11.1.26

ESSAI 9 – UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI INOVASI

 

ESSAI  9 – UJIAN AKHIR SEMESTER

“Analisis Kasus Ruben dalam The Crocodile River”

Kania Ika Mudmainnah

23310410034

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Konsep need for achievement atau nAff yang dikemukakan oleh Gregor McDouglas memberikan landasan penting dalam memahami psikologi seorang entrepreneur. Dorongan untuk berprestasi bukan sekadar keinginan untuk sukses, melainkan sebuah kebutuhan psikologis untuk menaklukkan tantangan yang setara dengan kapasitas diri. Individu dengan nAff tinggi tidak mencari tujuan yang terlalu mudah karena itu tidak memberi makna, tetapi juga tidak memilih target yang mustahil karena hanya akan melahirkan keputusasaan. Mereka berada pada wilayah optimal, yaitu zona tantangan yang membuat mereka bertumbuh. Dalam konteks ini, nAff menjadi motor penggerak utama inovasi dan kewirausahaan, karena seseorang terdorong untuk terus meningkatkan standar dirinya.

McDouglas juga menekankan bahwa nAff bukanlah sifat bawaan semata, melainkan dapat dilatih. Kebiasaan menulis hal-hal positif dan kompetitif, serta keterlibatan dalam aktivitas yang menantang, memperkuat orientasi berprestasi. Praktik ini melatih pikiran untuk fokus pada pencapaian dan peluang, bukan pada ketakutan atau kegagalan. Ketika individu terus mengulang pola berpikir seperti ini, struktur kognitifnya berubah: ia menjadi lebih percaya diri, lebih berani mengambil risiko terukur, dan lebih gigih ketika menghadapi hambatan. Inilah landasan psikologis yang kemudian membuat seseorang tampak “beruntung”.

Kasus Ruben dalam The Crocodile River memperlihatkan bagaimana nAff dan konsep keberuntungan ala Robert Wiseman saling berkelindan. Ruben bukanlah tokoh yang pasif menunggu nasib baik, melainkan individu yang secara aktif membangun kondisi psikologis dan sosial yang mendukung keberhasilannya. Ia memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang produktif dan fokus pada pengembangan diri. Keputusan untuk tidak terjebak dalam masalah Lorena mencerminkan batas psikologis yang sehat. Bukan berarti Ruben tidak memiliki empati, tetapi ia sadar bahwa tenggelam dalam problem orang lain yang destruktif justru menghambat pertumbuhan dirinya sendiri.

Faktor kedua dari Wiseman, yakni rajin melatih keterampilan, juga terlihat jelas pada Ruben. Ia berfokus pada persoalan yang bisa ia kendalikan dan tidak membiarkan energinya tersedot oleh konflik yang tidak produktif. Dalam psikologi inovasi, ini disebut sebagai locus of control internal: keyakinan bahwa hasil hidup ditentukan terutama oleh usaha sendiri. Individu dengan locus of control seperti ini lebih mungkin menemukan solusi kreatif, karena mereka merasa bertanggung jawab terhadap masa depan mereka.

Sikap Ruben dalam melihat sisi positif dari potensi musibah juga merupakan bentuk kognisi adaptif. Ia melakukan pencegahan dan menghindari risiko yang tidak perlu, termasuk risiko sosial yang dibawa Lorena. Ini bukanlah sikap egois, melainkan strategi bertahan hidup yang rasional. Dalam dunia nyata, banyak orang gagal bukan karena kurang berbakat, tetapi karena terlalu lama terjebak dalam lingkungan yang penuh drama dan masalah.

Meditasi yang dilakukan Ruben setiap dini hari mencerminkan faktor keempat Wiseman: kejelian dalam mengambil keputusan. Meditasi meningkatkan kesadaran diri dan kejernihan berpikir, sehingga intuisi menjadi lebih tajam. Dalam kondisi batin yang tenang, seseorang lebih mampu membaca peluang dan ancaman dengan objektif. Ini selaras dengan nAff, karena individu yang haus prestasi akan terus mencari cara terbaik untuk menyelaraskan tujuan dengan realitas.

Namun, tetap perlu dikritisi bahwa mengabaikan orang seperti Lorena tidak boleh disederhanakan sebagai kebenaran moral universal. Dalam konteks sosial, empati dan solidaritas tetap penting. Akan tetapi, dari perspektif psikologi inovasi, Ruben menunjukkan bahwa keberhasilan sering kali menuntut disiplin emosional: memilih kapan harus menolong dan kapan harus menjaga jarak demi tujuan jangka panjang. Dengan demikian, Ruben bukan hanya “beruntung”, melainkan secara aktif menciptakan keberuntungannya melalui nAff yang kuat, lingkungan yang tepat, pengelolaan diri, dan kejernihan dalam mengambil keputusan. 

DAFTAR PUSTAKA

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:

Posting Komentar