ESSAI 6 PERUBAHAN DIRI
PSIKOLOGI INOVASI
Dr, Arundati Shinta, M.A
Tsalitsah Nadia Qunaita
25310420003
Kelas A
Psikologi Inovasi
Banyak orang bilang kalau mengubah diri itu sulit. Tapi sebenarnya, perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, saya belajar bahwa inovasi bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal bagaimana kita memperbarui diri sendiri. Untuk itu, sejak September 2025, saya menantang diri saya sendiri untuk rutin jogging minimal satu jam setiap minggu selama lebih dari 10 minggu tanpa putus.
Selama menjalani kegiatan ini, rasanya campur aduk. Sukanya, saya merasa badan jadi jauh lebih segar dan pikiran lebih tenang setelah lari. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat berhasil mencapai garis finis atau target waktu yang ditentukan. Namun, dukanya tentu saja rasa malas. Kadang cuaca mendung atau rasa capek setelah kuliah membuat saya ingin menyerah. Di sinilah mental saya diuji untuk tetap konsisten dan tidak mencari alasan untuk berhenti.
Jika melihat data yang saya catat, ada perkembangan yang membuat saya bangga. Di minggu pertama, saya hanya kuat lari sejauh 3,9 km dalam waktu 65 menit. Rasanya sangat melelahkan. Tapi karena saya melakukannya rutin setiap minggu, fisik saya mulai terbiasa. Pada minggu ke-10, saya sudah bisa menempuh jarak 8,4 km dalam waktu 117 menit. Kalau dihitung rata-ratanya, setiap minggu saya berolahraga selama kurang lebih 84 menit. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa ada "nilai tambah" dalam diri saya, yaitu stamina yang meningkat pesat.
Hubungan antara perubahan diri ini dengan Psikologi Inovasi sangat erat. Inovasi diri menuntut kita untuk berani mencoba kebiasaan baru dan disiplin dalam menjalaninya. Dalam proses ini, saya belajar untuk mengelola hambatan (seperti rasa malas) dengan mencari cara kreatif agar tetap semangat, misalnya dengan mendengarkan musik atau mencoba rute baru. Ini adalah bentuk sederhana dari cara berpikir inovatif: mencari solusi agar tujuan tetap tercapai meskipun ada kendala.
Manfaat yang paling saya rasakan bukan hanya soal fisik, tapi soal kedisiplinan. Dengan mencatat perkembangan setiap minggu, saya jadi belajar untuk menghargai proses. Saya sadar bahwa untuk menjadi lebih baik, kita perlu data yang jelas untuk melihat sejauh mana kita sudah melangkah. Kebiasaan baru ini perlahan mengubah pola pikir saya menjadi lebih positif dan tidak gampang menyerah saat menghadapi tantangan lain di luar urusan olahraga.
Sebagai kesimpulan, perjalanan selama 10 minggu ini mengajarkan saya bahwa perubahan diri yang positif itu sangat mungkin dilakukan asalkan kita punya niat dan kemauan untuk terus konsisten. Jogging bukan lagi sekadar olahraga bagi saya, tapi sudah menjadi bagian dari cara saya menginovasi diri menjadi pribadi yang lebih sehat, disiplin, dan tangguh.


0 komentar:
Posting Komentar