HUBUNGAN ANTARA KEPADATAN, TOLERANSI, SOSIAL, KEAKRABAN DENGAN RASA SESAK DI PEMUKIMAN PADAT PERKOTAAN
DI SUSUN OLEH : NINGNURANI
NIM :
16.310.410.1146
FAKULTAS : PSIKOLOGI
MATA KULIAH : PSIKOLOGI UMUM 2 UNIVERSITAS PROKLAMASI ’45 YOGYAKARTA
JUDUL JURNAL :
HUBUNGAN ANTARA KEPADATAN,TOLERANSI SOSIAL, KEAKRABAN
DENGAN RASA SESAK DI
PEMUKIMAN PADAT PERKOTAAN.
PENULIS :
INDRA WAHYUDI
VOL : 2, 2006, JURNAL
PSIKOLOGI
ISSN : 1858 – 3970
Yogyakarta, kota kecil
yang penuh dengan sejuta pesona, menjadikan orang – orang dari luar daerah,
bahkan manca Negara tertarik untuk datang, belajar, dan menetap di kota ini. Juga
faktor sistem kekerabatan orang jawa yang bersifat “ extendedfamily “. Hal itulah
yang menyebabkan kepadatan, toleransi sosial, dan keakraban yang berpengaruh
terhadap terbentuknya rasa sesak penduduk di kota Yogyakarta.
Pada umumnya rasa sesak
itu merupakan respon negatif, meskipun dapat pula berupa respon positif. Rasa sesak
ini juga bisa dipahami sebagai hilangnya kendali diri dalam berinteraksi dengan
orang lain. Dampak kepadatan terhadap timbulnya rasa sesak menurut teori
intensitas kepadatan berawal dari tingkat kesukaan orang terhadap situasi padat
ini. Selain tingkat kesukaan pada situasi padat, variable antara lainnya yang
mempengaruhi timbulnya rasa sesak adalah faktor personal,sosial, fisik, bahkan
budaya
( Gifford,1987,Holohan 1982 Veitch & Arkellin 1995 ).
Menurut teori
social comparison dari Festinger ( dalam Feldman, 1985 ), keberadaan
tetangga / orang – orang lainnya di pemukiman padat, menbawa dampak positif. Kehadiran
orang lain tidak hanya menghadirkan informasi baru yang berguna bagi perkembangan
kongnisinya, tetapi juga berguna bagi perkembangan totalitas jati
dirinya / self- fulfttiment..
Dampak negative dari mere
exposure / seringnya bertemu antara penghuni pemukiman padat selain
membuat akrab, juga membuat kebosanan pada subjek terhadap tetengganya. Keakraban
juga dapat mengakibatkan presepsi yang berlebihan tentang penerimaan diri orang
lain terhadap seseorang. Karena itu keakraban justru sering menyebabkan
estimasi yang berlebihan bagi seseorang dalam mempresepsikan dirinya, dan
akhirnya hal ini akan menimbulkan “ kesembronoan “ dalam berperilaku.
Rendahnya rasa sesak
pada penghuni pemukiman padat di kota Yogyakarta selain disebabkan oleh
toleransi sosial, juga ditentukan oleh lima faktor lainnya, yaitu :
1.
Keasrian lingkungan telah mengurangi rasa
sesak ( Ancok, 1995 ).
2.
Tersedianya tempat duduk di lorong –
lorong rumah para warga .
3.
Penataan perabot yang sesuai telah
mengurangi rasa sesak penduduk.
4.
Kegiatan produktif dan menyenangkan telah
mengurangi rasa sesak enduduk.
5.
Partisipasi yang dilandasi kerukunan
telah mengurangi konflik, dan akhirnya mendorong rendahnya rasa sesak warga.
Kelebihan jurnal ini, adalah : - mengungkapkan fakta yang sebenarnya dan
yang terjadi di kota Yog
yakarta ini.
- Menjadi referensi bagi penduduk
kota Yogyakarta tentang keadaan di sekitarnya, agar lebih peduli dengan
kepadatan yang telah terjadi,walaupun kita bukan penduduk asli kota Yogyakarta.
Kekurangan
jurnal ini , adalah : * Penyusunan dan pengunaan bahasa yang susah dimengerti.
·
Banyaknya
kata- kata dan kalimat – kalimat yang diulang – ulang.
Kesimpulan : “ Dimana bumi di pijak ,
disitulah langit di junjung “. Sebagai warga asli Yogyakarta apalagi kita
sebagai pendatang, kita harus lebih peduli dengan kondisi tempat tinggal kita,
menjaga toleransi,saling menjaga kerukunan, dan menyingkirkan rasa ke – egoisan
untuk terciptanya lingkungan yang nyaman seperti yang kita inginkan.
0 komentar:
Posting Komentar