11.1.26

Esai Prestasi 12 (Fitri_Reguler A)

 Esai prestasi 12 vol BA

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Fitri Novia Rizka (23310410057)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Di era digital saat ini, brand ambassador telah berevolusi dari yang awaknya ssekadar endorser selebriti menjadi sebuah agen perubahan yang memiliki pengaruh autentik dalam membangun hubungan baik secara emosional antara perusahaan dengan konsumen. Menurut Nielsen (2023), ditemukan sekitar 92% dari konsumen lebih percaya rekomendasi dari influencer daripada iklan tradisional. Hal ini menjadikan peran brand ambassador memiliki posisi yang snagat krusial dalam strategi pemasaran.

Menjadi brand ambassador memerlukan fondasi psikologis yang kuat, di mana autentisitas menjadi prediktor utama efektivitas. Menurut Djafarova dan Rushworth (2017) dalam Psychology & Marketing menemukan bahwa konsumen merespons positif terhadap ambassador dengan tingkat autentisitas tinggi, hal ini terbukti dapat mengaktifkan mekanisme trust transfer dari individu ke merek. Secara spesifik, model Source Credibility (Hovland et al., 1953) menekankan tiga dimensi: keahlian (expertise), kepercayaan (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness).

Dimensi expertise memungkinkan ambassador menyampaikan pesan dengan otoritas yang kredibel, sehingga konsumen memandangnya sebagai sumber informasi terpercaya. Trustworthiness membangun ikatan jangka panjang melalui transparansi dan konsistensi, mengurangi persepsi manipulasi pemasaran. Sementara itu, attractiveness menciptakan efek aspirasional, di mana konsumen mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai yang diwakili ambassador, sehingga merek terasa lebih relatable. Penelitian empiris menunjukkan integrasi ketiga dimensi ini dapat meningkatkan niat beli hingga 35%.

Dalam konteks lokal Indonesia, peran ini terlihat pada brand ambassador webinar internasional Scopus dan Rumah Disabilitas, yang memanfaatkan expertise dalam psikologi pendidikan untuk kampanye inklusi. Autentisitas mereka tidak hanya meningkatkan awareness, tetapi juga mendorong perubahan sosial, seperti peningkatan relawan untuk anak berkebutuhan khusus. Hal ini selaras dengan temuan bahwa ambassador dengan relevansi sosial tinggi memperkuat citra merek berkelanjutan

Meskipun efektif, tantangan utama adalah mempertahankan autentisatis di tengah tekanan komersial, di mana inkonsistensi dapat merusak kepercayaan. Strategi mitigasi mencakup seleksi berbasis psikometri, pelatihan berkelanjutan untuk memperkuat dimensi Hovland, dan monitoring brand fit. Dengan pendekatan ini, brand ambassador bertransformasi dari alat promosi menjadi katalisator loyalitas konsumen dan transformasi sosial.


Ilustrasi Foto



https://www.instagram.com/reel/DSAbvTnE9XL/?igsh=N2dydnk1eDk0ZHJt


Daftar Pustaka

Djafarova, E., & Rushworth, C. (2017). Exploring the credibility of online celebrities... Psychology & Marketing, 34(1), 61–75.

Hovland, C. I., et al. (1953). Communication and persuasion. Yale University Press.


0 komentar:

Posting Komentar