24.11.25

Esai-3 Psikologi Inovasi Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi, ketangguhan

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI-3 Tips-tips untuk resiliensi, dorongan berprestasi, ketangguhan, entrepreneurship, ketekunan, peka terhadap perubahan, perencanaan terhadap perubahan, bersedia jadi suri tauladan

Dosen Pembimbing: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA





Mariyatun

23310410074

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

 

 

 

 

 

Resiliensi

Merasa sulit bangkit dari keterpurukan? Setiap orang pasti pernah mengalami. Sudah saatnya membangun resiliensi pada diri sendiri.

Resiliensi adalah kemampuan diri untuk beradaptasi dan memilki kekuatan dalam menghadapi ha-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Contohnya adalah masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau berpisah dengan pasangan.

Orang yang mempunyai Resiliensi yang baik akan mampu mengelola stress dengan baik sehingga risiko gangguan kecemasan dan depresi bisa dihindari

Cara membangun resiliensi:

1.Berpikir positif dan optimis. Daripada terus menerus memikirkan hal-hal negative yang bisa semakin membuat kita merasa cemas dan khawatir lebih baik memcari cara untuk menyelesaikan masalah. Menghargai pencapain yang kita raih meskipun itu hanya sedikit akan menumbuhkan rasa syukur yang akan menggeser focus kita pada kekurangan yang kita miliki.

2.Temukan dan focus pada tujuan hidup. Memiliki tujuan hidup akan membantu kita lebih focus terhadap masa depan dan melakukan usaha –usaha untuk mencapai tujuan.

3.Mencoba hal-hal baru. Mencoba hal baru ataupun memeplajari hal baru yang sebelumnya beum pernah dilakukan bisa mengembangkan wawasan dalam memcahkan masalah.

4.Kelola stress dengan baik. Seseorang yang mengalami stress akan lebih mudah mengabaikan kebutuhan penting yang seharusnya dikerjakan. Misalnya malas berolah raga akan mengakibatkan rentan sakit secara fisik yang bisa membuat semakin terpuruk.

5.Temuka teman cerita. Mempunyai seseorang untuk berbagi cerita akan membantu kita memiliki cara pandang lain yang bisa membantu menyelesaikan masalah.

6.Percaya kepada diri sendiri. Jangan percaya orang lain. Siapa lagi yang akan percaya untuk membantu bangkit dari permasalahan kaalau bukan diri kita sendiri. Rasa percaya diri yan kuat akan membuatmu memiliki resiiensi dan menta kuat.

 

Dorongan berprestasi

Dorongan berprestasi adalah keinginan atau tekad untuk berkerja dengan baik atau melampaui standard prestasi. Standar tersebut bisa berupa prestasi diri di masa lalu (improvement), melebihi pencapian orang lain (competitiveness), sasaran yang menantang atau sesuatu yang belum dilakukan orang lain (innovation).

Tingkatan awal dari dorongan berprestasi adalah Bekerja dengan Baik untuk Mencapai Suatu Target dan Mencapai Standar Prestasi yang Ditentukan. Pada tahap ini, fokus utama adalah pada kualitas dan kepatuhan. Individu yang memiliki dorongan ini akan mencoba bekerja dengan benar dan mengekspresikan ketidakpuasan terhadap ketidakefisienan.

Setelah standar terpenuhi, langkah selanjutnya adalah bergerak melampaui kepatuhan menuju Peningkatan Kinerja. Ini adalah transisi dari reaktif menjadi proaktif. Individu mulai Memperbaiki sistem atau metode kerja untuk meningkatkan kinerja, seperti bekerja lebih cepat, lebih efisien, atau dengan biaya yang lebih rendah

Tiga tingkatan tertinggi mewakili puncak dari dorongan berprestasi dan mentalitas kewirausahaan. Yang pertama adalah Menetapkan dan Mencapai Sasaran yang Menantang. Ini berarti individu tidak menunggu target dari perusahaan, melainkan Membuat target untuk diri sendiri yang melebihi target yang diberikan. Sasaran ini menantang (sulit dicapai) namun realistis, mendorong diri keluar dari zona nyaman. Hal ini juga mencakup merealisasikan ide-ide baru yang belum pernah dicoba, menunjukkan keberanian dalam berinovasi.

 

 Tips membangun ketangguhan mental

1. Terhubung dengan Tujuan Hidup

Pilar pertama dalam membangun ketangguhan mental adalah memiliki tujuan hidup yang jelas dan terhubung dengannya. Tujuan hidup memberikan makna dalam setiap tantangan yang dihadapi. Ketika individu tahu mengapa mereka berjuang, alih-alih putus asa menghadapi kemunduran, mereka akan termotivasi untuk melihat tantangan sebagai pelajaran berharga dan terus bergerak maju. Tujuan hidup tidak harus muluk-muluk; dapat dimulai dari hal sederhana seperti membangun support system yang kuat atau berpartisipasi dalam komunitas. Konsistensi dalam upaya mencapai tujuan tersebut menumbuhkan rasa keberdayaan, yaitu keyakinan bahwa individu memiliki kapasitas untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan.

 2. Mengembangkan Pola Pikir Positif

Pilar kedua adalah mengembangkan dan melatih pola pikir positif. Berpikir positif di sini dimaknai sebagai kemampuan untuk melihat setiap tantangan dari sisi solutif atau sisi terangnya. Ini memungkinkan seseorang untuk mengambil kesempatan dan berani berusaha, alih-alih menyerah karena takut usahanya tidak membuahkan hasil. Pola pikir ini sangat penting untuk bangkit dari kegagalan, karena ia memaknai kemunduran hanya sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Meskipun demikian, bersikap positif bukan berarti mengabaikan perasaan negatif; seseorang tetap harus menghargai emosi seperti rasa kecewa atau marah. Intinya adalah bagaimana individu dapat memaknai dan memproses emosi negatif tersebut, sambil mempertahankan keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang ada.

3. Menjaga Diri Sendiri (Self-Love)

Menjaga diri sendiri atau menekankan self-love adalah pilar ketiga yang kerap terabaikan namun fundamental. Seseorang yang tangguh secara mental tetap dapat mengalami stres dan penderitaan. Namun, upaya untuk survive dan menemukan solusi sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima. Ketika stres melanda, mudah bagi seseorang untuk mengabaikan kebutuhan dasar seperti olahraga teratur, waktu tidur yang cukup, atau menghargai diri sendiri. Padahal, fisik yang sehat adalah prasyarat utama untuk memiliki pikiran yang sehat dan jernih. Oleh karena itu, menginvestasikan waktu untuk merawat diri dan melakukan hal-hal yang disukai adalah tindakan yang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, memastikan individu selalu siap dan memiliki energi untuk menghadapi setiap tantangan hidup.

 

4. Memiliki Jaringan Sosial atau Pertemanan yang Kuat

Pilar terakhir adalah jaringan sosial yang kuat. Memiliki seseorang yang dipercaya untuk berbagi masalah atau bercerita sangat penting dalam situasi krisis atau trauma. Meskipun menceritakan masalah tidak akan menghilangkannya secara ajaib, manfaatnya sangat besar. Penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial yang mendukung—meliputi keluarga, teman, dan komunitas—dapat menumbuhkan ketahanan dan mendukung proses pemulihan seseorang. 

 

 https://www.alodokter.com/6-cara-membangun-resiliensi-agar-punya-mental-yang-kuat

https://www.indosdm.com/kamus-kompetensi-dorongan-berprestasi-need-of-achievement

https://www.idntimes.com/life/inspiration/4-tips-membangun-ketangguhan-mental-agar-semangat-menjalani-hidup-01-pwbws-5smth7

 


0 komentar:

Posting Komentar