11.1.26

UAS - Psikologi Inovasi


Ahmad Fawwaz

25310420005

 

UAS Psikologi Inovasi

Dr. A. Shinta, M. A.

 

 

Karakteristik need for achievement atau nAch memang menjadi inti dari jiwa seorang entrepreneur. Dorongan untuk berprestasi membuat individu tidak sekadar bekerja demi hasil, tetapi juga mencari tantangan yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Hal ini penting karena tujuan yang terlalu mudah tidak akan menumbuhkan motivasi, sementara tujuan yang terlalu sulit justru bisa mematahkan semangat. Dengan demikian, keseimbangan antara kemampuan dan tingkat kesulitan tujuan menjadi kunci agar seorang entrepreneur tetap percaya diri sekaligus terdorong untuk berkembang.

Selain itu, menarik bahwa konsep nAch tidak hanya dianggap sebagai sifat bawaan, tetapi juga sesuatu yang bisa dilatih. Melalui kebiasaan menulis hal-hal positif dan kompetitif, individu dapat membentuk pola pikir yang lebih berorientasi pada pencapaian. Hal ini sejalan dengan pandangan psikologi modern bahwa motivasi dan karakter dapat dikembangkan melalui pengalaman dan latihan berulang. Dengan kata lain, seorang entrepreneur tidak hanya bergantung pada bakat alami, tetapi juga pada usaha sadar untuk mengasah dorongan berprestasi.

Keterkaitan antara dorongan berprestasi dan keberuntungan yang dijelaskan melalui kasus Ruben dalam The Crocodile River juga memperlihatkan bahwa keberuntungan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya acak. Empat faktor yang dikemukakan Robert Wiseman menunjukkan bahwa keberuntungan bisa diciptakan melalui sikap dan perilaku tertentu. Ruben yang memilih bergaul dengan orang sukses, fokus pada keterampilan dirinya, mampu melihat sisi positif dari musibah, serta melatih kepekaan dalam mengambil keputusan, menunjukkan bagaimana nAch dapat bertransformasi menjadi peluang keberuntungan. Hal ini menegaskan bahwa keberuntungan bukan sekadar hasil dari kebetulan, melainkan buah dari konsistensi perilaku yang mendukung pencapaian tujuan.

Jika ditinjau lebih jauh, nAch juga memiliki implikasi penting dalam konteks sosial dan budaya. Di masyarakat yang menghargai kerja keras dan inovasi, individu dengan dorongan berprestasi tinggi akan lebih mudah mendapatkan dukungan dan peluang. Sebaliknya, dalam lingkungan yang kurang mendukung, nAch dapat menjadi sumber konflik karena individu merasa terhambat untuk menyalurkan potensinya. Oleh karena itu, peran lingkungan sosial dan budaya tidak bisa diabaikan dalam membentuk dan memperkuat semangat berprestasi seorang entrepreneur.

Selain itu, konsep nAch juga relevan dalam dunia pendidikan dan pelatihan. Mahasiswa atau peserta didik yang memiliki dorongan berprestasi tinggi cenderung lebih aktif mencari tantangan, lebih tekun dalam belajar, dan lebih kreatif dalam menemukan solusi. Dengan demikian, pendidikan yang mampu menumbuhkan nAch akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan nyata.

Dalam praktiknya, entrepreneur dengan nAch tinggi biasanya menunjukkan perilaku yang konsisten dengan prinsip-prinsip keberuntungan ala Wiseman. Mereka membangun jaringan dengan orang-orang sukses, melatih keterampilan secara berkelanjutan, mampu melihat peluang dalam kesulitan, dan memiliki intuisi tajam dalam mengambil keputusan. Semua faktor ini saling melengkapi, sehingga menjadikan mereka lebih tangguh dan adaptif dalam menghadapi ketidakpastian.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semangat berprestasi bukan hanya mendorong seseorang untuk mencapai tujuan, tetapi juga membuka jalan bagi terbentuknya keberuntungan. Entrepreneur yang memiliki nAch tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan, lebih tangguh dalam mengelola risiko, dan lebih jeli dalam memanfaatkan peluang. Kombinasi antara motivasi berprestasi dan sikap yang selaras dengan faktor keberuntungan menjadikan mereka lebih berpotensi untuk sukses dalam jangka panjang.

 

Daftar Pustaka  

  • McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton: Van Nostrand.
  • Harper, R. (1984). The Crocodile River. London: Harper & Row.
  • Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles. London: Random House.  

0 komentar:

Posting Komentar