11.1.26

Esai 9 - Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

 Tugas Esai 9 : Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.


Amelia Natasya Rivani (23310410086)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Dalam kajian psikologi inovasi, keberhasilan wirausahawan sering dijelaskan oleh dua hal utama: dorongan berprestasi dari dalam diri dan sesuatu yang tampak seperti keberuntungan yang mengiringinya (McClelland, 1961). Namun, agar tidak salah paham, teori yang dipakai harus dijelaskan dengan tepat dan tidak boleh ada kekeliruan istilah maupun nama tokoh. Permasalahan pertama ada pada penggunaan istilah motivasi berprestasi. Dalam teks sumber, dorongan untuk berprestasi disebut sebagai n-Aff, padahal dalam teori McClelland, n-Aff berarti need for affiliation atau kebutuhan untuk diterima dan dekat dengan orang lain. Yang dimaksud semangat berprestasi sebenarnya adalah n-Ach (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk mencapai standar keberhasilan tertentu dan merasa puas ketika berhasil menaklukkan tantangan. Kesalahan istilah ini tidak bisa dianggap sepele, karena akan mengaburkan fokus: seorang inovator digerakkan oleh keinginan mencapai prestasi (n-Ach), bukan sekadar ingin disukai orang lain (n-Aff).​

Permasalahan kedua adalah kekeliruan dalam menyebut nama tokoh. Teks sumber menuliskan “Gregor McDouglas” sebagai penggagas konsep ini, padahal yang benar adalah David McClelland, psikolog dari Harvard yang meneliti need for achievement dan melakukan penelitian lapangan di India. Secara ilmiah, pencantuman nama tokoh yang salah dapat merusak kredibilitas argumen, karena inovasi yang kokoh selalu bertumpu pada data dan rujukan yang akurat. Meskipun demikian, penjelasan mengenai pentingnya tingkat kesulitan tujuan sudah sejalan dengan teori: tujuan yang terlalu mudah membuat individu cepat bosan, sedangkan tujuan yang terlalu sulit bisa membuat orang menyerah sebelum mencoba.​

Selanjutnya, kasus Ruben dalam The Crocodile River memberikan ilustrasi menarik tentang bagaimana “keberuntungan” sebenarnya dibentuk oleh perilaku tertentu, bukan sekadar nasib baik tanpa sebab (Harper, 1984). Richard Wiseman menjelaskan bahwa orang yang “beruntung” biasanya menjalankan serangkaian pola pikir dan kebiasaan tertentu, seperti membangun jaringan, peka terhadap peluang, bersikap optimis, dan mampu mengubah musibah menjadi kesempatan. Dalam cerita tersebut, Ruben memilih untuk tidak terlibat dalam masalah Lorena yang penuh risiko, rajin mengasah keterampilan dan fokus pada persoalan dirinya sendiri, serta melatih kepekaan melalui meditasi pada dini hari. Keputusan-keputusan ini secara psikologis dapat dipahami sebagai bentuk manajemen risiko, penguatan kompetensi diri, dan pengembangan intuisi dalam pengambilan keputusan (Wiseman, 2003)..​

Di sisi lain, sikap Ruben yang terkesan “cuek” dan enggan menolong Lorena menimbulkan perdebatan moral. Dari sudut pandang psikologi inovasi, perilaku ini dapat dibaca sebagai usaha untuk mencegah masuknya faktor negatif yang dapat menghambat tujuan hidupnya (Wiseman, 2003). Ruben tidak ingin terseret ke dalam masalah orang lain yang tidak ada kaitannya dengan misinya, sehingga ia memilih menjaga jarak. Sikap ini sejalan dengan prinsip bahwa individu perlu menjaga batas (boundary) agar energi psikologis tetap terfokus pada tujuan yang ingin dicapai. Namun, secara etis, hal ini tetap perlu diimbangi dengan empati dan pertimbangan konteks, agar orientasi prestasi tidak berubah menjadi pengabaian total terhadap orang lain.​

Sebagai solusi, dorongan berprestasi (n-Ach) dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana tetapi konsisten. Misalnya, dengan rutin menuliskan tujuan yang menantang namun realistis, mengevaluasi pencapaian diri, dan membiasakan diri untuk melihat sisi positif dari kegagalan sebagai bahan refleksi. Selain itu, prinsip-prinsip dalam teori keberuntungan Wiseman dapat diterapkan dengan cara: memperluas pergaulan dengan orang-orang yang suportif dan produktif, aktif mencari peluang baru, serta melatih ketenangan pikiran melalui latihan mindfulness atau meditasi singkat sebelum mengambil keputusan penting. Dengan demikian, “keberuntungan” tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi sebagai hasil pertemuan antara persiapan, pola pikir sehat, dan kejelian dalam membaca situasi.​

Pada akhirnya, menjadi inovatif berarti menggabungkan dorongan prestasi yang kuat (n-Ach) dengan kemampuan mengelola lingkungan, emosi, dan peluang seperti yang tergambar dalam perilaku Ruben. Ketelitian dalam menggunakan istilah (n-Ach, bukan n-Aff) dan ketepatan menyebut tokoh (McClelland, bukan Gregor McDouglas) menunjukkan bahwa seorang calon wirausahawan tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga kritis dan cermat secara ilmiah. Dengan fondasi teoritis yang benar dan kebiasaan yang mendukung, keberuntungan dalam wirausaha bukan lagi rahasia, tetapi sesuatu yang bisa dilatih dan diciptakan (Wiseman, 2003).

 

Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ.​

McClelland, D. C. (1961). The achieving society. Princeton, NJ: Van Nostrand.​

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.​

 

0 komentar:

Posting Komentar