ESAI PRESTASI
BELAJAR DARI LANSIA TENTANG MAKNA KEHIDUPAN
DAN MENJADI MANUSIA BERDAYA
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Oleh : Azizah Nur’aeni 23310410030
Menjadi berdaya tidak selalu berarti mampu menciptakan sesuatu yang besar atau berdampak luas. Dalam banyak situasi, keberdayaan justru hadir ketika seseorang mampu memberi makna bagi orang lain, meskipun melalui hal-hal yang sederhana. Dalam perspektif psikologi inovasi, keberdayaan dapat dipahami sebagai kemampuan individu untuk menciptakan nilai baru, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan melalui empati, inisiatif, dan keberanian untuk terlibat secara langsung.
Pengalaman tersebut saya rasakan ketika mengunjungi sebuah panti lansia. Kami mengunjungi Panti Wreda Kalyanamitra Wulan Bahagia di kecamatan Mlati, Sleman. Kunjungan ini kami rancang sebagai sebuah program sederhana yang bertujuan untuk menghadirkan ruang interaksi yang hangat dan bermakna bagi para lansia. Dalam kegiatan tersebut, kami melakukan senam bersama, berbagi cerita, serta memainkan beberapa permainan ringan. Meskipun kegiatan yang dilakukan terbilang sederhana, suasana yang tercipta terasa hidup dan penuh kehangatan.
Hal yang paling membekas bagi saya adalah respons para lansia. Berkali-kali kami mendengar ucapan terima kasih karena mereka merasa dikunjungi, dihibur, dan diberi ruang untuk bercerita. Antusiasme mereka terlihat ketika diminta menceritakan masa paling bahagia dalam hidupnya. Ada yang bercerita tentang keluarga, masa muda, perjuangan hidup, hingga pencapaian kecil yang ternyata sangat bermakna bagi mereka. Dari cerita-cerita tersebut, saya menyadari bahwa kebutuhan untuk didengar dan dihargai tidak pernah hilang, meskipun seseorang telah memasuki usia lanjut.
Tidak hanya berbagi cerita, para lansia juga memberikan banyak wejangan dan nasihat kehidupan kepada kami. Mereka berbicara tentang pentingnya mengenali potensi diri, menjaga hubungan dengan sesama, dan menerima setiap fase kehidupan dengan lapang dada. Dalam momen ini, peran kami perlahan bergeser dari yang awalnya datang untuk “memberi”, menjadi pihak yang justru banyak “menerima”. Saya merasa diberdayakan bukan karena merasa lebih, tetapi karena dipercaya untuk mendengarkan dan belajar dari pengalaman hidup mereka.
Pengalaman ini juga mengajarkan saya tentang konsep psikogerontologi, khususnya mengenai successful aging atau menua dengan sukses. Dari interaksi bersama para lansia, saya belajar bahwa menua dengan sukses tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kesejahteraan psikologis, relasi sosial, dan kemampuan untuk memaknai hidup. Lansia yang tetap mampu berbagi cerita, memberi nasihat, dan merasa dihargai menunjukkan bahwa mereka masih memiliki peran dan makna dalam kehidupan sosial.
Dalam perspektif psikologi inovasi, program kunjungan ke panti lansia ini merupakan bentuk inovasi sosial sederhana. Kami tidak membawa teknologi atau metode yang kompleks, tetapi menghadirkan pendekatan baru dalam membangun relasi antargenerasi. Inovasi ini terletak pada keberanian untuk menciptakan ruang aman bagi lansia agar dapat mengekspresikan diri, sekaligus memberi kesempatan bagi kami untuk belajar dan bertumbuh.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa keberdayaan tidak selalu tentang posisi atau kemampuan yang lebih tinggi, melainkan tentang kesediaan untuk hadir dan memberi manfaat. Dengan mengunjungi, mendengarkan, dan berinteraksi secara tulus, saya merasa ikut berkontribusi dalam menciptakan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Di saat yang sama, pengalaman tersebut juga memperkaya pemahaman saya tentang kehidupan, penuaan, dan makna menjadi manusia yang berdaya.



0 komentar:
Posting Komentar