ESAI 8
NASABAH BANK SAMPAH
RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA
(24310410005)
PSIKOLOGI LINGKUNGAN
KELAS KARYAWAN
Ibu Dr. Arundati Shinta., MA
Kebiasaan dengan lingkungan yang bersih selain membuat nyaman orang yang tinggal tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mengumpulkan sampah anorganik lalu dijual di bank sampah. Proses membersihkan rumah dapat menjadi lebih bermanfaat ketika dilakukan dengan cara memilah sampah. Langkah awal adalah dengan mengidentifikasi area rumah yang sering menumpuk dengan sampah anorganik, yaitu area gudang, dapur dan area ruang keluarga. Setelah itu, sampah dipilah berdasarkan jenisnya seperti plastik, kertas, kain dan kaca atau botol.
Setelah dipisah – pisahkan baraang yang masih layak pakai bisa didonasikan, barang yang rusak bisa dijual ke bank sampah. Tanggal 26 September 2025 saya pertama kali ke bank sampah yang bernama Makmur Sejahtera Mandiri yang ada di daerah alun - alun utara. Proses di bank sampah, sampah saya ditimbang berdasarkan jenis, dan berat. Harga masing – masing jenis sampah berbeda, lalu berat nya dicatat sebagai tabungan atau dihitung sebagai uang tunai, dan saya memilih untuk ditabung. Saya diberi buku nasabah sebagai pencatat transaksi setoran sampah, mirip seperti buku tabungan di bank seperti baisanya, saldo awal saya sebesar Rp 11.108,-.
Saya semakin semangat untuk memilah sampah, kali ini saya mengumpulkan sampah yang ada di proyek tempat saya bekerja di bidang jasa konstruksi. Ada kardus – kardus bekas kloset, kardus keramik, kardus – kardus bekas material lainnya, paku – paku yang sudah tidak terpakai, material bekas seperti talang, dan lain – lain. Tidak butuh waktu lama saya mengantarsampah anorganik tersebut ke bank sampah lagi di tanggal 10 Oktober 2025 dan mendapat saldo Rp 17.571
Disana saya sempatkan untuk berbicang dengan para petugas yang ada di sana. Petugas bercerita bahwa bermula dari keluhan warga mengenai lingkungan yang kotor dan sampah yang menumpuk lalu sekelompok ibu rumah tangga memutuskan untuk mencari solusi. Mereka memulai dengan fasilitas minim beberapa karung bekas, timbangan manual dan tempat kecil yang dipinjamkan RT setempat. Namun dari ruang sederhana itulah perubahan besar dimulai. Saat ini warga sekitar ,mengumpulkan sampah anorganik mereka, kardus dan botol yang sebelumnya tercecer kini dikumpulkan dalam karung. Setiap satu minggu sekali di hari Jumat Bank Sampah buka untuk umum. Selain menjadi lebih bersih dan nyaman lingkungan kampung sekitar memiliki nilai ekonomi baru yaitu sampah menghasilkan uang. Konsep Bank Sampah tumbuh dari gagasan bahwa sampah bukanlah barang sisa tak berguna, melainkan material bernilai jika dipisahkan, dikumpulkan dan dikelola dengan benar.
Sampah yang ada di proyek tempat saya bekerja sudah mulai menumpuk, saya bawa lagi ke Bank Sampah yang sama yaitu Bank Sampah Makmur Sejahtera Mandiri di daerah sekitar alun – alun utara Yogyakarta. Kali ini saldo saya Rp 31.107, bukti nyata bahwa sampah benar – benar bisa menghasilkan nilai ekonomi dan ini bukan hanya teori tetapi sudah terbukti.
Cerita pengelolaan material bekas di Bank Sampah menunjukkan bahwa sampah bukan masalah melainkan peluang besar jika dikelola dengan baik. Dari kardus bekas hingga minyak jelantah pun bisa menjadi sumber penghasilan. Sampah bukan sekedar limbah tidak berguna, tetapi bisa menjadi asset ekonomi jika dikelola dengan benar. Dengan memilah sampah, kita tidak hanya membantu menjaga lingkungan tetapi juga mendapatkan manfaat finansial.








0 komentar:
Posting Komentar