ESSAI Ke-7 BELAJAR MENGELOLA SAMPAH DI TPS RANDU ALAS, NGAGLIK, SLEMAN, YOGTAKARTA
TOPIK: MINIMNYA LITERASI MASYARAKAT CANDI KARANG TERKAIT SAMPAH DAN PERAN TPS RANDU ALAS
Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.
Oleh
Rika Amelia
24310420062
Pada 1 Oktober 2025 saya berkesempatan untuk mengunjungi TPS Randu Alas yang beralamat di Ngaglik, sleman. Saya berangkat dari kost pada pukul 10 WIB dan sampai di Lokasi sekitar pukul 10.35 WIB, saya berkesempatan berbincang dan mewawancarai wakil pengurus dari TPS Randu Alas yaitu Bapak Sujono.
Pagi itu cuaca sangat cerah, saya disambut oleh beberapa pekerja yang sedang memilah sampah. Kemudian saya di arahkan masuk ke dalam kantor di mana Pak Sujono sedang merekap kwitansi tagihan sampah untuk beberapa para langganan sampah di TPS Randu Alas.
Saya mulai memperkenalkan diri dan maksud serta tujuan saya mengadakan kunjungan ini, puji Syukur saya disambut dengan baik oleh Pak Sujono. Selanjutnya saya meminta ijin untuk merekam sesi selama wawancara dilakukan, link video akan saya cantumkan pada akhir dari essai ini.
Sebelum TPS ini berdiri, dahulu hanyalah tempat pembuangan sampah liar hingga menggunung dan menyebabkan bau yang tak sedap. Sehingga sebagai orang dengan kesadaran diri terhadap sampah, Para pengurus desa termasuk Pak Jono mengusulkan untuk membuka tempat pengelolaan sampah terpadu.
TPS Randu Alas sendiri baru dibangun pada 2015 dan kemudian resmi buka pada 16 Februari 2016 dengan bantuan dari Pemerintah PUPR, dengan mengelola sampah dari 4 Padukuhan dan 400 rumah, serta beberapa tempah usaha di Daerah Candi Karang. Jumlah ini sangat luar biasa untuk menekan lonjakan sampah di daerah tersebut.
Menurut Pak Sujono, masalah paling mendasar dari Desa Candi Karang terkait sampah Adalah rendahnya literasi dan kesadaran diri Masyarakat terkait sampah. Sehingga pada saat penutupan TPS Piyungan Masyarakat Candi Karang dan Sebagian wilayah di Jogja menjadi darurat sampah, keengganan Masyarakat untuk memilah dan mengelola sampahnya sendiri membuat petugas TPS dan TPS itu sendiri kuwalahan dalam mengelola sampah yang masuk.
Dengan biaya langganan sampah 25rb sd 50rb per rumah tangga dan lebih jika itu merupakan badan usaha, membuat Masyarakat merasa mereka tidak perlu memilah sampah yang mereka buang, sebagian besar Masyarakat merasa sudah membayar uang sampah lantas mengapa harus dipilah kembali? ujar Pak Jono berdasarkan pengalaman di lapangan.
Dalam pengelolaan TPS Randu Alas dari awal berdirinya hingga sekarang bukanlah hal yang mudah, mulai dari susahnya membuat perijinan berdirinya tempat, sikap Masyarakat yang skeptis dan memandang buruk TPS, hingga kurangnya akomodasi pengangkut sampah. TPS Randu Alas sendiri pernah berinovasi membuat alat pengelolaan sampah hingga menghabiskan dana puluhan juta, namun kemudian alat tersebut tidak dapat digunakan lantaran gagal. Bukan hanya itu, mereka mendapat tawaran produk alat pengolahan sampah dari Universitas Islam Indonesia namun karena harga yang mahal dan tidak adanya dana, maka pihak dari TPS Randu Alas Menolak.
Di Randu Alas ada beberapa cara pengolahan sampah seperti di daur ulang, pembuatan kompos dari bahan organik, POC atau pupuk organic cair, dan pembakaran. Untuk daur ulang seperti sampah plastic, kardus, dan sampa non-organik akan ada pengepul rongsok yang mengambilnya dan kemudian disetorkan ke pabrik untuk di daur ulang kembali.
Sedangkan pembuatan kompos ada di sebelah belakang kantor TPS Randu Alas, disana semua sampah organik seperti daun, kayu, sisa bahan dapur, dan sejenisnya dijadikan satu kemudian diberi bakteri agar mempercepat proses pembusukan. Proses ini sendiri memakan waktu satu bulan untuk menjadi kompos siap pakai, setelah itu bagi warga yang ingin menggunakan sebagai pupuk tanaman atau kebun mereka akan diberikan secara percuma.
Untuk POC ada di sebelah kantor Randu Alas, terbuat dari sisa sampah organic yang difermentasi menggunakan bakteri lokal. Setelah jadi POC di jual sebagai pupuk untuk tanaman atau kebun sayuran, hasil dari POC sendiri memang tidak secepat pupuk kimia namun itu lebih sehat dan tidak mencemari tanah.
Dari semua proses dan pengelolaan sampah di TPS Randu Alas ini menurut Pak Sujono selaku wakil pengurus ialah menyadarkan masyarakan betapa pentingnya pengolahan sampah yang benar dan dampak yang ditimbulkan, maka dari itu dari pihak TPS Randu Alas sering mengadakan sosialisasi terkait sampah, manfaat sampah, dampak yang dapat ditimbulkan dari sampah dan kerajinan dari sampah.
Menurutnya sekarang Masyarakat Candi Karang menjadi lebih terbuka dan lebih menerima terhadap keberadaan TPS Randu Alas jauh lebih baik dari awal-awal keberadaannya, karena Masyarakat sendiri sudah mendapat manfaat dari TPS Randu Alas dan betapa berpengaruhnya tempat pengolahan ini.
https://youtu.be/bEwaSLoIXnk?si=cAIwANfikQmzU7Rm









0 komentar:
Posting Komentar