Esai 9
UJIAN AKHIR SEMESTER
PUTRA RAMADHANI 25310420006
Psikologi Inovasi
Dr. Arundati Sinta, M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamsi 45
2026
Menurut
saya jika Ruben tidak memiliki faktor keberuntungan sebagaimana dikemukakan
oleh Robert Wiseman dan juga tidak memiliki jiwa entrepreneur yang ditandai
dengan need for achievement (n-Ach), maka cara berpikir dan perilakunya dapat
dipahami sebagai cerminan individu yang pasif, defensif, serta cenderung
menghindari tantangan hidup. Dalam kondisi ini, sikap Ruben terhadap Lorena
bukan lagi dapat dipandang sebagai bentuk rasionalitas kewirausahaan, melainkan
lebih sebagai mekanisme perlindungan diri akibat rendahnya motivasi dan
kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
Dalam
teori need for achievement, individu dengan n-Ach rendah umumnya tidak
terdorong untuk menetapkan tujuan yang menantang. Mereka cenderung menghindari
risiko, merasa ragu terhadap kapasitas diri, dan memilih berada di zona aman.
Ruben yang tidak memiliki dorongan berprestasi akan memandang masalah Lorena
sebagai ancaman tambahan terhadap kestabilan hidupnya. Bukan karena ia mampu
mengelola risiko secara sadar, tetapi karena ia takut terlibat dalam situasi
yang berpotensi menimbulkan konflik, tanggung jawab, atau ketidakpastian. Cara
berpikir seperti ini menunjukkan absennya semangat untuk bertumbuh dan
mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial.
Jika
dikaitkan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman, Ruben yang tidak memiliki
faktor keberuntungan akan menunjukkan kebalikan dari empat prinsip utama
tersebut. ia tidak selektif dalam
membangun lingkungan sosial yang positif, tetapi justru menarik diri dari
interaksi sosial secara keseluruhan. Ia tidak berusaha menjalin relasi dengan
individu yang inspiratif atau sukses, melainkan memilih bersikap apatis dan
menutup diri. Sikap mengusir Lorena bukanlah strategi sosial yang matang,
tetapi ekspresi kelelahan emosional dan ketidakmampuan menghadapi masalah orang
lain.
Ruben
yang tidak beruntung menurut teori Wiseman juga tidak memiliki kebiasaan
mengembangkan keterampilan diri. Ia tidak fokus pada peningkatan kualitas hidup
atau kapasitas personal, melainkan terjebak dalam rutinitas tanpa arah yang
jelas. Ketika Lorena datang membawa cerita dan persoalan, Ruben tidak mampu
melihatnya sebagai peluang untuk belajar, berempati, atau mengambil keputusan
bermakna. Ia justru menghindar karena tidak memiliki kepercayaan diri dan
kesiapan mental untuk menghadapi kompleksitas kehidupan.
Saya
juga melihat Ruben tidak mampu melihat sisi positif dari musibah atau masalah.
Individu dengan pola pikir seperti ini cenderung pesimis dan menganggap setiap
persoalan sebagai beban semata. Dalam pikirannya, membantu Lorena hanya akan
menambah masalah baru, bukan membuka kemungkinan solusi atau pembelajaran.
Akibatnya, ia memilih menolak secara kasar, bukan karena perhitungan rasional,
tetapi karena ketidakmampuan mengelola emosi dan tekanan situasi.
Ketika
dia tidak memiliki kejelian dalam mengambil keputusan. Keputusan yang
diambilnya bersifat impulsif dan defensif, bukan reflektif. Ia tidak merenung
untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari sikapnya, baik terhadap
dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Tidak adanya kebiasaan refleksi
diri, seperti meditasi atau evaluasi pribadi, menunjukkan bahwa Ruben tidak
memiliki orientasi pengembangan diri yang berkelanjutan.
Dengan
demikian saya menyebutkan, Ruben yang tidak memiliki jiwa entrepreneur, faktor
keberuntungan, dan dorongan motivasi dapat dipahami sebagai individu yang hidup
tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak mengejar prestasi, tidak menetapkan target
hidup yang menantang, dan tidak berupaya memperbaiki kualitas dirinya. Sikap
acuh terhadap Lorena bukanlah cerminan kecerdikan hidup, melainkan simbol dari
stagnasi psikologis dan rendahnya daya juang.
Pada
akhirnya menunjukkan bahwa tanpa motivasi berprestasi dan pola pikir yang
terbuka terhadap peluang, seseorang akan cenderung memilih jalan aman yang
sempit. Hidup dijalani sekadar untuk bertahan, bukan untuk berkembang. Ruben
dalam kondisi ini bukan sosok yang beruntung atau bijak, melainkan contoh
individu yang kehilangan arah dan potensi akibat minimnya dorongan internal
untuk maju.

0 komentar:
Posting Komentar