Esai
prestasi 8 Volun Trash Hero Yogyakarta
Mata
kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen
Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA
Fitri
Novia Rizka (23310410057)
Fakultas
Psikologi
Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
Permasalahan sampah di Indonesia terus mengalami
peningkatan seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Menurut
Surono dan Ismanto (2016) menyatakan bahwa berdasarkan data dari sebuah riset
organisasi nonpemerintahan “Greengeration”, menyebutkan bahwa setiap tahun di indonesia rata-rata
setiap orang dapat menghasilkan sekitar 700 kantong plastik per tahun. Berdasarkan
dari asumsi Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), setiap hari penduduk indonesia
menghasilkan 0,8 kilogram sampah per orang atau secara total sebanyak 189 ribu
ton sampah per hari. Dari jumlah tersebut, 15 persen didominasi sampah plastik
atau sejumlah 28,4 ribu ton sampah plastik per hari (Yusari dan Purwohandoyo,
2024).
Berdasarkan
data diatas, menunjukkan bahwa sampah plastik menjadi salah satu penyumbang
terbesar pencemaran lingkungan, terutama di Kawasan perkotaan. Di Yogyakarta,
volume sampah harian mencapai ratusan ton dan sebagaian besar sampah belum
dikelola secara optimal. Kondisi ini akan menimbulkan berbagai dampak, mulai
dari pencemaran tanah dan air, gangguan kesehatan, bahkan menurunnya kualitas di
ruang publik. Fenomena tersebut menegaskan pentingnya gerakan masyarakat yang
berfokus pada edukasi serta aksi nyata, salah satunya melalui aksi dari
komunitas Trash Hero Jogjakarta. Kegiatan trash hero, merupakan sebuah gerakan
global, yang digerakan dan dikelola oleh relawan dengan tujuan untuk membangun
kesadaran bersama tentang pentingnya membatasi, mengurangi serta mengelola
sampah, terutama sampah plastik. Trash hero didirikan di Thailand pada tahun
2013 dan mempunyai sekitar 100 chapter yang tersebar di seluruh dunia melalui
jaringan relawan lokal di berbagai daerah. Induk dari organisasi ini terdaftar
di Swiss dengan nama Trash Hero World, yang merupakan sebuah organisasi
nirlaba.
Pada
kesempatan ini, saya bertugas secara langsung menjadi bagian relawan dari Trash
Hero chapter Yogyakarta. Trash Hero Yogyakarta berdiri pada tanggal 7 Agustus
2022 dan diinisiasi oleh M. Habib Syaifullah, Agnesia Nurmaliza, dan
teman-teman dari Yayasan bintang Kidul. Aksi Cleanup pertama Trash Hero
Yogyakarta di lakukan di Alun-alun Kidul pada tanggal 7 Agustus 2022 dengan
diikuti oleh 13 relawan. Clean up di Alun-Alun Kidul menjadi kegiatan rutin
mingguan yang dilakukan sampai sekarang. Visi Trash Hero Yogyakarta adalah
terwujudnya bumi yang bersih, sehat dan bebas dari polusi plastik. Sedangkan
misi Trash Hero Yogyakarta adalah mengakhiri ketergantungan terhadap plastik
sekali pakai, membangun konsensus tentang gaya hidup ramah lingkungan dengan
sistem zero waste, mendorong terbentuknya circular ekonomi di masyarakat, dan
membangun kesadaran kolektif di masyarakat tentang pentingnya menyelesaikan
masalah sampah sejak dari rumah.
Kegiatan sering dilakukan setiap akhir pekan pada hari
Minggu dengan para relawan berkumpul di Alun-Alun Kidul (Alkid) sebagai titik
utama pelaksanaan aksi bersih-bersih. Kegiatan ini dimulai dengan briefing
singkat mengenai area pembersihan, pembagian kelompok, serta pembagian
peralatan seperti sarung tangan, alat penjepit sampah, dan kantong pemilahan
sampah. Para relawan kemudian menyusuri area sekitar alkid, termasuk jalur
pedestrian, area permainan, serta sudut-sudut yang sering menjadi tempat
penumpukkan sampah.
Jenis
sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik sekali pakai, puntung rokok,
kemasan makanan, dan botol minuman. Meskipun terlihat sederhana, kegiatan ini
memberikan gambaran secara nyata tentang perilaku masyarakat dalam membuang
sampah sembarangan. Dalam waktu kurang dari dua jam, para relawan berhasil
mengumpulkan puluhan kilogram sampah yang kemudian dipilah berdasarkan kategori
organik, anorganik, dan residu. Aksi ini tidak hanya membersihkan ruang publik,
tetapi juga menjadi bentuk edukasi langsung bagi pengunjung Alkid yang
menyaksikan kegiatan tersebut.
Setelah
kegiatan bersih-bersih selesai, para relawan mengikuti sesi sharing session
yang dipandu oleh fasilitator Trash Hero Jogjakarta. Pada sesi ini, peserta
diajak untuk memahami akar permasalahan sampah dari perspektif perilaku,
kebijakan, dan sistem pengelolaan. Diskusi ini mencakup isu konsumsi
berlebihan, minimnya fasilitas pemilahan sampah, serta rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap dampak jangka panjang sampah plastik.
Para
relawan juga berbagi pengalaman pribadi mengenai tantangan yang mereka temui
selama aksi bersih-bersih, termasuk jenis sampah yang paling dominan dan
perilaku masyarakat yang masih kurang peduli. Sesi ini menjadi ruang refleksi
bersama bahwa perubahan tidak hanya dimulai dari kebijakan besar, tetapi juga
dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Melalui diskusi ini,
peserta semakin memahami bahwa edukasi dan keteladanan merupakan kunci dalam
mengubah kebiasaan masyarakat.
Kegiatan Trash Hero Jogjakarta memberikan pengalaman berharga bagi para relawan dalam memahami kompleksitas persoalan sampah sekaligus mengambil bagian dalam solusi nyata. Aksi bersih-bersih di Alkid bukan hanya tentang mengumpulkan sampah, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab bersama. Melalui sesi diskusi, relawan memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya dan peran individu dalam menciptakan perubahan. Sebagai relawan, kegiatan ini menumbuhkan rasa kepedulian, solidaritas, dan komitmen untuk terus berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan. Gerakan seperti Trash Hero Jogjakarta membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, namun dilakukan dengan konsisten dan penuh keikhlasan.
Ilustrasi foto
Daftar Pustaka
Yusari,
T., & Purwohandoyo, J. (2024). Potensi timbulan sampah plastik di Kota
Yogyakarta tahun 2035. Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, Dan
Praktek Dalam Bidang Pendidikan Dan Ilmu Geografi, 25(2), 1.

0 komentar:
Posting Komentar