ESAI 9 UAS PSIKOLOGI
INOVASI
Need for Achievement dan Keberuntungan sebagai Hasil Pilihan Psikologis dalam Konteks Entrepreneur
Olivia
Yunita Trestiawati (23310410023)
Mata
Kuliah Psikologi Inovasi
Dosen
Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.
PROGRAM
STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
PROKLAMASI 45
JANUARI
2026
Salah
satu karakteristik penting yang melekat pada seorang entrepreneur adalah need
for achievement, yaitu dorongan internal untuk menggapai prestasi melalui tujuan
yang menantang namun tetap sesuai dengan kemampuannya. Dorongan ini membuat
individu semakin termotivasi untuk bekerja lebih baik, lebih terarah, dan lebih
bertanggung jawab terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Ketika tujuan terlalu
mudah, individu cenderung kehilangan semangat karena tidak merasa terdorong.
Sebaliknya, jika tujuan terlalu tinggi, individu mungkin merasa terbebani. Oleh
karena itu, kemampuan menyesuaikan tujuan dengan kapasitas diri menjadi dasar
penting dalam proses inovasi dan pengambilan keputusan seorang entrepreneur,
terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan tekanan kompetitif di dunia usaha.
Permasalahan
dalam kehidupan sehari-hari sering kali adalah anggapan bahwa keberhasilan dan
keberuntungan ditentukan oleh faktor eksternal seperti nasib, latar belakang
keluarga, atau kondisi lingkungan. Pandangan ini membuat individu kurang
menyadari peran aktif dirinya dalam membentuk arah hidup. Akibatnya, kegagalan
sering disikapi dengan menyalahkan keadaan, bukan sebagai bahan evaluasi untuk
memperbaiki strategi dan tujuan. Pola pikir seperti ini dapat menghambat
pengembangan potensi diri, karena individu menjadi pasif dan enggan melakukan
perubahan, padahal perubahan adalah inti dari proses belajar dan inovasi.
Kasus
Ruben dalam kisah The Crocodile River memberikan gambaran konkret mengenai
individu yang memiliki dorongan berprestasi dan kemampuan kontrol diri yang
baik. Ruben digambarkan sebagai sosok yang fokus pada masalahnya sendiri,
tidak terjebak dalam masalah orang lain, terutama Lorena yang terus berada
dalam lingkaran kesulitan. Dari sudut pandang psikologi inovasi, sikap Ruben
menunjukkan kemampuan self-regulation, yaitu kemampuan mengarahkan perilaku
sesuai dengan tujuan jangka panjang. Ia memahami bahwa keterlibatan dalam
masalah yang tidak produktif hanya akan menguras energi psikologis dan
menghambat pencapaian tujuan hidupnya.
Jika
dikaitkan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Robert Wiseman,
perilaku Ruben mencerminkan bahwa keberuntungan bukanlah hasil kebetulan
semata. Keberuntungan muncul karena pola pikir dan kebiasaan yang
dilatih secara konsisten. Ruben memilih untuk menjaga lingkungan tetap
kondusif, fokus melatih keterampilannya, serta mampu melihat risiko sebagai
bentuk kewaspadaan. Sikap ini menunjukkan bahwa Ruben tidak menunggu
keberuntungan datang, tetapi secara aktif menciptakan kondisi yang mendukung
keberhasilannya. Kebiasaan bermeditasi yang dilakukan Ruben juga merupakan
proses refleksi diri yang membantu meningkatkan kejernihan dalam mengambil
keputusan penting.
Menurut
saya, sikap Ruben memang bisa menimbulkan dilema moral, terutama terkait empati
terhadap orang lain. Namun, dalam konteks pengembangan diri dan inovasi,
kemampuannya menetapkan batasan justru menunjukkan kedewasaan psikologis.
Menolong orang lain tanpa batas dan tanpa kesiapan diri berpotensi membuat
individu terjebak dalam masalah yang sama dan menghambat pertumbuhan pribadi.
Oleh karena itu, fokus pada diri sendiri dalam konteks ini bukanlah bentuk
egoisme, melainkan strategi adaptif untuk menjaga keberlanjutan tujuan hidup.
Sebagai
solusi, need for achievement perlu dilatih secara sadar melalui kebiasaan
reflektif. Individu dapat membangun dorongan berprestasi dengan menuliskan
tujuan yang realistis, mengevaluasi kegagalan secara objektif, serta membangun
lingkungan yang mendukung pertumbuhan diri. Selain itu, penting bagi individu
untuk melatih kepekaan dalam mengambil keputusan agar tidak mudah terdistraksi
oleh masalah yang tidak relevan dengan tujuan utama. Dengan demikian,
keberuntungan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang pasif, melainkan sebagai
hasil dari pilihan psikologis yang konsisten dan bertanggung jawab, serta
selaras dengan nilai dan tujuan hidup individu.
DAFTAR
PUSTAKA
McClelland, D. C. (1985). Human
motivation. Glenview, IL: Scott, Foresman and Company.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000).
Intrinsic and extrinsic motivations: Classic definitions and new directions. Contemporary
Educational Psychology, 25(1), 54–67.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A
visionary new understanding of happiness and well-being. New York, NY: Free
Press.

0 komentar:
Posting Komentar