12.1.26

ESAI-6 PERUBAHAN DIRI

 ESAI-6 PERUBAHAN DIRI

TERUS MELANGKAH MESKI PROSESNYA TIDAK MUDAH



Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu  : Dr. Arundati Shinta, M.A


Oleh : Azizah Nur’aeni 23310410030


source:pinterest

Perubahan diri seringkali dibayangkan sebagai sesuatu yang sederhana, padahal dalam praktiknya perubahan menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi resistensi dari dalam diri sendiri. Dalam perspektif psikologi inovasi, perubahan tidak selalu berbentuk penciptaan sesuatu yang besar atau baru secara eksternal, melainkan juga dapat terwujud melalui upaya individu menciptakan cara baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk perubahan diri yang saya lakukan adalah membangun kebiasaan jalan sehat secara konsisten selama 10 minggu.

Awalnya, aktivitas jalan sehat ini saya lakukan sebagai bagian dari tugas mata kuliah psikologi inovasi. Pada tahap ini, perubahan belum sepenuhnya didorong oleh kebutuhan internal, melainkan oleh tuntutan akademik. Namun demikian, keputusan untuk memulai tetap membutuhkan kemauan keras. Saya harus “memaksa diri” untuk bergerak, meluangkan waktu, dan menghadapi rasa tidak nyaman, terutama pada fase awal. Memulai menjadi bagian tersulit karena saya harus meninggalkan kebiasaan lama yang lebih pasif dan memasuki pola baru yang belum familiar.


Data yang tercermin dalam grafik jalan sehat menunjukkan adanya peningkatan waktu dan jarak tempuh pada lima minggu pertama. Waktu berjalan meningkat dari 60,5 menit menjadi 75 menit, sementara jarak tempuh bertambah dari 1,1 km menjadi 2,2 km. Bagi saya, fase ini merupakan tahap adaptasi, di mana tubuh dan pikiran mulai belajar menyesuaikan diri dengan pola aktivitas baru. Dalam psikologi inovasi, proses ini sejalan dengan fase eksplorasi dan trial and adjustment, yaitu mencoba perilaku baru sambil mengevaluasi dampaknya terhadap diri sendiri.

Namun, perubahan tidak selalu berjalan secara linear. Grafik menunjukkan adanya penurunan waktu dan jarak tempuh pada minggu keenam dan kedelapan. Pada awalnya, penurunan ini sempat saya maknai sebagai kemunduran. Akan tetapi, melalui refleksi, saya menyadari bahwa fluktuasi tersebut merupakan bagian yang wajar dalam proses perubahan diri. Kondisi cuaca, fisik, kelelahan, serta tuntutan aktivitas sehari-hari turut memengaruhi performa. Dalam perspektif psikologi inovasi, ketidakstabilan ini justru menegaskan bahwa inovasi perilaku bersifat dinamis dan adaptif.

Hal yang paling bermakna bagi saya bukanlah kenaikan angka yang terus-menerus, melainkan konsistensi untuk tetap melanjutkan aktivitas jalan sehat meskipun hasilnya tidak selalu meningkat. Konsistensi ini menjadi indikator keberhasilan tersendiri karena menunjukkan adanya komitmen dan regulasi diri. Saya belajar bahwa inovasi perilaku tidak menuntut kesempurnaan, tetapi keberlanjutan. Tetap melangkah, meskipun perlahan, merupakan langkah nyata dalam proses perubahan diri.

Pada minggu-minggu akhir, waktu berjalan cenderung stabil pada kisaran 65 menit dengan jarak tempuh sekitar 2,0–2,1 km. Stabilitas ini saya maknai sebagai tanda bahwa aktivitas jalan sehat tidak lagi terasa sebagai beban. Tubuh mulai terbiasa, dan saya mulai merasakan dampak positif, baik secara fisik maupun psikologis. Pada titik ini, makna aktivitas tersebut mengalami pergeseran yang awalnya dilakukan sebagai pemenuhan tugas akademik, perlahan berubah menjadi kebutuhan pribadi.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa perubahan diri membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan kemauan keras untuk memulai, meskipun dengan paksaan terhadap diri sendiri. Proses yang terasa berat di awal tidak serta-merta menandakan kegagalan, melainkan bagian dari adaptasi. Ketika perilaku baru dilakukan secara konsisten dan mulai memberikan dampak positif, perubahan tersebut perlahan terinternalisasi dan berkembang menjadi kebiasaan (habit).

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control.

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). New York: Free Press.

Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009.


0 komentar:

Posting Komentar