28.11.25
26.11.25
Esai Prestasi: Naeri Khasna
Esai Prestasi: Kepanitiaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan Kontribusi dalam Penampilan Acara Sumpah Pemuda Desa
Mata
Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen
Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.
Naeri
Khasna (23310410046)
Fakultas
Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Perguruan
tinggi dalam meningkatkan kualitas mahasiswanya tidak hanya menuntut IPK yang
tinggi, tetapi juga menekankan pentingnya soft skill yang mencakup
berbagai keterampilan (Luailiyah dkk., 2022; Ramandhita dan Pujianto, 2023). Untuk
mengembangkan soft skill, mahasiswa tentu membutuhkan tempat untuk
belajar dan berlatih secara langsung. Kegiatan di kampus bisa menjadi
kesempatan bagi mahasiswa untuk mencoba, bekerja sama, dan mengembangkan
kemampuan diri. Beragam kegiatan kemahasiswaan mulai dari organisasi,
kepanitiaan, hingga unit kegiatan mahasiswa dapat berfungsi sebagai ruang bagi
mahasiswa untuk membangun dan meningkatkan soft skill (Putra, Hanami,
dan Hanifah, 2024).
Pentingnya
pengembangan soft skill ini saya rasakan sendiri ketika mengikuti kegiatan
kemahasiswaan di kampus. Salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika saya
terlibat aktif dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru
(PKKMB). Pada kegiatan tersebut, saya dipercaya menjadi pendamping mahasiswa
baru dalam satu kelompok sekaligus bertugas sebagai moderator pada sesi PKKMB
kelas karyawan yang dilaksanakan melalui Zoom. Tantangan terbesar muncul pada
hari ketiga PKKMB. Saat itu, saya harus mendampingi kelompok untuk maju
membacakan surat untuk negeri dan menampilkan yel-yel, sementara pada
waktu yang sama saya dijadwalkan menjadi operator acara PKKMB kelas karyawan.
Agar kedua tugas tersebut dapat berjalan dengan baik, saya melakukan antisipasi
sejak hari sebelumnya dengan meminta anggota kelompok menyelesaikan teks surat
untuk negeri, menetapkan siapa yang akan membacakannya, serta menyiapkan
yel-yel lebih awal. Berkat persiapan tersebut, kelompok dapat tampil tanpa
hambatan, dan saya tetap dapat menjalankan tugas sebagai operator dengan
lancar. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi yang jelas,
perencanaan yang matang, dan kerja sama tim yang baik.
Kondisi
saya sebagai mahasiswa tidak menghalangi peran saya di masyarakat, termasuk
dalam kegiatan desa. Saya terlibat dalam peringatan Sumpah Pemuda sebagai
anggota paduan suara atau yang di desa saya disebut KOR. Peran ini membawa saya
pada tantangan baru, terutama karena keterbatasan waktu latihan. Persiapan KOR
dilakukan secara mendadak sehingga latihan hanya dapat dilaksanakan sebanyak
dua kali. Situasi tersebut menuntut kami anggota KOR untuk cepat menyelaraskan
suara dengan baik, dan memaksimalkan waktu latihan yang singkat. Selain
mengikuti KOR, saya juga berpartisipasi dalam penampilan RT yang menampilkan
perpaduan beberapa instrumen, yaitu pianika, hadroh, dan gitar. Kolaborasi ini
memberikan pengalaman baru bagi saya, namun memerlukan penyesuaian nada untuk
setiap alat agar selaras, menjaga tempo tetap stabil, dan menyeimbangkan
dinamika agar harmoni tidak pecah. Saya dipercaya memainkan pianika, dan tugas
ini menjadi tantangan tersendiri karena saya harus meniup dengan tenaga yang
cukup kuat agar suaranya tidak tertutup oleh instrumen lain, namun tetap
menjaga agar nada yang dihasilkan tidak terlalu nyaring. Meskipun menuntut
banyak penyesuaian, pengalaman ini membantu saya belajar tentang konsistensi,
kerja sama, dan koordinasi dalam sebuah penampilan musik. Seluruh pengalaman
tersebut memberi saya banyak pelajaran berharga tentang tanggung jawab,
manajemen waktu, dan pentingnya bekerja dalam tim. Pembelajaran yang saya
peroleh menjadi bekal penting untuk terus berkembang, baik sebagai mahasiswa
maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Putra, R. F. N. P., Hanami, Y., &
Hanifah. (2024). Mahasiswa Bahagia: Aktivitas Sosial dan Dampaknya terhadap
Kebahagiaan Mahasiswa. Psyche 165 Journal, 17(2),
114–120. https://doi.org/10.35134/jpsy165.v17i2.365.
Rizkiyah Alvina Ramandhita, & Wahyu
Eko Pujianto. (2023). Analisis Keikutsertaan Mahasiswa dalam Organisasi Guna
Menunjang Prestasi Akademik Mahasiswa UNUSIDA. Jurnal Publikasi Ilmu
Manajemen, 3(1), 79–93. https://doi.org/10.55606/jupiman.v3i1.3285.
Lampiran
Mahasiswa yang menjadi panitia PKKMB
Kelompok yang saya dampingi
KUR Desa
Penampilan RT
ESSAI Ke-7 BELAJAR MENGELOLA SAMPAH DI TPS RANDU ALAS, NGAGLIK, SLEMAN, YOGTAKARTA
TOPIK: MINIMNYA LITERASI MASYARAKAT CANDI KARANG TERKAIT SAMPAH DAN PERAN TPS RANDU ALAS
Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.
Oleh
Rika Amelia
24310420062
Pada 1 Oktober 2025 saya berkesempatan untuk mengunjungi TPS Randu Alas yang beralamat di Ngaglik, sleman. Saya berangkat dari kost pada pukul 10 WIB dan sampai di Lokasi sekitar pukul 10.35 WIB, saya berkesempatan berbincang dan mewawancarai wakil pengurus dari TPS Randu Alas yaitu Bapak Sujono.
Pagi itu cuaca sangat cerah, saya disambut oleh beberapa pekerja yang sedang memilah sampah. Kemudian saya di arahkan masuk ke dalam kantor di mana Pak Sujono sedang merekap kwitansi tagihan sampah untuk beberapa para langganan sampah di TPS Randu Alas.
Saya mulai memperkenalkan diri dan maksud serta tujuan saya mengadakan kunjungan ini, puji Syukur saya disambut dengan baik oleh Pak Sujono. Selanjutnya saya meminta ijin untuk merekam sesi selama wawancara dilakukan, link video akan saya cantumkan pada akhir dari essai ini.
Sebelum TPS ini berdiri, dahulu hanyalah tempat pembuangan sampah liar hingga menggunung dan menyebabkan bau yang tak sedap. Sehingga sebagai orang dengan kesadaran diri terhadap sampah, Para pengurus desa termasuk Pak Jono mengusulkan untuk membuka tempat pengelolaan sampah terpadu.
TPS Randu Alas sendiri baru dibangun pada 2015 dan kemudian resmi buka pada 16 Februari 2016 dengan bantuan dari Pemerintah PUPR, dengan mengelola sampah dari 4 Padukuhan dan 400 rumah, serta beberapa tempah usaha di Daerah Candi Karang. Jumlah ini sangat luar biasa untuk menekan lonjakan sampah di daerah tersebut.
Menurut Pak Sujono, masalah paling mendasar dari Desa Candi Karang terkait sampah Adalah rendahnya literasi dan kesadaran diri Masyarakat terkait sampah. Sehingga pada saat penutupan TPS Piyungan Masyarakat Candi Karang dan Sebagian wilayah di Jogja menjadi darurat sampah, keengganan Masyarakat untuk memilah dan mengelola sampahnya sendiri membuat petugas TPS dan TPS itu sendiri kuwalahan dalam mengelola sampah yang masuk.
Dengan biaya langganan sampah 25rb sd 50rb per rumah tangga dan lebih jika itu merupakan badan usaha, membuat Masyarakat merasa mereka tidak perlu memilah sampah yang mereka buang, sebagian besar Masyarakat merasa sudah membayar uang sampah lantas mengapa harus dipilah kembali? ujar Pak Jono berdasarkan pengalaman di lapangan.
Dalam pengelolaan TPS Randu Alas dari awal berdirinya hingga sekarang bukanlah hal yang mudah, mulai dari susahnya membuat perijinan berdirinya tempat, sikap Masyarakat yang skeptis dan memandang buruk TPS, hingga kurangnya akomodasi pengangkut sampah. TPS Randu Alas sendiri pernah berinovasi membuat alat pengelolaan sampah hingga menghabiskan dana puluhan juta, namun kemudian alat tersebut tidak dapat digunakan lantaran gagal. Bukan hanya itu, mereka mendapat tawaran produk alat pengolahan sampah dari Universitas Islam Indonesia namun karena harga yang mahal dan tidak adanya dana, maka pihak dari TPS Randu Alas Menolak.
Di Randu Alas ada beberapa cara pengolahan sampah seperti di daur ulang, pembuatan kompos dari bahan organik, POC atau pupuk organic cair, dan pembakaran. Untuk daur ulang seperti sampah plastic, kardus, dan sampa non-organik akan ada pengepul rongsok yang mengambilnya dan kemudian disetorkan ke pabrik untuk di daur ulang kembali.
Sedangkan pembuatan kompos ada di sebelah belakang kantor TPS Randu Alas, disana semua sampah organik seperti daun, kayu, sisa bahan dapur, dan sejenisnya dijadikan satu kemudian diberi bakteri agar mempercepat proses pembusukan. Proses ini sendiri memakan waktu satu bulan untuk menjadi kompos siap pakai, setelah itu bagi warga yang ingin menggunakan sebagai pupuk tanaman atau kebun mereka akan diberikan secara percuma.
Untuk POC ada di sebelah kantor Randu Alas, terbuat dari sisa sampah organic yang difermentasi menggunakan bakteri lokal. Setelah jadi POC di jual sebagai pupuk untuk tanaman atau kebun sayuran, hasil dari POC sendiri memang tidak secepat pupuk kimia namun itu lebih sehat dan tidak mencemari tanah.
Dari semua proses dan pengelolaan sampah di TPS Randu Alas ini menurut Pak Sujono selaku wakil pengurus ialah menyadarkan masyarakan betapa pentingnya pengolahan sampah yang benar dan dampak yang ditimbulkan, maka dari itu dari pihak TPS Randu Alas sering mengadakan sosialisasi terkait sampah, manfaat sampah, dampak yang dapat ditimbulkan dari sampah dan kerajinan dari sampah.
Menurutnya sekarang Masyarakat Candi Karang menjadi lebih terbuka dan lebih menerima terhadap keberadaan TPS Randu Alas jauh lebih baik dari awal-awal keberadaannya, karena Masyarakat sendiri sudah mendapat manfaat dari TPS Randu Alas dan betapa berpengaruhnya tempat pengolahan ini.
https://youtu.be/bEwaSLoIXnk?si=cAIwANfikQmzU7Rm
ESSAI KE-8 PSIKOLOGI LINGKUNGAN
TOPIK: BANK SAMPAH
Dr., Dra Arundati Shinta M. A.
Oleh
Rika Amelia
24310420062
Bank sampah adalah temat yang dikelola oleh Masyarakat untuk menampung sampah-sampah yang sudah terpilah dari rumah tangga atau usaha skala rumahan, dengan system seperti bank yaitu orang yang ingin menabung di bank sampah harus menjadi nasabah terlebih dahulu dan menyetorkan sampahnya agar mendapatkan uang. Kemudian jika sudah terkumpul, maka uang tadi dapat ditarik oleh nasabah yang menabung di bank sampah.
Pada tangal 4 November pukul 4 sore saya mendatangi Bank Sampah Mandiri yang berada di Salaka, Potorono, Bantul. Dengann menempuh waktu 10 menit saya sudah sampai Lokasi, saya membawa sampah-smpah botol dan cup bekas minuman hasil dari saya plogging di beberapa tempat.
Saya menggunakan karung dengan kapasitas 25kg dan itu terisi penuh, saya lupa berapa berat timbangan dari sampah yang saya bawa pada taggal 4 Novemmber ini. Tapi uang yang saya dapat adalah sebesar Rp3.000.
Kemudian pada tanggal 22 November saya kembali ke bank sampah dengan membawa sampah botol dan kardus dari belanja online yang sudah saya kumpulkan serta ada sampah titipan dari ibu kost, yaitu berupa gallon bekas anak-anak kost, kardus dari bekas bungkus kulkas, wadah pel yang sudah rusak, dan juga derigen bekas yang sudah tidak terpakai lagi sebanyak 7 da beberapa kertas.
Semua jika ditotal sampah yang saya bawa adalah 16kg, dengan sampah kardus seberat 10kg dan sampah dari macam-macam seperti botol bekas yang saya kumpulkan, derigen, dll mencapai seberat 6kg. Dari semua sampah yang saya bawa ini kemudian saya mendapatkan hasil yang lumayan cukup untuk sekali makan, uang yang saya dapatkan adalah sebesar Rp17.000.
Maka jika ditotal uang saya dapatkan dari hasil menabung di bank sampah adalah sejumlah RP20.000. Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapatkan, saya juga merasa berkontribusi pada lingkungan dengan memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.
Saya bertekad untuk melanjutkan menabung di bank sampah meski tugas ini sudah selesai, setidaknya belajar konsisten dengan sampah yang akan saya buang dan saya tabung di bank sampah.
24.11.25
Esai-3 Psikologi Inovasi Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi, ketangguhan
PSIKOLOGI INOVASI
ESAI-3 Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi,
ketangguhan, entrepreneurship, ketekunan, peka terhadap perubahan, perencanaan
terhadap perubahan, bersedia jadi suri tauladan
Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA
Mariyatun
23310410074
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
Resiliensi
Merasa sulit bangkit
dari keterpurukan? Setiap orang pasti pernah mengalami. Sudah saatnya membangun
resiliensi pada diri sendiri.
Resiliensi adalah
kemampuan diri untuk beradaptasi dan memilki kekuatan dalam menghadapi ha-hal
buruk yang terjadi dalam hidup kita. Contohnya adalah masalah keuangan,
kehilangan pekerjaan atau berpisah dengan pasangan.
Orang yang mempunyai
Resiliensi yang baik akan mampu mengelola stress dengan baik sehingga risiko
gangguan kecemasan dan depresi bisa dihindari
Cara membangun resiliensi:
1.Berpikir positif dan
optimis. Daripada terus menerus memikirkan hal-hal negative yang bisa semakin
membuat kita merasa cemas dan khawatir lebih baik memcari cara untuk
menyelesaikan masalah. Menghargai pencapain yang kita raih meskipun itu hanya
sedikit akan menumbuhkan rasa syukur yang akan menggeser focus kita pada
kekurangan yang kita miliki.
2.Temukan dan focus pada
tujuan hidup. Memiliki tujuan hidup akan membantu kita lebih focus terhadap
masa depan dan melakukan usaha –usaha untuk mencapai tujuan.
3.Mencoba hal-hal baru.
Mencoba hal baru ataupun memeplajari hal baru yang sebelumnya beum pernah
dilakukan bisa mengembangkan wawasan dalam memcahkan masalah.
4.Kelola stress dengan
baik. Seseorang yang mengalami stress akan lebih mudah mengabaikan kebutuhan
penting yang seharusnya dikerjakan. Misalnya malas berolah raga akan
mengakibatkan rentan sakit secara fisik yang bisa membuat semakin terpuruk.
5.Temuka teman cerita.
Mempunyai seseorang untuk berbagi cerita akan membantu kita memiliki cara
pandang lain yang bisa membantu menyelesaikan masalah.
6.Percaya kepada diri
sendiri. Jangan percaya orang lain. Siapa lagi yang akan percaya untuk membantu
bangkit dari permasalahan kaalau bukan diri kita sendiri. Rasa percaya diri yan
kuat akan membuatmu memiliki resiiensi dan menta kuat.
Dorongan berprestasi
Dorongan berprestasi
adalah keinginan atau tekad untuk berkerja dengan baik atau melampaui standard prestasi.
Standar tersebut bisa berupa prestasi diri di masa lalu (improvement), melebihi
pencapian orang lain (competitiveness), sasaran yang menantang atau sesuatu
yang belum dilakukan orang lain (innovation).
Tingkatan awal dari
dorongan berprestasi adalah Bekerja dengan Baik untuk Mencapai Suatu Target dan
Mencapai Standar Prestasi yang Ditentukan. Pada tahap ini, fokus utama adalah
pada kualitas dan kepatuhan. Individu yang memiliki dorongan ini akan mencoba
bekerja dengan benar dan mengekspresikan ketidakpuasan terhadap
ketidakefisienan.
Setelah standar
terpenuhi, langkah selanjutnya adalah bergerak melampaui kepatuhan menuju
Peningkatan Kinerja. Ini adalah transisi dari reaktif menjadi proaktif.
Individu mulai Memperbaiki sistem atau metode kerja untuk meningkatkan kinerja,
seperti bekerja lebih cepat, lebih efisien, atau dengan biaya yang lebih rendah
Tiga tingkatan tertinggi
mewakili puncak dari dorongan berprestasi dan mentalitas kewirausahaan. Yang
pertama adalah Menetapkan dan Mencapai Sasaran yang Menantang. Ini berarti
individu tidak menunggu target dari perusahaan, melainkan Membuat target untuk
diri sendiri yang melebihi target yang diberikan. Sasaran ini menantang (sulit
dicapai) namun realistis, mendorong diri keluar dari zona nyaman. Hal ini juga
mencakup merealisasikan ide-ide baru yang belum pernah dicoba, menunjukkan
keberanian dalam berinovasi.
Tips membangun
ketangguhan mental
1. Terhubung dengan
Tujuan Hidup
Pilar pertama dalam
membangun ketangguhan mental adalah memiliki tujuan hidup yang jelas dan
terhubung dengannya. Tujuan hidup memberikan makna dalam setiap tantangan yang
dihadapi. Ketika individu tahu mengapa mereka berjuang, alih-alih putus asa
menghadapi kemunduran, mereka akan termotivasi untuk melihat tantangan sebagai
pelajaran berharga dan terus bergerak maju. Tujuan hidup tidak harus
muluk-muluk; dapat dimulai dari hal sederhana seperti membangun support system
yang kuat atau berpartisipasi dalam komunitas. Konsistensi dalam upaya mencapai
tujuan tersebut menumbuhkan rasa keberdayaan, yaitu keyakinan bahwa individu
memiliki kapasitas untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan.
2. Mengembangkan
Pola Pikir Positif
Pilar kedua adalah
mengembangkan dan melatih pola pikir positif. Berpikir positif di sini dimaknai
sebagai kemampuan untuk melihat setiap tantangan dari sisi solutif atau sisi
terangnya. Ini memungkinkan seseorang untuk mengambil kesempatan dan berani
berusaha, alih-alih menyerah karena takut usahanya tidak membuahkan hasil. Pola
pikir ini sangat penting untuk bangkit dari kegagalan, karena ia memaknai
kemunduran hanya sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Meskipun demikian,
bersikap positif bukan berarti mengabaikan perasaan negatif; seseorang tetap
harus menghargai emosi seperti rasa kecewa atau marah. Intinya adalah bagaimana
individu dapat memaknai dan memproses emosi negatif tersebut, sambil
mempertahankan keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi
tantangan yang ada.
3. Menjaga Diri Sendiri
(Self-Love)
Menjaga diri sendiri
atau menekankan self-love adalah pilar ketiga yang kerap terabaikan namun
fundamental. Seseorang yang tangguh secara mental tetap dapat mengalami stres
dan penderitaan. Namun, upaya untuk survive dan menemukan solusi sangat
bergantung pada kondisi fisik yang prima. Ketika stres melanda, mudah bagi
seseorang untuk mengabaikan kebutuhan dasar seperti olahraga teratur, waktu
tidur yang cukup, atau menghargai diri sendiri. Padahal, fisik yang sehat
adalah prasyarat utama untuk memiliki pikiran yang sehat dan jernih. Oleh
karena itu, menginvestasikan waktu untuk merawat diri dan melakukan hal-hal
yang disukai adalah tindakan yang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan,
memastikan individu selalu siap dan memiliki energi untuk menghadapi setiap
tantangan hidup.
4. Memiliki Jaringan
Sosial atau Pertemanan yang Kuat
Pilar terakhir adalah
jaringan sosial yang kuat. Memiliki seseorang yang dipercaya untuk berbagi
masalah atau bercerita sangat penting dalam situasi krisis atau trauma.
Meskipun menceritakan masalah tidak akan menghilangkannya secara ajaib,
manfaatnya sangat besar. Penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial yang
mendukung—meliputi keluarga, teman, dan komunitas—dapat menumbuhkan ketahanan
dan mendukung proses pemulihan seseorang.
https://www.alodokter.com/6-cara-membangun-resiliensi-agar-punya-mental-yang-kuat
https://www.indosdm.com/kamus-kompetensi-dorongan-berprestasi-need-of-achievement
ESAI-2 Psikologi Inovasi Wawancara Disonansi Koqnitif
ESAI-2 PSIKOLOGI INOVASI
WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF
Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Mariyatun
23310410074
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
Disonansi
kognitif dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau ketegangan
mental yang dialami seseorang saat tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan
nilai atau keyakinan pribadi yang dimilikinya. Ketika pikiran, nilai, sikap,
atau perilaku yang saling tidak konsisten atau bertentangan satu sama lain.
Disonansi dapat muncul
dari berbagai situasi,misalnya:
- Keyakinan A secara logis bertentangan dengan Keyakinan
B.
- Perilaku bertentangan dengan norma atau nilai budaya
yang diyakini.
- Perilaku atau sikap bertentangan dengan apa yang
diterima secara umum.
- Keyakinan baru bertentangan dengan pengalaman pribadi
di masa lalu.
Salah satu contoh yang
banyak kita temui adalah kasus perokok. Mereka punya kesadaran bahwa merokok
itu berbahaya untuk kesehatan namun mereka tetap melakukannya.
Untuk mencari pembenaran
akan perilaku merokok mereka terkadang memberikan alasan seperti "Bapak
saya sampai sekarang merokok dan baik-baik saja," atau "Merokok
membantu saya menghilangkan stres,"
Sering kita menemukan
atau bahkan kita sendiri mengalami ciri-ciri gangguan disonansi kognitif namun
kita jarang menyadarinya.
Berikut
adalah ciri-ciri seseorang mengalami disonansi kognitif, antara lain:
· Merasa tidak nyaman saat harus membuat
keputusan
· Perasaan bersalah atas keputusan yang pernah
dibuat
· Malu atau menyembunyikan hasil dari keputusan
yang pernah diambil
· Pembenaran atau rasionalisasi perilaku
· Melakukan sesuatu karena tekanan sosial, bukan
karena keinginan pribadi
Wawancara
1. Pertanyaan: Sejak kapan anda mulai merokok?
Jawab: di umur 14 tahun sudah mulai merokok, kelas 2 SMP.
2. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda tentang resiko kesehatan
terkait kebiasaan merokok?
Jawab: Sebenarnya secara kesehatan saya mengerti, tapi banyak
orang berpikir merokok juga mati, tidak merokok juga mati.
3. Pertanyaan: Ketika anda sedang merokok, apakah pernah terlintas
iklan atau konten-konten mengenai bahaya merokok?
Jawab: Sebenarnya terlintas, untuk berhenti merokok, sayang dengan
kesehatan tapi mau berhenti sulit karena sudah tergantung nikotin. Kalautidak
merokok rasanya aneh apalagi kalau habis makan.
4. Pertanyaan: Bagaimana perasaan anda ketika merokok?
Jawab: Pastinya happy. Ada rasa terpuaskan
5. Pertanyaan: Apakah istri anda sering menasehati untuk berhenti
merokok?
Jawab: Ya sering tapi untuk langsung berhenti sulit, harus
pelan-pelan.
6. Pertanyaan: Apakah anda punya rencana untuk berhenti merokok?
Jawab: Ya ada
7. Pertanyaan: Apa yang menjadi alasan anda untuk berhenti merokok
Jawab: Ya demi kesehatan tapi terkadang berpikir merokok juga gak
papa ini
8. Pertanyaan: Apakah anda pernah berpikir bahwa merokok ada
manfaatnya?
Jawab: Tidak ada manfaatnya.










.jpeg)
.jpeg)


















