Pages - Menu

2.5.26

 Esay 2 - Wawancara tentang disonansi kognitif 

Psikologi Inovasi 
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Penulis : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105 


Dalam sebuah jurnal yang menyatakan Kampanye mengenai anti rokok telah dilakukan sejak lama di Indonesia baik oleh pemerintah, organisasi kesehtan maupun komunitas sosial. Pada WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2019, prevelensi perokok di Indonesia tahun 2018 pada pria sebesar 62,9% dan wanita 4,8% untuk usia lebih dari 15 tahun, sedangkan pada usia 13-15 tahun prevelensi perokok pria sebesar 23% dan wanita 2,4%, dimana kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami darurat rokok (World Health Organization, 2019).   
Saya mewawancarai seorang perokok disebuah pelatihan gym dengan inisial O dengan umur 34 tahun wawancara dilakukan pada hari Rabu 29 April 2026 dijam 18.00 

Secara medis, disonansi kognitif terjadi ketika perilaku bertentangan dengan nilai yang dipegang, menciptakan ketidaknyamanan mental yang sering diatasi dengan rasionalisasi. Di sini, dampaknya nyata. "Sangat terasa," katanya saat menggambarkan akhir pertandingan futsal atau kilometer kelima lari pagi. Napas pendek, tenggorokan kering panas batas stamina yang tak bisa ditembus seperti teman non-perokok. Meski begitu, ia tetap lanjut, fokus pada kardio intens seperti futsal mingguan dan lari akhir pekan, diseling gym untuk otot. Tubuhnya berteriak kontradiksi: olahraga membangun kapasitas paru, rokok menghancurkannya. Tapi ia bilang, "Sehat itu spektrum," menyeimbangkan "racun" dengan nutrisi dan gerak yang untuk meredakan disonansi.

Lebih dalam lagi, disonansi ini merembet ke pikiran. Setelah latihan, ia merasa "aneh" menyalakan rokok di parkiran. Seperti membangun rumah siang hari, lalu mencopot batangnya malam hari." Namun, olahraga justru jadi "izin" merokok. "Sudah lari 5 km, boleh lah sebatang," menurutnya. Ini self-reward yang ironis, mengurangi rasa bersalah. Ia tolak mitos "olahraga buang racun rokok" secara logis namun paru-paru tak "dicuci" keringat tapi secara psikologis, ia ingin percaya metabolisme cepatnya "efisien buang nikotin." Disonansi mencapai puncak berhenti merokok jauh lebih sulit daripada berhenti olahraga, karena nikotin ciptakan ketergantungan kimia dan kebiasaan tangan otomatis. Olahraga awalnya diharap ganti rokok, tapi malah jadi pasangan satu untuk disiplin, satu untuk relaksasi.

Lingkungan justru memperkuat disonansi. Di kelompok futsal, rokok diterima sehabis pertandingan,sebagai lingkaran hisap bersama. Temannya sering menggoda "Sprint ganas, tapi paru berasap, kapan bocor?" Berubah menjadi lelucon akrab. Di grup lari, ia menutupi,untuk menghormati coach yang fanatik kebugaran. Akibatnya? Ia anggap diri lebih dihargai sebagai "perokok bugar" daripada perokok lesu sebuah cap sosial "bergengsi," kedisiplinan jasmani untuk menyelamatkan sebuah reputasi. Ini menguatkan disonansi kelompok yang memberi pengakuan, meski stamina drop nanti, rokok menjadi prioritas pertama, karena olahraga menurutnya adalah aset yang baik hingga usia lanjut."

Pada akhirnya, disonansi ini bukan sekadar kontradiksi pribadi, tapi cermin luas fenomena "active smoker." Ia beri pesan tegas: "Jangan jadikan olahraga alasan melegalkan rokok. Kita negosiasi berbahaya dengan tubuh. Sadari batasmu, tetaplah bergerak setidaknya beri tubuh kesempatan melawan." Kisahnya mengingatkan bahwa disonansi kognitif bisa bertahan lama melalui rasionalisasi, tapi tubuh tak bisa dibohongi selamanya. Bagi ribuan seperti dia, pertanyaan kini kapan ketidaknyamanan ini menjadi sebuah perubahan?

Referensi 

DISONANSI KOGNITIF PEROKOK AKTIF DI INDONESIA Fadholi, Guntur Freddy Prisanto , Niken Febrina Ernungtyas, Irwansyah, Safira Hasna Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Inter Studi Universitas Indonesia e-mail: fadholisenayan@yahoo.com  dot http://ejournal.unp.ac.id/index.php/psikologi/ 
  • lTrikusumaadi, S. K., & Wahyudi, D. (2024). Penyuluhan Tentang Bahaya Merokok dan Sulitnya Berhenti Merokok Dengan Pendekatan Teori Kognitif. Bengawan: Jurnal Pengabdian Masyarakat4(2), 113-124.
  •  

    https://doi.org/10.46808/jurnal_bengawan.v4i2.157






Tidak ada komentar:

Posting Komentar