PSIKOLOGI INOVASI
ESAI-3 Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi,
ketangguhan, entrepreneurship, ketekunan, peka terhadap perubahan, perencanaan
terhadap perubahan, bersedia jadi suri tauladan
Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA
Mariyatun
23310410074
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
Resiliensi
Merasa sulit bangkit
dari keterpurukan? Setiap orang pasti pernah mengalami. Sudah saatnya membangun
resiliensi pada diri sendiri.
Resiliensi adalah
kemampuan diri untuk beradaptasi dan memilki kekuatan dalam menghadapi ha-hal
buruk yang terjadi dalam hidup kita. Contohnya adalah masalah keuangan,
kehilangan pekerjaan atau berpisah dengan pasangan.
Orang yang mempunyai
Resiliensi yang baik akan mampu mengelola stress dengan baik sehingga risiko
gangguan kecemasan dan depresi bisa dihindari
Cara membangun resiliensi:
1.Berpikir positif dan
optimis. Daripada terus menerus memikirkan hal-hal negative yang bisa semakin
membuat kita merasa cemas dan khawatir lebih baik memcari cara untuk
menyelesaikan masalah. Menghargai pencapain yang kita raih meskipun itu hanya
sedikit akan menumbuhkan rasa syukur yang akan menggeser focus kita pada
kekurangan yang kita miliki.
2.Temukan dan focus pada
tujuan hidup. Memiliki tujuan hidup akan membantu kita lebih focus terhadap
masa depan dan melakukan usaha –usaha untuk mencapai tujuan.
3.Mencoba hal-hal baru.
Mencoba hal baru ataupun memeplajari hal baru yang sebelumnya beum pernah
dilakukan bisa mengembangkan wawasan dalam memcahkan masalah.
4.Kelola stress dengan
baik. Seseorang yang mengalami stress akan lebih mudah mengabaikan kebutuhan
penting yang seharusnya dikerjakan. Misalnya malas berolah raga akan
mengakibatkan rentan sakit secara fisik yang bisa membuat semakin terpuruk.
5.Temuka teman cerita.
Mempunyai seseorang untuk berbagi cerita akan membantu kita memiliki cara
pandang lain yang bisa membantu menyelesaikan masalah.
6.Percaya kepada diri
sendiri. Jangan percaya orang lain. Siapa lagi yang akan percaya untuk membantu
bangkit dari permasalahan kaalau bukan diri kita sendiri. Rasa percaya diri yan
kuat akan membuatmu memiliki resiiensi dan menta kuat.
Dorongan berprestasi
Dorongan berprestasi
adalah keinginan atau tekad untuk berkerja dengan baik atau melampaui standard prestasi.
Standar tersebut bisa berupa prestasi diri di masa lalu (improvement), melebihi
pencapian orang lain (competitiveness), sasaran yang menantang atau sesuatu
yang belum dilakukan orang lain (innovation).
Tingkatan awal dari
dorongan berprestasi adalah Bekerja dengan Baik untuk Mencapai Suatu Target dan
Mencapai Standar Prestasi yang Ditentukan. Pada tahap ini, fokus utama adalah
pada kualitas dan kepatuhan. Individu yang memiliki dorongan ini akan mencoba
bekerja dengan benar dan mengekspresikan ketidakpuasan terhadap
ketidakefisienan.
Setelah standar
terpenuhi, langkah selanjutnya adalah bergerak melampaui kepatuhan menuju
Peningkatan Kinerja. Ini adalah transisi dari reaktif menjadi proaktif.
Individu mulai Memperbaiki sistem atau metode kerja untuk meningkatkan kinerja,
seperti bekerja lebih cepat, lebih efisien, atau dengan biaya yang lebih rendah
Tiga tingkatan tertinggi
mewakili puncak dari dorongan berprestasi dan mentalitas kewirausahaan. Yang
pertama adalah Menetapkan dan Mencapai Sasaran yang Menantang. Ini berarti
individu tidak menunggu target dari perusahaan, melainkan Membuat target untuk
diri sendiri yang melebihi target yang diberikan. Sasaran ini menantang (sulit
dicapai) namun realistis, mendorong diri keluar dari zona nyaman. Hal ini juga
mencakup merealisasikan ide-ide baru yang belum pernah dicoba, menunjukkan
keberanian dalam berinovasi.
Tips membangun
ketangguhan mental
1. Terhubung dengan
Tujuan Hidup
Pilar pertama dalam
membangun ketangguhan mental adalah memiliki tujuan hidup yang jelas dan
terhubung dengannya. Tujuan hidup memberikan makna dalam setiap tantangan yang
dihadapi. Ketika individu tahu mengapa mereka berjuang, alih-alih putus asa
menghadapi kemunduran, mereka akan termotivasi untuk melihat tantangan sebagai
pelajaran berharga dan terus bergerak maju. Tujuan hidup tidak harus
muluk-muluk; dapat dimulai dari hal sederhana seperti membangun support system
yang kuat atau berpartisipasi dalam komunitas. Konsistensi dalam upaya mencapai
tujuan tersebut menumbuhkan rasa keberdayaan, yaitu keyakinan bahwa individu
memiliki kapasitas untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan.
2. Mengembangkan
Pola Pikir Positif
Pilar kedua adalah
mengembangkan dan melatih pola pikir positif. Berpikir positif di sini dimaknai
sebagai kemampuan untuk melihat setiap tantangan dari sisi solutif atau sisi
terangnya. Ini memungkinkan seseorang untuk mengambil kesempatan dan berani
berusaha, alih-alih menyerah karena takut usahanya tidak membuahkan hasil. Pola
pikir ini sangat penting untuk bangkit dari kegagalan, karena ia memaknai
kemunduran hanya sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Meskipun demikian,
bersikap positif bukan berarti mengabaikan perasaan negatif; seseorang tetap
harus menghargai emosi seperti rasa kecewa atau marah. Intinya adalah bagaimana
individu dapat memaknai dan memproses emosi negatif tersebut, sambil
mempertahankan keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi
tantangan yang ada.
3. Menjaga Diri Sendiri
(Self-Love)
Menjaga diri sendiri
atau menekankan self-love adalah pilar ketiga yang kerap terabaikan namun
fundamental. Seseorang yang tangguh secara mental tetap dapat mengalami stres
dan penderitaan. Namun, upaya untuk survive dan menemukan solusi sangat
bergantung pada kondisi fisik yang prima. Ketika stres melanda, mudah bagi
seseorang untuk mengabaikan kebutuhan dasar seperti olahraga teratur, waktu
tidur yang cukup, atau menghargai diri sendiri. Padahal, fisik yang sehat
adalah prasyarat utama untuk memiliki pikiran yang sehat dan jernih. Oleh
karena itu, menginvestasikan waktu untuk merawat diri dan melakukan hal-hal
yang disukai adalah tindakan yang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan,
memastikan individu selalu siap dan memiliki energi untuk menghadapi setiap
tantangan hidup.
4. Memiliki Jaringan
Sosial atau Pertemanan yang Kuat
Pilar terakhir adalah
jaringan sosial yang kuat. Memiliki seseorang yang dipercaya untuk berbagi
masalah atau bercerita sangat penting dalam situasi krisis atau trauma.
Meskipun menceritakan masalah tidak akan menghilangkannya secara ajaib,
manfaatnya sangat besar. Penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial yang
mendukung—meliputi keluarga, teman, dan komunitas—dapat menumbuhkan ketahanan
dan mendukung proses pemulihan seseorang.
https://www.alodokter.com/6-cara-membangun-resiliensi-agar-punya-mental-yang-kuat
https://www.indosdm.com/kamus-kompetensi-dorongan-berprestasi-need-of-achievement

Tidak ada komentar:
Posting Komentar