Review Jurnal
Resiliensi Orang Tua Sunda yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus
Oleh Ika Fatmawati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
|
Topik |
Resiliensi Orang Tua Sunda yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus |
|
Sumber |
Hermawati, N. (2018). Resiliensi Orang Tua Sunda yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya. UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. April, P67-P74. |
|
Teori |
§ Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan individu yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls,optimisme, empati, analisis penyebab masalah, efikasi diri, dan peningkatan aspek positif. Setiap individu memiliki kapasitas untuk resilien. Konsep resiliensi menitikberatkan pada pembentukan kekuatan individu sehingga kesulitan dapat dihadapi dan diatasi. Resiliensi juga digunakan untuk bertahan atau survive dan mampu beradaptasi dalam keadaan stress dan mengalami penderitaan. Mereka memiliki model yaitu seorang tetangga yang tidak mudah menyerah, berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehari- hari karna sudah ditinggalkan pasangannya. § Resiliensi dapat dilihat dari tiga aspek yakni : 1). I am (Memiliki kekuatan pribadi yang terus berusaha) 2). I have ( Memiliki dukungan dari luar dari teman dan juga pasangan yang saling menghormati dan menyayangi) 3). I Can (Memiliki kemampuan untuk menjaga hubungan interpersonal baik dengan tetangga maupun anggota keluarga
§ Dilihat dari kepribadian Sunda mereka memiliki karakteristik cageur, bageur, pinter, singer, dan bener. Hal ini tentu saja warisan dari orangtuanya, dimana mereka diajarkan untuk tetap bertahan dan mampu pribadi yang tetap sehat, baik, pintar dan tetap berusaha dan jujur meskipun menghadapi tantangan. |
|
Perma- salahan |
Memiliki anak merupakan dambaan setiap pasangan, karena salah satu fungsi dari sebuah keluarga adalah untuk mengembangkan kehidupan. Banyak cara yang dilakukan oleh pasangan untuk mendapatkan keturunan diantara adalah melakukan pengobatan medis, pengobatan non medis atau alternatif, dan ada juga yang mengangkat anak/ mengadopsi. Pasangan suami istri Sunda memiliki anak angkat meskipun sudah memiliki anak kandung sebelumnya. Rasa sayang dari pasangan ini kepada kedua buah hatinya tidak ada perbedaan, sekalipun anak angkatnya termasuk anak berkebutuhan khusus. Kehidupan keluarga pasangan ini bisa dikatakan pas- pasan, istri bekerja sebagai penjual makanan, suami membantu istri dan anak kandung mereka duduk di bangku SMP. |
|
Metode |
§ Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualtitatif deskriptif yang bersifat fenomenologi untuk mengungkap makna pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada individu. § Sumber data dalam peneitian ini adalah pasangan suami istri asli Sunda yang memiliki anak angkat yang berkebutuhan khusus dan significant other yaitu tetangganya. § Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dengan memperhatikan aspek- aspek resiliensi yang akan digali. § Alat bantu yang digunakan penelitian yaitu pedoman wawancara, alat perekam suara (tape recorder), dan alat tulis § Prosedur penelitian yaitu tahap persiapan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data. |
|
Hasil penelitian |
§ Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, sepasang suami istri Sunda yang memiliki anak angkat berkebutuhan khusus ini termasuk individu yang memiliki resiliensi. § Hal ini berarti bahwa pasangan ini mampu bertahan hidup pada situasi yang menyulitkan, yakni memiliki anak berkebutuhan khusus dengan keadaan suami yang tidak bekerja, tetap dapat berdiri tegak, dan berusaha dengan baik menghadapi apa yang dialaminya. |
|
Diskusi |
§ Pasangan suami istri ini menjalani kehidupan dengan saling mengasihi, mencintai antar anggota keluarga, tetap berusaha melakukan aktifitas sehari- hari sebagaimana mestinya. Mereka juga berusaha untuk bisa berempati kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan dan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan memberikan semangatnya. Mereka menghadapi kehidupannya dengan tetap berusaha dan menyerahkan kepada Allah, serta berusaha ikhlas dalam menerima ketetapan-Nya. Komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga juga sangat baik, mereka saling memperhatikan satu sama lain. Mereka juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan berinteraksi baik dengan tetangga. Mereka sangat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain ketika menghadapi kesulitan- kesulitan. § Kelemahan penelitian ini ada 3 yakni : 1) Peneliti tidak menyebutkan usia pasangan ini secara detail, hanya menggambarkan masuk usia senja. 2) Peneliti tidak memberikan penjelasan tentang anak kandung mereka yang duduk di bangku SMP, murni membahas resiliensi orangtua. 3) Peneliti juga tidak memberi gambaran tentang dukungan sosial dari tetangga terhadap keluarga mereka dan bagaimana tetangga memperlakukan keluarga mereka. |
0 komentar:
Posting Komentar