28.11.25

ESAI 8 NASABAH BANK SAMPAH RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI LINGKUNGAN KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA
Kebiasaan dengan lingkungan yang bersih selain membuat nyaman orang yang tinggal tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mengumpulkan sampah anorganik lalu dijual di bank sampah. Proses membersihkan rumah dapat menjadi lebih bermanfaat ketika dilakukan dengan cara memilah sampah. Langkah awal adalah dengan mengidentifikasi area rumah yang sering menumpuk dengan sampah anorganik, yaitu area gudang, dapur dan area ruang keluarga. Setelah itu, sampah dipilah berdasarkan jenisnya seperti plastik, kertas, kain dan kaca atau botol.
Setelah dipisah – pisahkan baraang yang masih layak pakai bisa didonasikan, barang yang rusak bisa dijual ke bank sampah. Tanggal 26 September 2025 saya pertama kali ke bank sampah yang bernama Makmur Sejahtera Mandiri yang ada di daerah alun - alun utara. Proses di bank sampah, sampah saya ditimbang berdasarkan jenis, dan berat. Harga masing – masing jenis sampah berbeda, lalu berat nya dicatat sebagai tabungan atau dihitung sebagai uang tunai, dan saya memilih untuk ditabung. Saya diberi buku nasabah sebagai pencatat transaksi setoran sampah, mirip seperti buku tabungan di bank seperti baisanya, saldo awal saya sebesar Rp 11.108,-.
Saya semakin semangat untuk memilah sampah, kali ini saya mengumpulkan sampah yang ada di proyek tempat saya bekerja di bidang jasa konstruksi. Ada kardus – kardus bekas kloset, kardus keramik, kardus – kardus bekas material lainnya, paku – paku yang sudah tidak terpakai, material bekas seperti talang, dan lain – lain. Tidak butuh waktu lama saya mengantarsampah anorganik tersebut ke bank sampah lagi di tanggal 10 Oktober 2025 dan mendapat saldo Rp 17.571 Disana saya sempatkan untuk berbicang dengan para petugas yang ada di sana. Petugas bercerita bahwa bermula dari keluhan warga mengenai lingkungan yang kotor dan sampah yang menumpuk lalu sekelompok ibu rumah tangga memutuskan untuk mencari solusi. Mereka memulai dengan fasilitas minim beberapa karung bekas, timbangan manual dan tempat kecil yang dipinjamkan RT setempat. Namun dari ruang sederhana itulah perubahan besar dimulai. Saat ini warga sekitar ,mengumpulkan sampah anorganik mereka, kardus dan botol yang sebelumnya tercecer kini dikumpulkan dalam karung. Setiap satu minggu sekali di hari Jumat Bank Sampah buka untuk umum. Selain menjadi lebih bersih dan nyaman lingkungan kampung sekitar memiliki nilai ekonomi baru yaitu sampah menghasilkan uang. Konsep Bank Sampah tumbuh dari gagasan bahwa sampah bukanlah barang sisa tak berguna, melainkan material bernilai jika dipisahkan, dikumpulkan dan dikelola dengan benar.
Sampah yang ada di proyek tempat saya bekerja sudah mulai menumpuk, saya bawa lagi ke Bank Sampah yang sama yaitu Bank Sampah Makmur Sejahtera Mandiri di daerah sekitar alun – alun utara Yogyakarta. Kali ini saldo saya Rp 31.107, bukti nyata bahwa sampah benar – benar bisa menghasilkan nilai ekonomi dan ini bukan hanya teori tetapi sudah terbukti. Cerita pengelolaan material bekas di Bank Sampah menunjukkan bahwa sampah bukan masalah melainkan peluang besar jika dikelola dengan baik. Dari kardus bekas hingga minyak jelantah pun bisa menjadi sumber penghasilan. Sampah bukan sekedar limbah tidak berguna, tetapi bisa menjadi asset ekonomi jika dikelola dengan benar. Dengan memilah sampah, kita tidak hanya membantu menjaga lingkungan tetapi juga mendapatkan manfaat finansial.

26.11.25

Esai Prestasi: Naeri Khasna

Esai Prestasi: Kepanitiaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan Kontribusi dalam Penampilan Acara Sumpah Pemuda Desa

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

Naeri Khasna (23310410046)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas mahasiswanya tidak hanya menuntut IPK yang tinggi, tetapi juga menekankan pentingnya soft skill yang mencakup berbagai keterampilan (Luailiyah dkk., 2022; Ramandhita dan Pujianto, 2023). Untuk mengembangkan soft skill, mahasiswa tentu membutuhkan tempat untuk belajar dan berlatih secara langsung. Kegiatan di kampus bisa menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mencoba, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan diri. Beragam kegiatan kemahasiswaan mulai dari organisasi, kepanitiaan, hingga unit kegiatan mahasiswa dapat berfungsi sebagai ruang bagi mahasiswa untuk membangun dan meningkatkan soft skill (Putra, Hanami, dan Hanifah, 2024).

Pentingnya pengembangan soft skill ini saya rasakan sendiri ketika mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampus. Salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika saya terlibat aktif dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Pada kegiatan tersebut, saya dipercaya menjadi pendamping mahasiswa baru dalam satu kelompok sekaligus bertugas sebagai moderator pada sesi PKKMB kelas karyawan yang dilaksanakan melalui Zoom. Tantangan terbesar muncul pada hari ketiga PKKMB. Saat itu, saya harus mendampingi kelompok untuk maju membacakan surat untuk negeri dan menampilkan yel-yel, sementara pada waktu yang sama saya dijadwalkan menjadi operator acara PKKMB kelas karyawan. Agar kedua tugas tersebut dapat berjalan dengan baik, saya melakukan antisipasi sejak hari sebelumnya dengan meminta anggota kelompok menyelesaikan teks surat untuk negeri, menetapkan siapa yang akan membacakannya, serta menyiapkan yel-yel lebih awal. Berkat persiapan tersebut, kelompok dapat tampil tanpa hambatan, dan saya tetap dapat menjalankan tugas sebagai operator dengan lancar. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi yang jelas, perencanaan yang matang, dan kerja sama tim yang baik.

Kondisi saya sebagai mahasiswa tidak menghalangi peran saya di masyarakat, termasuk dalam kegiatan desa. Saya terlibat dalam peringatan Sumpah Pemuda sebagai anggota paduan suara atau yang di desa saya disebut KOR. Peran ini membawa saya pada tantangan baru, terutama karena keterbatasan waktu latihan. Persiapan KOR dilakukan secara mendadak sehingga latihan hanya dapat dilaksanakan sebanyak dua kali. Situasi tersebut menuntut kami anggota KOR untuk cepat menyelaraskan suara dengan baik, dan memaksimalkan waktu latihan yang singkat. Selain mengikuti KOR, saya juga berpartisipasi dalam penampilan RT yang menampilkan perpaduan beberapa instrumen, yaitu pianika, hadroh, dan gitar. Kolaborasi ini memberikan pengalaman baru bagi saya, namun memerlukan penyesuaian nada untuk setiap alat agar selaras, menjaga tempo tetap stabil, dan menyeimbangkan dinamika agar harmoni tidak pecah. Saya dipercaya memainkan pianika, dan tugas ini menjadi tantangan tersendiri karena saya harus meniup dengan tenaga yang cukup kuat agar suaranya tidak tertutup oleh instrumen lain, namun tetap menjaga agar nada yang dihasilkan tidak terlalu nyaring. Meskipun menuntut banyak penyesuaian, pengalaman ini membantu saya belajar tentang konsistensi, kerja sama, dan koordinasi dalam sebuah penampilan musik. Seluruh pengalaman tersebut memberi saya banyak pelajaran berharga tentang tanggung jawab, manajemen waktu, dan pentingnya bekerja dalam tim. Pembelajaran yang saya peroleh menjadi bekal penting untuk terus berkembang, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Daftar Pustaka

Putra, R. F. N. P., Hanami, Y., & Hanifah. (2024). Mahasiswa Bahagia: Aktivitas Sosial dan Dampaknya terhadap Kebahagiaan Mahasiswa. Psyche 165 Journal17(2), 114–120. https://doi.org/10.35134/jpsy165.v17i2.365.

Rizkiyah Alvina Ramandhita, & Wahyu Eko Pujianto. (2023). Analisis Keikutsertaan Mahasiswa dalam Organisasi Guna Menunjang Prestasi Akademik Mahasiswa UNUSIDA. Jurnal Publikasi Ilmu Manajemen3(1), 79–93. https://doi.org/10.55606/jupiman.v3i1.3285. 

Lampiran

Mahasiswa yang menjadi panitia PKKMB

Kelompok yang saya dampingi

KUR Desa

Penampilan RT


 ESSAI Ke-7 BELAJAR MENGELOLA SAMPAH DI TPS RANDU ALAS, NGAGLIK, SLEMAN, YOGTAKARTA

TOPIK: MINIMNYA LITERASI MASYARAKAT CANDI KARANG TERKAIT SAMPAH DAN PERAN TPS RANDU ALAS

Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.

Oleh

Rika Amelia

24310420062


Pada 1 Oktober 2025 saya berkesempatan untuk mengunjungi TPS Randu Alas yang beralamat di Ngaglik, sleman. Saya berangkat dari kost pada pukul 10 WIB dan sampai di Lokasi sekitar pukul 10.35 WIB, saya berkesempatan berbincang dan mewawancarai wakil pengurus dari TPS Randu Alas yaitu Bapak Sujono.

Pagi itu cuaca sangat cerah, saya disambut oleh beberapa pekerja yang sedang memilah sampah. Kemudian saya di arahkan masuk ke dalam kantor di mana Pak Sujono sedang merekap kwitansi tagihan sampah untuk beberapa para langganan sampah di TPS Randu Alas. 




Saya mulai memperkenalkan diri dan maksud serta tujuan saya mengadakan kunjungan ini, puji Syukur saya disambut dengan baik oleh Pak Sujono. Selanjutnya saya meminta ijin untuk merekam sesi selama wawancara dilakukan, link video akan saya cantumkan pada akhir dari essai ini.

Sebelum TPS ini berdiri, dahulu hanyalah tempat pembuangan sampah liar hingga menggunung dan menyebabkan bau yang tak sedap. Sehingga sebagai orang dengan kesadaran diri terhadap sampah, Para pengurus desa termasuk Pak Jono mengusulkan untuk membuka tempat pengelolaan sampah terpadu.

TPS Randu Alas sendiri baru dibangun pada 2015 dan kemudian resmi buka pada 16 Februari 2016 dengan bantuan dari Pemerintah PUPR, dengan mengelola sampah dari 4 Padukuhan dan 400 rumah, serta beberapa tempah usaha di Daerah Candi Karang. Jumlah ini sangat luar biasa untuk menekan lonjakan sampah di daerah tersebut.

Menurut Pak Sujono, masalah paling mendasar dari Desa Candi Karang terkait sampah Adalah rendahnya literasi dan kesadaran diri Masyarakat terkait sampah. Sehingga pada saat penutupan TPS Piyungan Masyarakat Candi Karang dan Sebagian wilayah di Jogja menjadi darurat sampah, keengganan Masyarakat untuk memilah dan mengelola sampahnya sendiri membuat petugas TPS dan TPS itu sendiri kuwalahan dalam mengelola sampah yang masuk.




Dengan biaya langganan sampah 25rb sd 50rb per rumah tangga dan lebih jika itu merupakan badan usaha, membuat Masyarakat merasa mereka tidak perlu memilah sampah yang mereka buang, sebagian besar Masyarakat merasa sudah membayar uang sampah lantas mengapa harus dipilah kembali? ujar Pak Jono berdasarkan pengalaman di lapangan.

Dalam pengelolaan TPS Randu Alas dari awal berdirinya hingga sekarang bukanlah hal yang mudah, mulai dari susahnya membuat perijinan berdirinya tempat, sikap Masyarakat yang skeptis dan memandang buruk TPS, hingga kurangnya akomodasi pengangkut sampah. TPS Randu Alas sendiri pernah berinovasi membuat alat pengelolaan sampah hingga menghabiskan dana puluhan juta, namun kemudian alat tersebut tidak dapat digunakan lantaran gagal. Bukan hanya itu, mereka mendapat tawaran produk alat pengolahan sampah dari Universitas Islam Indonesia namun karena harga yang mahal dan tidak adanya dana, maka pihak dari TPS Randu Alas Menolak.



Di Randu Alas ada beberapa cara pengolahan sampah seperti di daur ulang, pembuatan kompos dari bahan organik, POC atau pupuk organic cair, dan pembakaran. Untuk daur ulang seperti sampah plastic, kardus, dan sampa non-organik akan ada pengepul rongsok yang mengambilnya dan kemudian disetorkan ke pabrik untuk di daur ulang kembali.

Sedangkan pembuatan kompos ada di sebelah belakang kantor TPS Randu Alas, disana semua sampah organik seperti daun, kayu, sisa bahan dapur, dan sejenisnya dijadikan satu kemudian diberi bakteri agar mempercepat proses pembusukan. Proses ini sendiri memakan waktu satu bulan untuk menjadi kompos siap pakai, setelah itu bagi warga yang ingin menggunakan sebagai pupuk tanaman atau kebun mereka akan diberikan secara percuma.



Untuk POC ada di sebelah kantor Randu Alas, terbuat dari sisa sampah organic yang difermentasi menggunakan bakteri lokal. Setelah jadi POC di jual sebagai pupuk untuk tanaman atau kebun sayuran, hasil dari POC sendiri memang tidak secepat pupuk kimia namun itu lebih sehat dan tidak mencemari tanah.




Dari semua proses dan pengelolaan sampah di TPS Randu Alas ini menurut Pak Sujono selaku wakil pengurus ialah menyadarkan masyarakan betapa pentingnya pengolahan sampah yang benar dan dampak yang ditimbulkan, maka dari itu dari pihak TPS Randu Alas sering mengadakan sosialisasi terkait sampah, manfaat sampah, dampak yang dapat ditimbulkan dari sampah dan kerajinan dari sampah.


Menurutnya sekarang Masyarakat Candi Karang menjadi lebih terbuka dan lebih menerima terhadap keberadaan TPS Randu Alas jauh lebih baik dari awal-awal keberadaannya, karena Masyarakat sendiri sudah mendapat manfaat dari TPS Randu Alas dan betapa berpengaruhnya tempat pengolahan ini.

https://youtu.be/bEwaSLoIXnk?si=cAIwANfikQmzU7Rm


ESSAI KE-8 PSIKOLOGI LINGKUNGAN

TOPIK: BANK SAMPAH

Dr., Dra Arundati Shinta M. A.

Oleh

Rika Amelia



24310420062





 Bank sampah adalah temat yang dikelola oleh Masyarakat untuk menampung sampah-sampah yang sudah terpilah dari rumah tangga atau usaha skala rumahan, dengan system seperti bank yaitu orang yang ingin menabung di bank sampah harus menjadi nasabah terlebih dahulu dan menyetorkan sampahnya agar mendapatkan uang. Kemudian jika sudah terkumpul, maka uang tadi dapat ditarik oleh nasabah yang menabung di bank sampah.

Pada tangal 4 November pukul 4 sore saya mendatangi Bank Sampah Mandiri yang berada di Salaka, Potorono, Bantul. Dengann menempuh waktu 10 menit saya sudah sampai Lokasi, saya membawa sampah-smpah botol dan cup bekas minuman hasil dari saya plogging di beberapa tempat.

Saya menggunakan karung dengan kapasitas 25kg dan itu terisi penuh, saya lupa berapa berat timbangan dari sampah yang saya bawa pada taggal 4 Novemmber ini. Tapi uang yang saya dapat adalah sebesar Rp3.000.



Kemudian pada tanggal 22 November saya kembali ke bank sampah dengan membawa sampah botol dan kardus dari belanja online yang sudah saya kumpulkan serta ada sampah titipan dari ibu kost, yaitu berupa gallon bekas anak-anak kost, kardus dari bekas bungkus kulkas, wadah pel yang sudah rusak, dan juga derigen bekas yang sudah tidak terpakai lagi sebanyak 7 da beberapa kertas.

Semua jika ditotal sampah yang saya bawa adalah 16kg, dengan sampah kardus seberat 10kg dan sampah dari macam-macam seperti botol bekas yang saya kumpulkan, derigen, dll mencapai seberat 6kg. Dari semua sampah yang saya bawa ini kemudian saya mendapatkan hasil yang lumayan cukup untuk sekali makan, uang yang saya dapatkan adalah sebesar Rp17.000.



Maka jika ditotal uang saya dapatkan dari hasil menabung di bank sampah adalah sejumlah RP20.000. Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapatkan, saya juga merasa berkontribusi pada lingkungan dengan memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.

Saya bertekad untuk melanjutkan menabung di bank sampah meski tugas ini sudah selesai, setidaknya belajar konsisten dengan sampah yang akan saya buang dan saya tabung di bank sampah.




24.11.25

Esai-3 Psikologi Inovasi Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi, ketangguhan

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI-3 Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi, ketangguhan, entrepreneurship, ketekunan, peka terhadap perubahan, perencanaan terhadap perubahan, bersedia jadi suri tauladan

Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA





Mariyatun

23310410074

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

 

 

 

 

 

Resiliensi

Merasa sulit bangkit dari keterpurukan? Setiap orang pasti pernah mengalami. Sudah saatnya membangun resiliensi pada diri sendiri.

Resiliensi adalah kemampuan diri untuk beradaptasi dan memilki kekuatan dalam menghadapi ha-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Contohnya adalah masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau berpisah dengan pasangan.

Orang yang mempunyai Resiliensi yang baik akan mampu mengelola stress dengan baik sehingga risiko gangguan kecemasan dan depresi bisa dihindari

Cara membangun resiliensi:

1.Berpikir positif dan optimis. Daripada terus menerus memikirkan hal-hal negative yang bisa semakin membuat kita merasa cemas dan khawatir lebih baik memcari cara untuk menyelesaikan masalah. Menghargai pencapain yang kita raih meskipun itu hanya sedikit akan menumbuhkan rasa syukur yang akan menggeser focus kita pada kekurangan yang kita miliki.

2.Temukan dan focus pada tujuan hidup. Memiliki tujuan hidup akan membantu kita lebih focus terhadap masa depan dan melakukan usaha –usaha untuk mencapai tujuan.

3.Mencoba hal-hal baru. Mencoba hal baru ataupun memeplajari hal baru yang sebelumnya beum pernah dilakukan bisa mengembangkan wawasan dalam memcahkan masalah.

4.Kelola stress dengan baik. Seseorang yang mengalami stress akan lebih mudah mengabaikan kebutuhan penting yang seharusnya dikerjakan. Misalnya malas berolah raga akan mengakibatkan rentan sakit secara fisik yang bisa membuat semakin terpuruk.

5.Temuka teman cerita. Mempunyai seseorang untuk berbagi cerita akan membantu kita memiliki cara pandang lain yang bisa membantu menyelesaikan masalah.

6.Percaya kepada diri sendiri. Jangan percaya orang lain. Siapa lagi yang akan percaya untuk membantu bangkit dari permasalahan kaalau bukan diri kita sendiri. Rasa percaya diri yan kuat akan membuatmu memiliki resiiensi dan menta kuat.

 

Dorongan berprestasi

Dorongan berprestasi adalah keinginan atau tekad untuk berkerja dengan baik atau melampaui standard prestasi. Standar tersebut bisa berupa prestasi diri di masa lalu (improvement), melebihi pencapian orang lain (competitiveness), sasaran yang menantang atau sesuatu yang belum dilakukan orang lain (innovation).

Tingkatan awal dari dorongan berprestasi adalah Bekerja dengan Baik untuk Mencapai Suatu Target dan Mencapai Standar Prestasi yang Ditentukan. Pada tahap ini, fokus utama adalah pada kualitas dan kepatuhan. Individu yang memiliki dorongan ini akan mencoba bekerja dengan benar dan mengekspresikan ketidakpuasan terhadap ketidakefisienan.

Setelah standar terpenuhi, langkah selanjutnya adalah bergerak melampaui kepatuhan menuju Peningkatan Kinerja. Ini adalah transisi dari reaktif menjadi proaktif. Individu mulai Memperbaiki sistem atau metode kerja untuk meningkatkan kinerja, seperti bekerja lebih cepat, lebih efisien, atau dengan biaya yang lebih rendah

Tiga tingkatan tertinggi mewakili puncak dari dorongan berprestasi dan mentalitas kewirausahaan. Yang pertama adalah Menetapkan dan Mencapai Sasaran yang Menantang. Ini berarti individu tidak menunggu target dari perusahaan, melainkan Membuat target untuk diri sendiri yang melebihi target yang diberikan. Sasaran ini menantang (sulit dicapai) namun realistis, mendorong diri keluar dari zona nyaman. Hal ini juga mencakup merealisasikan ide-ide baru yang belum pernah dicoba, menunjukkan keberanian dalam berinovasi.

 

 Tips membangun ketangguhan mental

1. Terhubung dengan Tujuan Hidup

Pilar pertama dalam membangun ketangguhan mental adalah memiliki tujuan hidup yang jelas dan terhubung dengannya. Tujuan hidup memberikan makna dalam setiap tantangan yang dihadapi. Ketika individu tahu mengapa mereka berjuang, alih-alih putus asa menghadapi kemunduran, mereka akan termotivasi untuk melihat tantangan sebagai pelajaran berharga dan terus bergerak maju. Tujuan hidup tidak harus muluk-muluk; dapat dimulai dari hal sederhana seperti membangun support system yang kuat atau berpartisipasi dalam komunitas. Konsistensi dalam upaya mencapai tujuan tersebut menumbuhkan rasa keberdayaan, yaitu keyakinan bahwa individu memiliki kapasitas untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan.

 2. Mengembangkan Pola Pikir Positif

Pilar kedua adalah mengembangkan dan melatih pola pikir positif. Berpikir positif di sini dimaknai sebagai kemampuan untuk melihat setiap tantangan dari sisi solutif atau sisi terangnya. Ini memungkinkan seseorang untuk mengambil kesempatan dan berani berusaha, alih-alih menyerah karena takut usahanya tidak membuahkan hasil. Pola pikir ini sangat penting untuk bangkit dari kegagalan, karena ia memaknai kemunduran hanya sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Meskipun demikian, bersikap positif bukan berarti mengabaikan perasaan negatif; seseorang tetap harus menghargai emosi seperti rasa kecewa atau marah. Intinya adalah bagaimana individu dapat memaknai dan memproses emosi negatif tersebut, sambil mempertahankan keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang ada.

3. Menjaga Diri Sendiri (Self-Love)

Menjaga diri sendiri atau menekankan self-love adalah pilar ketiga yang kerap terabaikan namun fundamental. Seseorang yang tangguh secara mental tetap dapat mengalami stres dan penderitaan. Namun, upaya untuk survive dan menemukan solusi sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima. Ketika stres melanda, mudah bagi seseorang untuk mengabaikan kebutuhan dasar seperti olahraga teratur, waktu tidur yang cukup, atau menghargai diri sendiri. Padahal, fisik yang sehat adalah prasyarat utama untuk memiliki pikiran yang sehat dan jernih. Oleh karena itu, menginvestasikan waktu untuk merawat diri dan melakukan hal-hal yang disukai adalah tindakan yang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, memastikan individu selalu siap dan memiliki energi untuk menghadapi setiap tantangan hidup.

 

4. Memiliki Jaringan Sosial atau Pertemanan yang Kuat

Pilar terakhir adalah jaringan sosial yang kuat. Memiliki seseorang yang dipercaya untuk berbagi masalah atau bercerita sangat penting dalam situasi krisis atau trauma. Meskipun menceritakan masalah tidak akan menghilangkannya secara ajaib, manfaatnya sangat besar. Penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial yang mendukung—meliputi keluarga, teman, dan komunitas—dapat menumbuhkan ketahanan dan mendukung proses pemulihan seseorang. 

 

 https://www.alodokter.com/6-cara-membangun-resiliensi-agar-punya-mental-yang-kuat

https://www.indosdm.com/kamus-kompetensi-dorongan-berprestasi-need-of-achievement

https://www.idntimes.com/life/inspiration/4-tips-membangun-ketangguhan-mental-agar-semangat-menjalani-hidup-01-pwbws-5smth7

 


ESAI-2 Psikologi Inovasi Wawancara Disonansi Koqnitif

 

ESAI-2 PSIKOLOGI INOVASI

WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

 






 

Mariyatun

23310410074

 

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

 

 

 

 

Disonansi kognitif dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau ketegangan mental yang dialami seseorang saat tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi yang dimilikinya. Ketika pikiran, nilai, sikap, atau perilaku yang saling tidak konsisten atau bertentangan satu sama lain.

Disonansi dapat muncul dari berbagai situasi,misalnya:

  • Keyakinan A secara logis bertentangan dengan Keyakinan B.
  • Perilaku bertentangan dengan norma atau nilai budaya yang diyakini.
  • Perilaku atau sikap bertentangan dengan apa yang diterima secara umum.
  • Keyakinan baru bertentangan dengan pengalaman pribadi di masa lalu.

Salah satu contoh yang banyak kita temui adalah kasus perokok. Mereka punya kesadaran bahwa merokok itu berbahaya untuk kesehatan namun mereka tetap melakukannya.

Untuk mencari pembenaran akan perilaku merokok mereka terkadang memberikan alasan seperti "Bapak saya sampai sekarang merokok dan baik-baik saja," atau "Merokok membantu saya menghilangkan stres,"

Sering kita menemukan atau bahkan kita sendiri mengalami ciri-ciri gangguan disonansi kognitif namun kita jarang menyadarinya.

Berikut adalah ciri-ciri seseorang mengalami disonansi kognitif, antara lain:

·         Merasa tidak nyaman saat harus membuat keputusan

·         Perasaan bersalah atas keputusan yang pernah dibuat

·         Malu atau menyembunyikan hasil dari keputusan yang pernah diambil

·         Pembenaran atau rasionalisasi perilaku

·         Melakukan sesuatu karena tekanan sosial, bukan karena keinginan pribadi

 

 

Wawancara

 

1.      Pertanyaan: Sejak kapan anda mulai merokok?

Jawab: di umur 14 tahun sudah mulai merokok, kelas 2 SMP.

2.      Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda tentang resiko kesehatan terkait kebiasaan merokok?

Jawab: Sebenarnya secara kesehatan saya mengerti, tapi banyak orang berpikir merokok juga mati, tidak merokok juga mati.

3.      Pertanyaan: Ketika anda sedang merokok, apakah pernah terlintas iklan atau konten-konten mengenai bahaya merokok?

Jawab: Sebenarnya terlintas, untuk berhenti merokok, sayang dengan kesehatan tapi mau berhenti sulit karena sudah tergantung nikotin. Kalautidak merokok rasanya aneh apalagi kalau habis makan.

4.      Pertanyaan: Bagaimana perasaan anda ketika merokok?

Jawab: Pastinya happy. Ada rasa terpuaskan

5.      Pertanyaan: Apakah istri anda sering menasehati untuk berhenti merokok?

Jawab: Ya sering tapi untuk langsung berhenti sulit, harus pelan-pelan.

6.      Pertanyaan: Apakah anda punya rencana untuk berhenti merokok?

Jawab: Ya ada

7.      Pertanyaan: Apa yang menjadi alasan anda untuk berhenti merokok

Jawab: Ya demi kesehatan tapi terkadang berpikir merokok juga gak papa ini

8.      Pertanyaan: Apakah anda pernah berpikir bahwa merokok ada manfaatnya?

Jawab: Tidak ada manfaatnya.

 

https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/apa-itu-disonansi-kognitif?srsltid=AfmBOooKBPq7XCfcakL24JS2UVe5IfYjPT7Rzcew59X7pNKEBRXD2-oE

https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1694069&val=1488&title=Disonansi%20Kognitif%20Perokok%20Aktif%20di%20Indon