Nama: Chevani Irvine
Nim: 25310420010
Mata Kuliah: UAS Psikologi Inovasi (kelas A)
Dosen pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta. MA.
Bidang entrepreneurship kerap dianggap sebagai suatu kesamaan antara kerja keras dan keberuntungan. Dari contoh soal tersebut membuat perspektif bahwa keberhasilan bukanlah suatu kebetulan, tetapi hasil dari konstruksi mental dan perilaku yang terukur. Analisis konsep Need For Achievement(n-Ach) dan teori keberuntungan Richard Wiseman, dimana seorang entrepreneur suskes adalah mereka yang mampu berambisi serta menavigasi realitas secara terencana.
konsep dorongan berprestasi atau Need for Achievement
(sering disingkat n-Ach, bukan n-Aff yang biasanya merujuk pada Need for
Affiliation) dipopulerkan oleh David McClelland dari Harvard University. Inti
dari teori terletak pada pemilihan Tingkat tantangan, seorang entrepreneur tidak
mencari jalan yang mudah tetapi juga tidak mengejar kemustahilan. Mereka aktif pada
tahap perkembangan. Sehingga menciptakan rasa percaya diri yang objektif. Tantangan
yang terkendali menjadikan motivasi dan akan memberikan kepuasan ketika berhasil
di taklukan.
Dalam penelitiannya McClelland membuktikan bahwa n-Ach bukanlah
sifat bawaan melainkan ketrampilan yang dapat dilatih. Seperti praktik menulis
hal hal yang positif dan kompetitif merupakan bentuk stimulisi kognitif agar
otak selalu berfokus pada solusi dan keunggulan. Dengan membiasakan diri dengan
berpikir kognitif secara positif, sesorang secara tidak sadar sedang meningkatkan
focus peluangnya.
Motivasi berprestasi dengan keberuntungan di dalam kasus
Crocodile River melalui tokoh Ruben, ditegaskan bahwa keberuntungan adalah
analisis perilaku. Didalam teori Richard Wiseman, orang yang beruntung
menciptakan keberuntungannya sendiri melalui empat pilar utama. Keputusan Ruben
membatasi interaksi dengan Lorena sebagai tokoh sumber masalah. Dalam dunia entrepreneur
energi adalah sumber daya terbatas, bergaul dengan orang suskes bukanlah suatu
masalah status, tetapi upaya mempelajari
ekosistem yang mendukung pertumbuhan.
Tingkat kepekaan yang diasah Ruben melalui meditasi pada
dini hari menunjukkan pentingnya kejernihan mental dalam pengambilan keputusan.
Entrepreneur yang sukses sering kali memiliki kepekaan untuk melihat kesempatan
di tengah gangguan informasi. Meditasi
atau refleksi mendalam membantu seseorang memisahkan antara distorsi emosional
dan realitas peluang. Yang sesuai dengan
faktor keempat Wiseman, di mana kejelian memutuskan sesuatu sering kali datang
dari ketenangan batin, bukan ketergesaan.
Namun, sebagai studi kasus, interpretasi terhadap perilaku
Ruben harus diletakkan dalam konteks profesionalitas. Meskipun menghindari
"orang bermasalah" dapat menjauhkan kita dari nasib buruk, seorang entrepreneur
juga dituntut untuk memiliki tanggung jawab sosial. Keberuntungan yang
berkelanjutan biasanya lahir dari keseimbangan antara kepentingan pribadi
(n-Ach) dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial secara bijak.
Secara keseluruhan, konsep masalah ini menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah sebuah
disiplin mental. Keberuntungan hanyalah nama lain dari kesiapan yang bertemu
dengan peluang. Dengan melatih dorongan berprestasi melalui tulisan dan
kompetisi, serta menerapkan pilar-pilar keberuntungan Wiseman, seperti pemilihan
lingkar sosial, fokus pada pengembangan diri, ketangguhan mental, dan ketajaman
intuisi, apa pun dapat mengonstruksi jalan hidup yang lebih sukses dan beruntung.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Small Business in the Third
World: Guidelines for Practical Assistance. Wiley.
McClelland, D. C., & Winter, D. G. (1969). Motivating
Economic Achievement. New York: Free Press.
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The
Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.
.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar