yang saya pelajari di semester ini. Mau memaksa diri untuk berubah, adaptif dan kreatif dalam menghadapi tantangan dalam perjalanan prosesnya, serta berani untuk keluar dari zona nyaman.

Tujuan yang menantang selalu berada di wilayah 'cukup sulit', di luar zona nyaman. Tujuan ini membuat seseorang harus berpikir, belajar, dan mencoba cara baru, tetapi tetap memberi ruang bagi rasa percaya diri. Di sinilah letak pentingnya kesetaraan antara tujuan dan kemampuan. Tujuan itu harus setara dengan tingkat kemampuan seseorang, sehingga ia percaya bahwa tujuan tersebut akan mungkin dicapai. Bukan karena mudah, tetapi karena ia mengenal kapasitas dirinya sendiri. Dalam psikologi inovasi, proses ini merupakan bentuk kesadaran diri, yaitu kesadaran tentang batas, potensi, dan ruang untuk bertumbuh.

Konsep ini sejalan dengan gagasan need for achievement (n Aff), dorongan berprestasi yang menjadi karakteristik utama seorang entrepreneur. Individu dengan n Aff yang tinggi tidak sekadar ingin berhasil, tetapi ingin berhasil melalui usaha terbaiknya. Ia tidak tertarik pada kemenangan instan, melainkan pada proses menaklukkan tantangan yang menguji kapasitas diri. Menurut Gregor McDouglass, nAff bukanlah bakat bawaan semata. Ia bisa dilatih, dibentuk, dan diasah melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten, seperti menetapkan target, menuliskan tujuan positif, dan berani menempatkan diri dalam situasi kompetitif.

Menariknya, bagi orang lain dorongan berprestasi ini sering kali terlihat seperti keberuntungan dari luar. Orang dengan n Aff tinggi tampak lebih sering berada dalam kondisi yang menguntungkan. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, keberuntungan tersebut tidak muncul secara kebetulan. Kita bisa melihat dalam kisah Ruben pada kasus The Crocodile River. Ruben bukan tokoh yang ajaib, tetapi ia memiliki cara berpikir dan bertindak yang membuat hidupnya terasa lebih terarah dan aman.

Menurut Wiseman, keberuntungan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya acak. Ada empat faktor psikologis yang membuat seseorang cenderung lebih beruntung. Faktor pertama adalah lingkungan sosial. Individu yang beruntung cenderung bergaul dengan orang-orang yang sukses, berpikiran positif, dan berorientasi pada solusi. Faktor kedua adalah kebiasaan mengembangkan keterampilan diri. Orang yang beruntung biasanya rajin melatih kemampuan dan tidak mudah terdistraksi oleh urusan yang tidak relevan dengan tujuan hidupnya. Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari peristiwa negatif. Dan faktor keempat adalah kejelian dalam mengambil keputusan.

Jika dilihat melalui teori keberuntungan Robert Wiseman, perilaku Ruben menunjukkan pola yang jelas. Ruben selektif dalam pergaulan, memilih untuk tidak terlibat dengan individu yang penuh masalah seperti Lorena. Keputusan Ruben ini bukan semata-mata bentuk ketidakpedulian, melainkan upaya menjaga fokus hidupnya. Ruben juga konsisten melatih keterampilan dan kesadaran diri, salah satunya melalui meditasi di waktu-waktu sunyi. Meditasi ini membantunya mengasah kepekaan dalam mengambil keputusan. Ini adalah sebuah kemampuan penting bagi individu inovatif yang hidup dalam ketidakpastian.

Ruben juga menunjukkan kemampuan melihat sisi positif dari potensi masalah. Ia tidak menunggu musibah terjadi, tetapi memilih mencegahnya sejak awal. Dalam psikologi inovasi, sikap ini mencerminkan kemampuan mengelola risiko, bukan menghindarinya secara pasif. Ia sadar bahwa tidak semua kesempatan itu layak diambil, dan tidak semua bentuk empati harus diwujudkan dengan keterlibatan langsung.

Jika demikian, sampai di mana fokus pada pencapaian diri bisa dibenarkan?
Apakah menjadi individu yang berprestasi berarti harus selalu menjaga jarak dari persoalan orang lain? Dalam kisah Ruben, apakah menjauh dari Lorena sepenuhnya bisa dibenarkan? Apakah fokus pada pencapaian pribadi harus selalu mengorbankan empati dan kepedulian sosial?

Dalam perspektif psikologi inovasi, nAff yang sehat seharusnya tidak hanya menghasilkan individu yang sukses secara personal, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampak sosial dari setiap keputusan. Inovasi yang berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara ambisi, kesadaran diri, dan nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, dorongan berprestasi yang kuat perlu disertai kebijaksanaan dalam berelasi.

Esai ini ingin menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah sesuatu yang ‘jatuh begitu saja dari langit’. Keberuntungan seringkali merupakan hasil dari cara seseorang berpikir, memilih lingkungan, melatih diri, dan mengambil keputusan. Need for achievement atau nAff menjadi motor psikologis yang mendorong individu untuk terus bergerak, mencoba, dan berkembang. Dalam konteks psikologi inovasi, nAff bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi tentang bagaimana seseorang membentuk hidupnya secara sadar dan bertanggung jawab.





Daftar Pustaka

Harper, G. (1984). The Crocodile River.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles.

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society.

McClelland, D. C. (1987). Human Motivation.

Handaru, A. W., Parimita, W., & Mufdhalifah, I. W. (2015). Membangun intensi berwirausaha melalui adversity quotient, self-efficacy, dan need for achievement. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan.



0 komentar:

Posting Komentar