11.1.26

ESAI 9 UAS PSIKOLOGI INOVASI


ESAI 9 UAS PSIKOLOGI INOVASI

Need for Achievement dan Keberuntungan sebagai Hasil Pilihan Psikologis dalam Konteks Entrepreneur 

Olivia Yunita Trestiawati (23310410023)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

JANUARI 2026

Salah satu karakteristik penting yang melekat pada seorang entrepreneur adalah need for achievement, yaitu dorongan internal untuk menggapai prestasi melalui tujuan yang menantang namun tetap sesuai dengan kemampuannya. Dorongan ini membuat individu semakin termotivasi untuk bekerja lebih baik, lebih terarah, dan lebih bertanggung jawab terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Ketika tujuan terlalu mudah, individu cenderung kehilangan semangat karena tidak merasa terdorong. Sebaliknya, jika tujuan terlalu tinggi, individu mungkin merasa terbebani. Oleh karena itu, kemampuan menyesuaikan tujuan dengan kapasitas diri menjadi dasar penting dalam proses inovasi dan pengambilan keputusan seorang entrepreneur, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan tekanan kompetitif di dunia usaha.

Permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sering kali adalah anggapan bahwa keberhasilan dan keberuntungan ditentukan oleh faktor eksternal seperti nasib, latar belakang keluarga, atau kondisi lingkungan. Pandangan ini membuat individu kurang menyadari peran aktif dirinya dalam membentuk arah hidup. Akibatnya, kegagalan sering disikapi dengan menyalahkan keadaan, bukan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi dan tujuan. Pola pikir seperti ini dapat menghambat pengembangan potensi diri, karena individu menjadi pasif dan enggan melakukan perubahan, padahal perubahan adalah inti dari proses belajar dan inovasi.

Kasus Ruben dalam kisah The Crocodile River memberikan gambaran konkret mengenai individu yang memiliki dorongan berprestasi dan kemampuan kontrol diri yang baik. Ruben digambarkan sebagai sosok yang fokus pada masalahnya sendiri, tidak terjebak dalam masalah orang lain, terutama Lorena yang terus berada dalam lingkaran kesulitan. Dari sudut pandang psikologi inovasi, sikap Ruben menunjukkan kemampuan self-regulation, yaitu kemampuan mengarahkan perilaku sesuai dengan tujuan jangka panjang. Ia memahami bahwa keterlibatan dalam masalah yang tidak produktif hanya akan menguras energi psikologis dan menghambat pencapaian tujuan hidupnya.

Jika dikaitkan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Robert Wiseman, perilaku Ruben mencerminkan bahwa keberuntungan bukanlah hasil kebetulan semata.  Keberuntungan muncul karena pola pikir dan kebiasaan yang dilatih secara konsisten. Ruben memilih untuk menjaga lingkungan tetap kondusif, fokus melatih keterampilannya, serta mampu melihat risiko sebagai bentuk kewaspadaan. Sikap ini menunjukkan bahwa Ruben tidak menunggu keberuntungan datang, tetapi secara aktif menciptakan kondisi yang mendukung keberhasilannya. Kebiasaan bermeditasi yang dilakukan Ruben juga merupakan proses refleksi diri yang membantu meningkatkan kejernihan dalam mengambil keputusan penting.

Menurut saya, sikap Ruben memang bisa menimbulkan dilema moral, terutama terkait empati terhadap orang lain. Namun, dalam konteks pengembangan diri dan inovasi, kemampuannya menetapkan batasan justru menunjukkan kedewasaan psikologis. Menolong orang lain tanpa batas dan tanpa kesiapan diri berpotensi membuat individu terjebak dalam masalah yang sama dan menghambat pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, fokus pada diri sendiri dalam konteks ini bukanlah bentuk egoisme, melainkan strategi adaptif untuk menjaga keberlanjutan tujuan hidup.

Sebagai solusi, need for achievement perlu dilatih secara sadar melalui kebiasaan reflektif. Individu dapat membangun dorongan berprestasi dengan menuliskan tujuan yang realistis, mengevaluasi kegagalan secara objektif, serta membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan diri. Selain itu, penting bagi individu untuk melatih kepekaan dalam mengambil keputusan agar tidak mudah terdistraksi oleh masalah yang tidak relevan dengan tujuan utama. Dengan demikian, keberuntungan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang pasif, melainkan sebagai hasil dari pilihan psikologis yang konsisten dan bertanggung jawab, serta selaras dengan nilai dan tujuan hidup individu.

DAFTAR PUSTAKA

McClelland, D. C. (1985). Human motivation. Glenview, IL: Scott, Foresman and Company.

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Intrinsic and extrinsic motivations: Classic definitions and new directions. Contemporary Educational Psychology, 25(1), 54–67.

Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. New York, NY: Free Press.

Wiseman, R. (2004). The luck factor. London, England: Arrow Books.

0 komentar:

Posting Komentar