12.1.26

ESSAY 7 : Big Achievement

Menaklukkan Badai: Kemenangan Hening di Tahun 2025


Ferihana NIM 23310410041

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A


Bagi sebagian orang, diam adalah ketiadaan suara. Namun bagi saya, seorang dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), diam sering kali terasa seperti sebuah ancaman. Otak saya bekerja layaknya browser internet dengan seratus tab yang terbuka sekaligus; penuh notifikasi, ide yang melompat-lompat, dan kebutuhan konstan akan dopamin. Oleh karena itu, jika Anda bertanya apa pencapaian terbesar saya di tahun 2025, saya tidak akan menjawab tentang omzet bisnis, gelar akademik, atau popularitas.

Pencapaian terbesar saya tahun ini adalah kemampuan saya menaklukkan diri sendiri: berhasil menyelesaikan retreat meditasi selama 12 hari penuh, dan secara total melakukannya sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2025.

Mengingat kondisi neurologis saya, keputusan untuk mengikuti retreat ini terdengar seperti misi bunuh diri mental. Bayangkan, seseorang yang otaknya didesain untuk terus bergerak dan mencari stimulasi, tiba-tiba harus masuk ke dalam zona Noble Silence (keheningan mulia). Tidak ada percakapan, tidak ada kontak mata, dan yang paling menakutkan: tidak ada handphone sama sekali. Bagi seorang ADHD, ponsel sering kali menjadi "kruk" untuk mengalihkan kegelisahan. Melepaskannya selama 12 hari terasa seperti melepaskan tabung oksigen saat menyelam.

Hari-hari awal retreat adalah neraka kecil bagi ego saya. Tubuh saya menjerit ingin bergerak. Pikiran saya memberontak, menciptakan skenario-skenario liar hanya untuk menghibur diri dari kebosanan. "Kenapa saya di sini?" "Apa yang terjadi di luar sana?" "Saya tidak bisa melakukan ini." Suara-suara itu begitu bising. Namun, justru di sanalah pertempurannya.

Saya belajar untuk tidak melawan ombak pikiran itu, melainkan berselancar di atasnya.

Perlahan, sebuah keajaiban terjadi. Ketika saya dipaksa duduk berjam-jam, memejamkan mata, dan hanya mengamati napas, "badai" di kepala saya mulai melambat. Tanpa gangguan eksternal, tanpa dopamine hit dari media sosial, otak saya mulai beradaptasi dengan ketenangan. Saya menemukan bahwa di balik lapisan hiperaktifitas saya, ada ruang hening yang selama ini tidak pernah saya sentuh.

Saya bisa duduk tegak, berjam-jam, tanpa bergerak. Sebuah hal yang mustahil saya bayangkan sebelumnya. Saya menyadari bahwa Noble Silence bukan sekadar larangan berbicara, melainkan sebuah metode detoksifikasi jiwa. Ketika mulut terkunci, batin mulai berbicara dengan jujur.

Keberhasilan menyelesaikan 12 hari pertama itu menjadi titik balik. Namun, saya tidak berhenti di sana. Saya ingin membuktikan bahwa ini bukan keberuntungan pemula. Sepanjang tahun 2025, saya kembali lagi dan lagi. Total 5 kali retreat. Saya mendedikasikan waktu, tenaga, dan mental untuk proses ini.

Ini adalah rekor pribadi yang melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk diri saya sendiri. Mengapa ini menjadi pencapaian terbaik? Karena ini adalah bukti kontrol diri. Sebagai pengidap ADHD, sering kali saya merasa dikendalikan oleh impuls. Namun, di atas bantal meditasi itu, saya mengambil alih kendali. Saya membuktikan bahwa label diagnosis tidak membatasi kemampuan saya untuk mencapai kedamaian dan fokus yang mendalam.

Tahun 2025 bukan hanya tahun di mana saya bertahan hidup, tapi tahun di mana saya benar-benar "hidup" dalam momen saat ini (present moment). Saya belajar bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang dicari di luar, melainkan sesuatu yang dibangun di dalam, bahkan di tengah badai sirkuit otak yang berbeda.

Kini, saya bisa berkata dengan bangga: Saya telah berdamai dengan keriuhan di kepala saya. Saya telah menemukan rumah dalam keheningan. Dan bagi saya, itu adalah kemenangan yang jauh lebih berharga daripada piala apa pun di dunia ini.

0 komentar:

Posting Komentar