11.1.26

Ujian Akhir Psikologi Inovasi Kelas SJ & SP

 Need for Achievement dan Keberuntungan: Tinjauan Psikologi Sosial terhadap Kasus Ruben dalam The Crocodile River

Psikologi Inovasi

Dr. Arundati Shinta, M.A


Ibnu Rafie Junaidi

24310420059

Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


    Dalam dunia kewirausahaan, dorongan untuk berprestasi atau need for achievement menjadi salah satu karakteristik psikologis yang sangat menentukan keberhasilan individu, Dorongan ini mendorong seseorang untuk menetapkan tujuan yang menantang namun realistis sesuai dengan kemampuannya. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga dengan cara individu menyikapi peluang dan tantangan hidup. Hal ini tercermin dalam kasus Ruben pada Crocodile River, yang perilakunya dinilai sejalan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman. Tetapi, penerapan teori tersebut perlu di telaah lebih kritis dari perspektif psikologi sosial.

    Need for achievment merupakan konsep psikologis yang menjelaskan dorongan individu untuk mencapai prestasi secara optimal melalui penetapan tujuan yang menantang namun realistis. Individu dengan need of achievment tinggi cenderung termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dirinya, mengambil tanggung jawab pribadi atas hasil yang di capai, serta berorientasi pada pencapaian tujuan jangka panjang. Dalam konteks kewirausahaan, dorongan ini menjadi landasan penting bagi munculnya perilaku inoavtif dan keberanian dalam mengambil keputusan.

    Selain need for achievement, Robert Wiseman (2003) mengemukakan teori keberuntungan yang menekankan bahwa keberuntungan bukanlah faktor kebetulan. melainkan hasil dari pola perilaku tertentu. Wiseman menjelaskan empat prinsip utama, yaitu menjalin relasi dengan individu yang sukses, mengembangkan keterampilan diri secara konsisten, mampu melihat sisi positif dari peristiwa negatif, serta memiliki kepekaan dalam mengambil keputusan. Keempat prinsip ini membentuk kerangka perilaku yang dyakini dapat meningkatkan peluang keberhasilan individu.

    Perilaku Ruben dalam kasus The Crocodile River apat dianalisis sebagai cerminan individu dengan perilaku need for achievement yang cukup kuat. Ruben digambarkan memiliki fokus yang jelas terhadap tujuan hidupnya serta berupaya mengembangkan dirinya secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Sikap ini menunjukan karakter individu dengan need for achievement tinggi, yaitu berorientasi pada pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

    Jika dikaitkan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman, perilaku Ruben juga selaras dengan keepat prinsip yang dikemukakan, Pertama, Ruben memilih untuk tidak terlibat dengan individu yang bermasalah seperti Lorena, yang mencerminkan upaya menjaga lingkungan sosial yang mendukung keberhasilan. Kedua, ia lebih memusatkan perhatia pada pengembangan keterampilan dan pengelolaan dirinya sendiri. Ketiga, Ruben mampu mengantisipasi potensi masalah dengan melihat resiko secara rasional dan mengambil langkah pencegahan. Keempat, kebiasaan bermeditasi yanng dilakukan Ruben menunjukan usaha untuk meningkatkan kepekaan dan ketepatan dalam mengambil keputusan hidup. Secara keseluruhan, Ruben digambarkan sebagai individu yang membentuk "keberuntungannya" melalui pola perilaku yang terarah dan konsisten.

    Meskipun perilaku Ruben tampak selaras dengan teori keberuntungan dan mencerminkan dorongan berprestasi yang kuat, pendekatan tersebut tidak lepas dari sejumlah permasalahan jika ditinjau dari perspektif psikologi sosial. Keputusan Ruben untuk sepenuhnya menjauhi individu bermasalah seperti Lorena dapat dipahami sebagai strategi perlindungan diri, namun di sisi lain berpotensi mengabaikan nilai empati dan kepedulian sosial. Dalam kehidupan sosial, individu tidak selalu dapat memisahkan diri sepenuhnya dari lingkungan yang penuh masalah, karena manusia pada dasarnya hidup dalam relasi dan saling ketergantungan. Selain itu, memaknai keberuntungan semata-mata sebagai hasil fokus pada diri sendiri dapat menimbulkan pandangan individualistik yang mengesampingkan peran solidaritas sosial. Hal ini menjadi dilema antara pencapaian pribadi dan tanggung jawab sosial yang perlu dipertimbangkan secara lebih seimbang.

    Berdasarkan analisis tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dalam memaknai dorongan berprestasi dan keberuntungan. Individu dengan need for achievement tinggi tetap perlu mengembangkan fokus pada tujuan dan pengambilan keputusan yang tepat, anmun tanpa mengesampingkan nilai empati dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks psikologi inovasi, keberhasilan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian pribadi, tetapi juga oleh kemampuan individu beradaptasi dan berkontribusi dalam lingkungan sosialnya. Dengan demikian, perilaku inovatif idealnya mengintegrasikan need for achievement dengan kepedulian sosial agar keberuntungan dan keberhasilan dapat tercapai secara lebih bermakna.

Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:

Posting Komentar