11.1.26

ESAI - 9 UJIAN AKHIR SEMESTER

 Esai 9

UJIAN AKHIR SEMESTER 

PUTRA RAMADHANI 25310420006



Psikologi Inovasi 

Dr. Arundati Sinta, M.A.

Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamsi 45

2026

Menurut saya jika Ruben tidak memiliki faktor keberuntungan sebagaimana dikemukakan oleh Robert Wiseman dan juga tidak memiliki jiwa entrepreneur yang ditandai dengan need for achievement (n-Ach), maka cara berpikir dan perilakunya dapat dipahami sebagai cerminan individu yang pasif, defensif, serta cenderung menghindari tantangan hidup. Dalam kondisi ini, sikap Ruben terhadap Lorena bukan lagi dapat dipandang sebagai bentuk rasionalitas kewirausahaan, melainkan lebih sebagai mekanisme perlindungan diri akibat rendahnya motivasi dan kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.

Dalam teori need for achievement, individu dengan n-Ach rendah umumnya tidak terdorong untuk menetapkan tujuan yang menantang. Mereka cenderung menghindari risiko, merasa ragu terhadap kapasitas diri, dan memilih berada di zona aman. Ruben yang tidak memiliki dorongan berprestasi akan memandang masalah Lorena sebagai ancaman tambahan terhadap kestabilan hidupnya. Bukan karena ia mampu mengelola risiko secara sadar, tetapi karena ia takut terlibat dalam situasi yang berpotensi menimbulkan konflik, tanggung jawab, atau ketidakpastian. Cara berpikir seperti ini menunjukkan absennya semangat untuk bertumbuh dan mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial.

Jika dikaitkan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman, Ruben yang tidak memiliki faktor keberuntungan akan menunjukkan kebalikan dari empat prinsip utama tersebut.  ia tidak selektif dalam membangun lingkungan sosial yang positif, tetapi justru menarik diri dari interaksi sosial secara keseluruhan. Ia tidak berusaha menjalin relasi dengan individu yang inspiratif atau sukses, melainkan memilih bersikap apatis dan menutup diri. Sikap mengusir Lorena bukanlah strategi sosial yang matang, tetapi ekspresi kelelahan emosional dan ketidakmampuan menghadapi masalah orang lain.

Ruben yang tidak beruntung menurut teori Wiseman juga tidak memiliki kebiasaan mengembangkan keterampilan diri. Ia tidak fokus pada peningkatan kualitas hidup atau kapasitas personal, melainkan terjebak dalam rutinitas tanpa arah yang jelas. Ketika Lorena datang membawa cerita dan persoalan, Ruben tidak mampu melihatnya sebagai peluang untuk belajar, berempati, atau mengambil keputusan bermakna. Ia justru menghindar karena tidak memiliki kepercayaan diri dan kesiapan mental untuk menghadapi kompleksitas kehidupan.

Saya juga melihat Ruben tidak mampu melihat sisi positif dari musibah atau masalah. Individu dengan pola pikir seperti ini cenderung pesimis dan menganggap setiap persoalan sebagai beban semata. Dalam pikirannya, membantu Lorena hanya akan menambah masalah baru, bukan membuka kemungkinan solusi atau pembelajaran. Akibatnya, ia memilih menolak secara kasar, bukan karena perhitungan rasional, tetapi karena ketidakmampuan mengelola emosi dan tekanan situasi.

Ketika dia tidak memiliki kejelian dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambilnya bersifat impulsif dan defensif, bukan reflektif. Ia tidak merenung untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari sikapnya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Tidak adanya kebiasaan refleksi diri, seperti meditasi atau evaluasi pribadi, menunjukkan bahwa Ruben tidak memiliki orientasi pengembangan diri yang berkelanjutan.

Dengan demikian saya menyebutkan, Ruben yang tidak memiliki jiwa entrepreneur, faktor keberuntungan, dan dorongan motivasi dapat dipahami sebagai individu yang hidup tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak mengejar prestasi, tidak menetapkan target hidup yang menantang, dan tidak berupaya memperbaiki kualitas dirinya. Sikap acuh terhadap Lorena bukanlah cerminan kecerdikan hidup, melainkan simbol dari stagnasi psikologis dan rendahnya daya juang.

Pada akhirnya menunjukkan bahwa tanpa motivasi berprestasi dan pola pikir yang terbuka terhadap peluang, seseorang akan cenderung memilih jalan aman yang sempit. Hidup dijalani sekadar untuk bertahan, bukan untuk berkembang. Ruben dalam kondisi ini bukan sosok yang beruntung atau bijak, melainkan contoh individu yang kehilangan arah dan potensi akibat minimnya dorongan internal untuk maju.

 

Daftar Pustaka: Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation). Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion

0 komentar:

Posting Komentar